Di tengah pertempuran itu, mereka melihat ada pergerakan aneh dari wilayah terlarang, sepertinya Xuan Xiao sudah berhasil memecahkan lapisan es dan akan segera keluar dari sana.
Zhi Ying yang teringat pesan terakhir gurunya akhirnya memilih melindungi Meng Li agar bisa pergi dari sana. Dia bahkan bertarung dengan Su Yao demi melindungi Meng Li.
Sebelum pergi, Meng Li sempat memeluk Tian He dan menarik lepas liontin gigi binatang yang dikenakan Tian He. Meng Li pun sempat berpamitan dengan Zhi Ying dan Ling Sha. Tapi sialnya sebelum Meng Li sempat pergi, Xuan Xiao tiba di sana.
Tian He memohon pada Xuan Xiao agar membiarkan Meng Li pergi. Tapi Xuan Xiao tetap menyerang Meng Li dan melukainya dengan Pedang Xi He kemudian melemparkannya ke gerbang sihir dan membuat Meng Li menghilang.
Tian He marah dan ingin memukul Xuan Xiao tapi Xuan Xiao mengatakan bahwa dia harus melakukan ini karena Meng Li adalah Ketua Siluman. Tahu bahwa Tian He sedang diliputi kemarahan, Xuan Xiao melepaskannya dan tidak memperpanjang masalah. Xuan Xiao masih menyimpan rasa sayang pada Tian He dalam hatinya.
Xuan Xiao yang masih berharap tetap berhubungan baik dengan Tian He segera memenuhi janjinya untuk membersihkan nama Yun Tian Qing dan Su Yu. Dia berharap hal itu dapat membuat kemarahan Tian He padanya mereda.
Di hadapan semua orang, Xuan Xiao berkata, “19 tahun yang lalu, Yun Tian Qing dan Su Yu tidak pernah bersekutu dengan Klan Siluman. Mereka pergi meninggalkan sekte Qiong Hoa juga bukan karena berkhianat. Semua yang dituliskan dalam buku sejarah adalah salah. Mulai hari ini, nama Su Yu dan Yun Tian Qing akan masuk dalam Makam Ribuan orang Qiong Hoa. Kalian semua harus menunjukkan rasa hormat. Yun Tian He juga bukan putra pengkhianat. Kalian juga harus memperlakukannya dengan hormat.”
Xuan Xiao masih berharap Yun Tian He untuk tinggal, namun setelah melihat bagaimana Xuan Xiao mengambil nyawa seorang murid dengan begitu mudahnya (karena murid tersebut telah berani menghina Yun Tian Qing dan meragukan perkataan Xuan Xiao), Tian He yang merasa bahwa nyawa manusia sangatlah berharga dan tidak seharusnya dibunuh begitu saja, akhirnya memutuskan untuk pergi.
“Kakak, kau membersihkan nama kedua orang tuaku, Tian He sangat berterima kasih padamu. Tapi kau tidak seharusnya memperlakukan muridmu seperti itu.”
Mendengar Tian He memprotesnya, Xuan Xiao hanya tertawa miris dan berkata dengan nada sedih, “Yun Tian He, hanya kau satu-satunya yang berani bicara seperti itu padaku. Tapi kau harus ingat, mulai hari ini, di sekte Qiong Hoa hanya ada suara Xuan Xiao seorang.”
Kemudian setelah Tetua Qing Yang mengatakan sudah cukup, Xuan Xiao menjawab, “Aku bisa saja tidak menghukum murid itu, tapi bukan demi dirimu, melainkan demi adikku yang baik ini, Tian He.”
Xuan Xiao sepertinya masih mengharapkan Tian He tetap ada di sisinya, bahkan demi Tian He, Xuan Xiao bersedia untuk mengubah sekte Qiong Hoa seperti yang Tian He inginkan. Bahkan termasuk menyelamatkan nyawa Ming Guang, karena Ming Guang muncul lagi di episode berikutnya.
Dalam keputusasaannya agar Tian He tidak meninggalkannya, Xuan Xiao bahkan bersedia memohon, “Tian He, kamu pernah bilang padaku kalau kau tidak menyukai sekte Qiong Hoa, sekarang Kakak bisa mengubah sekte Qiong Hoa menjadi seperti yang kamu sukai. Tinggallah, untuk membantu Kakak.”
Namun sayangnya Tian He yang sudah terlanjur kecewa karena Xuan Xiao telah melukai Meng Li dan melukai Ming Guang, tetap memutuskan untuk pergi.
Tian He berkata, “Sebelum ini, aku tidak ingin tinggal di Sekte Qiong Hoa demi melindungi Meng Li. Sekarang aku lebih tidak ingin tinggal karena dirimu. Aku tidak suka dirimu yang sekarang.”
Xuan Xiao yang tampak terpukul berusaha mengingatkan Tian He pada janjinya, “Kamu lupa kamu pernah berjanji padaku bahwa jika aku membutuhkanmu, kau pasti akan membantuku?”
Tian He menjawab, “Aku tidak lupa. Jika kakak ada kesulitan, Tian He pasti akan membantu. Tapi kamu juga pernah memberitahuku, harus melindungi orang yang dipikirkan dalam hati dan hal yang ingin dilakukan. Jadi sekarang, Tian He punya hal yang lebih penting untuk dilakukan.”
Saat Xuan Xiao bertanya hal apa itu, Tian He dengan tegas menjawab, “Kakak tidak perlu repot-repot mengkhawatirkan urusanku.”
Merasa tidak ada lagi yang bisa dia katakan untuk menahan Tian He, walaupun tak rela, Xuan Xiao tetap membiarkan Tian He pergi.
Tetua Qing Yang mengerti bahwa Xuan Xiao sangat menyayangi Tian He, dia berharap Tian He bisa mengubah Xuan Xiao menjadi pribadi yang lebih baik dan berniat mendamaikan mereka saat kemarahan keduanya sudah mereda, akhirnya membuat akal-akalan untuk menghalangi kepergian Tian He dan meminta pada Xuan Xiao untuk mengijinkan Tian He dan Ling Sha tingga di Lembah Qing Feng bersamanya. Xuan Xiao yang sedang sedih hanya menjawab “terserah” seraya menundukkan kepalanya putus asa.
Di Lembah Qing Feng, Tian He mengutarakan isi hatinya dan kekecewaannya terhadap Xuan Xiao, “Sebelumnya Xuan Xiao di mataku, sama seperti ayahku. Baik hati, jujur, adil, dan selalu mementingkan orang lain. Tapi tadi, dia menyerang Meng Li dengan begitu kejam dan begitu angkuh terhadap para murid. Aku benar-benar tidak tahu sebenarnya Xuan Xiao yang mana, barulah dia yang sebenarnya.”
Tetua Qing Yang berkata bahwa Xuan Xiao yang awalnya baik berubah karena ambisinya yang ingin diakui semua orang. Dia ingin menjadi Ketua Sekte Qiong Hoa, ingin membasmi semua siluman dan ingin menjadi naik Tingkat menjadi Dewa, ambisinya itu akhirnya menimbulkan hasrat, kebencian dan obsesi dalam hatinya.
Tapi Xuan Xiao yang dingin dan kejam itu berubah menjadi memiliki sedikit kehangatan karena Tian He. Tetua Qing Yang berharap Tian He bisa membantu Xuan Xiao melepaskan obsesinya menjadi Dewa.
Namun Tian He tampaknya sudah menyerah dan merasa tak bisa membuat Xuan Xiao melepaskan obsesinya, dan sebaliknya ingin pergi ke Dunia Siluman (Dunia Huanming) untuk mencari Meng Li dengan harapan dapat menghentikan peperangan.
Tetua Zhong Guang akhirnya keluar dari dalam kamarnya dan mengatakan bahwa untuk bisa masuk ke Dunia Huanming, tempat para Siluman berada, Tian He harus mendapatkan Ranting Pengait Roh terlebih dahulu. Karena Ranting Pengait Roh tersebut dapat digunakan sebagai pintu masuk Dunia Huanming.
Tetapi masalahnya, Ranting Pengait Roh tersebut bisa ditemukan di Istana Wuyang di Ibukota Ming. Namun untuk sampai ke Ibukota Ming, mereka harus mendapatkan ijin dari Naga Dewa Xianzhu yang berada di puncak gunung Bu Zhou.
Tetua Qing Yang memberitahu rencana Tian He pada Zhi Ying yang kemudian memutuskan untuk menemani Tian He dan Ling Sha menuju ke sana.
Sebagai ganti pedang Wang Shu yang sudah diambil Su Yao, Zhi Ying menempa pedang milik gurunya dan memperbaiki pedang itu untuk kemudian diberikan pada Tian He. Tian He menerima pedang itu dengan gembira dan memberinya nama Pedang Tian He. Bertiga : Tian He, Ling Sha dan Zhi Ying akhirnya pergi menuju tempat itu untuk mencari Ranting Pengait Roh.
Di sana, mereka bertiga bertemu dengan Naga Dewa Xianzhu di gunung Bu Zhou yang menguji Tian He, jika Tian He bisa menahan serang dari Naga Dewa maka Naga Dewa akan membuka jalan ke Ibukota Ming. Tian He terpaksa mengeluarkan senjata terbarunya yaitu Busur "Kai Yuan Zhi Yue".
Naga Dewa itu kemudian memberitahu Tian He bahwa Busur Ilahi ternyata ada sepasang. Pasangan lainnya yaitu Busur Hou Yi Memanah Matahari yang terletak di Makam Feng Shen. Dan bila Tian He bisa mendapatkannya, baru dia bisa mengalahkan Naga Dewa dan bisa menyembuhkan luka akibat serangan dari Naga Dewa.
Namun karena Tian He telah berhasil menahan serangan dari Naga Dewa Xianzhu, Naga Dewa tetap membukakan jalan untuk Tian He dkk menuju ke Ibukota Ming, tempat di mana para jiwa yang telah meninggal berkumpul sebelum menjalani reinkarnasi.
Di sana, Tian He dkk bertemu dengan hantu wanita Wummian yang dulu pernah membantu mereka di Makam Raja Yunnan. Hantu wanita Wummian itu kemudian mengajak Tian He untuk bertemu jiwa ayahnya yaitu Yun Tian Qing, sementara itu, Ling Sha juga bertemu dengan jiwa kakak sepupunya, Han Ling Xiang yang ternyata sudah meninggal.
Yun Tian Qing kemudian memberitahu kepada Tian He apa yang sebenarnya terjadi 19 tahun yang lalu. Tentang persahabatannya dengan Xuan Xiao, Xuan Xiao yang awalnya adalah pemuda yang baik namun terobsesi menjadi kuat agar tidak ada lagi orang yang bisa menindasnya, lalu pertemuan mereka dengan Su Yu yang merupakan adik seperguruan mereka (Tian Qing dan Xuan Xiao) lalu saat Su Yu terpilih sebagai penguasa Pedang Wang Shu.
Note: Jadi intinya di sini ada cinta segiempat antara Tian Qing, Su Yu, Xuan Xiao dan Su Yao. Su Yao mencintai Xuan Xiao dan berharap bisa menjadi pasangan Pedang ganda bersamanya, tapi ternyata Xuan Xiao mencintai Su Yu yang cantik dan lemah lembut yang kebetulan adalah pasangan pedang ganda Xuan Xiao.
Namun di sisi lain, Su Yu dan Tian Qing saling mencintai hingga menikah dan memiliki anak laki-laki bernama Yun Tian He. Hingga kini pun, Su Yao masih mencintai dan mengharapkan cinta Xuan Xiao namun Xuan Xiao tak pernah sekalipun melirik Su Yao, hatinya telah beku sejak Su Yu pergi dan membawa semua cinta dalam hati Xuan Xiao.
Yun Tian Qing juga menceritakan obsesi dan ambisi Ketua Sekte Qiong Hoa terdahulu yaitu Pendeta Tai Qing untuk menjadi Dewa, dengan menempa kedua Pedang Pusaka : Pedang Xi He dan Pedang Wang Shu.
Namun sebenarnya kedua Pedang tersebut belum sepenuhnya sempurna karena harus mendapatkan kekuatan spiritual dari dua batu ajaib bernama "Yin Yang Zhi Que", namun karena Ketua Tai Qing tidak bisa menemukan "Yin Yang Zhi Que" jadi dia memutuskan untuk membuat pedang dan mencari dua orang yang memiliki tubuh PALING YIN dan PALING YANG, kemudian menggunakan kekuatan spiritual dari Kristal Kecubung yang berada di Dunia Huanming untuk menggantikan kekuatan dari "Yin Yang Zhi Que".
Namun demi ambisinya menjadi Dewa, Pendeta Tai Qing tidak peduli dengan itu semua. Dia tetap memerintahkan murid-murid sekte Qiong Hoa untuk menyerang Dunia Huanming terlebih dahulu dan membunuh semua siluman sementara di bawah sana.
Xuan Xiao dan Su Yu diperintahkan untuk membuat pilar dari kedua Pedang pusaka yang diarahkan ke langit menuju Kristal Kecubung. Tujuannya tentu saja untuk menyerap kekuatan Kristal Kecubung agar masuk ke dalam kedua pedang itu.
Jika kedua pedang itu berhasil menyerap kekuatan Kristal Kecubung maka kekuatan Pedang itu bisa mengangkat semua orang di sekte Qiong Hoa yang memiliki kekuatan kultivasi tinggi menjadi Dewa, namun murid-murid dengan kekuatan rendah akan berakhir menemui ajal karena tidak sanggup menahan kekuatan pedang.
Su Yu (Ibu Tian He) yang tak sengaja mendengar rencana busuk ini memutuskan untuk menarik pedang, karena dia tidak ingin melihat lebih banyak lagi kehancuran. Yun Tian Qing pun kembali dari Dunia Huanming dengan membawa bayi Meng Li dan mengajak Su Yu pergi dari sana dengan membawa pedang Wang Shu bersama dengan mereka.
Setidaknya tanpa bantuan dari pedang Wang Shu, sekte Qiong Hoa tidak akan bisa menyerang Dunia Huanming dan menyerap kekuatan Kristal Kecubung. Untuk sementara perang bisa dihindari. Kemudian Yun Tian Qing menyerahkan bayi Meng Li kepada suami istri Liu di kota Shou Yang, untuk menjadi pengganti dari putri mereka yang meninggal karena dibunuh oleh siluman.
Mendengar penjelasan dari sang ayah, Tian He menyadari bahwa sebenarnya sekte Qiong Hoa-lah yang bersalah dalam hal ini, karena merekalah yang terlebih dahulu memulai penyerangan. Klan Siluman saat itu hanya berusaha mempertahankan diri dan mempertahankan Kristal Kecubung milik mereka.
Pendeta Tai Qing dan keserakahannya lah yang telah menghancurkan Qiong Hoa dan membuat 3000 nyawa murid Qiong Hoa mati sia-sia.
Yun Tian Qing kemudian membawa Su Yu pergi menyendiri ke puncak Qing Luan dan membuat perisai penghalang untuk melindungi wilayah itu.
Kemudian Tetua Zhong Lian datang menemui mereka untuk menyampaikan berita tentang Xuan Xiao yang disegel dalam lapisan es dan juga memberikan sebuah buku catatan mengenai tata cara menempa pedang, rahasia dua batu Yin Yang Zhi Que dan di mana menemukannya, serta cara menghancurkan Pedang Wang Shu dan Pedang Xi He.
Yun Tian Qing kemudian pergi mencari dua batu ajaib bernama "Yin Yang Zhi Que" itu, namun setelah menemukannya dan kembali, dia bertemu dengan dua orang misterius (kita asumsikan dua orang misterius itu adalah Malaikat Hitam dan Putih alias Malaikat Pencabut Nyawa aja, ya).
Dengan sangat terpaksa, atas permintaan sang istri, Yun Tian Qing akhirnya memasukkan kekuatan spiritual "Yin Yang Zhi Que" ke dalam tubuh bayi Yun Tian He. Bagaimanapun juga sebagai seorang Ibu, tentu Su Yu tidak tega melihat putranya meninggal sementara dirinya tetap hidup. Lebih baik dirinya yang mati daripada putranya yang tidak bersalah, apalagi Yun Tian He adalah seorang penerus.
Inilah yang membuat Yun Tian He menjadi sangat kuat sejak di episode pertama, bahkan sebelum dia masuk ke sekte Qiong Hoa dan belajar ilmu pedang dan kultivasi. Juga inilah alasan yang membuat Yun Tian He mampu mengangkat kedua pedang pusaka : Pedang Xi He dan Pedang Wang Shu secara bersamaan, walaupun dia bukan penguasa kedua pedang tersebut.
Setelah kematian Su Yu, Yun Tian Qing meletakkan Sisik Kun di Gua Shi Chen Xi agar jasadnya tidak membusuk. Namun karena sekarang, Yun Tian He telah mengambil Sisik itu dari sana, maka jasad Yun Tian Qing dan Su Yu juga tentu akan kembali menjadi tanah.
Yun Tian Qing juga meminta maaf pada Tian He, karena sebagai Ayah, dia selalu memperlakukan putranya dengan keras dan memarahinya. Itu karena dulu Tian Qing berpikir bahwa Tian He adalah penyebab kematian sang Ibu.
Namun kini Tian Qing menyadari bahwa sebagai seorang anak, Tian He lebih membutuhkan kasih sayang ibunya melebihi dia sendiri yang selalu merindukan sang istri. Tian He yang paling menderita di sini karena diabaikan oleh ayahnya dan ditinggal mati oleh ibunya. Tian He yang baik hati tentu saja memaafkan sang ayah.
Namun sayang saat Tian Qing akan mengatakan siapa penguasa Wang Shu yang baru sebenarnya dan rahasia besar di balik "Yin Yang Zhi Que", dirinya sudah ketahuan hingga membuat jiwanya langsung menghilang sebelum sempat mengatakannya.
Setelah mendengar kebenarannya, Zhi Ying tentu saja tidak percaya. Dia ingin bertanya langsung pada Ketua Sekte Su Yao mengenai hal tersebut. Tian He yang takut Zhi Ying akan mengalami kesulitan, segera menyusulnya. Tian He sempat tidak diijinkan masuk namun Huai Shuo berkata bahwa Xuan Xiao memberi pesan bila Yun Tian He ingin kembali, siapa pun tidak berhak melarang.
Tian He berkata bahwa selain mengkhawatirkan Zhi Ying, dia juga ingin bertemu dengan Xuan Xiao. Su Yao berkata bila Tian He ingin menemui Xuan Xiao, dia diijinkan menemuinya. Sebelum pergi mencari Xuan Xiao, Tian He meminta Su Yao agar tidak mempersulit Zhi Ying nantinya.
Sementara Zhi Ying meminta penjelasan, Tian He pergi menemui Xuan Xiao dan berusaha membujuknya agar menghentikan perang agar tragedi 19 tahun yang lalu tidak terulang dan tidak ada lagi korban yang berjatuhan.
Xuan Xiao lalu berkata kenapa Tian He tidak bertanya padanya kenapa Xuan Xiao ingin menjadi Dewa? Kemudian Xuan Xiao menceritakan tentang masa kecilnya yang suram.
Saat usia delapan tahun, desa tempatnya dan orangtuanya tinggal dilanda kekeringan panjang, kemudian seorang peramal datang dan mengatakan bahwa Xuan Xiao adalah reinkarnasi dari Monster Kekeringan dan harus membunuhnya bila ingin kekeringan itu berhenti dan menyelamatkan banyak orang.
Tidak disangka malam itu, setelah kedatangan peramal itu, terjadi kebakaran besar akibat dari kekeringan panjang yang hampir melahap habis seluruh desa dan mengubahnya menjadi reruntuhan.
Namun seluruh penduduk desa menuduh Xuan Xiao kecil sebagai orang yang telah menyalakan api dan membakar desa mereka lalu menuntut orangtua Xuan Xiao untuk menguburnya hidup-hidup.
Xuan Xiao yang selama ini menganggap mereka keluarga sangat kecewa karena tidak ada seorangpun yang melindunginya. Pada akhirnya, Ayah Xuan Xiao sendiri yang memasukkan Xuan Xiao kecil ke dalam peti mati kayu, berniat menguburnya hidup-hidup. Hingga kini, Xuan Xiao bahkan masih bisa mendengar suara sang ayah yang memaku peti matinya.
Note : Xuan Xiao tidak mengatakan bagaimana dia bisa selamat namun melihat dari rekan-rekan seperguruannya yang menuduh tangan Xuan Xiao telah berlumur darah orangtuanya, sepertinya Xuan Xiao berhasil melarikan diri sebelum peti matinya tertutup sepenuhnya, kemudian dia tak sengaja membunuh orangtuanya demi mempertahankan dirinya.
Itu sebabnya Xuan Xiao tidak pernah percaya pada orang lain. Pernah sekali dia percaya pada Yun Tian Qing dan Su Yu, namun mereka pun meninggalkan Xuan Xiao sendiri demi Klan Siluman. Sejak saat itu Xuan Xiao bersumpah “lebih baik aku yang mengecewakan orang daripada aku yang dikecewakan orang”.
Walau Tian He sudah mendengar kisah masa kecil Xuan Xiao yang menyedihkan, dia tetap berharap Xuan Xiao bisa menghentikan perang. Namun sayangnya, Xuan Xiao sudah bertekad bulat pada rencana awalnya.
Dengan sedih, Xuan Xiao berkata, “Yun Tian He, kau adalah orang kedua setelah Yun Tian Qing yang kuperlakukan dengan tulus, sifat kita sama, hanya saja kebutuhan kita berbeda. Kita berpisah di sini saja. Aku berharap, aku tidak bertemu denganmu lagi di tengah peperangan.”
Walau begitu, Xuan Xiao tetap menganggap Tian He adiknya, dia tidak marah ataupun berniat menyakiti Tian He, hanya berharap agar Tian He tidak menghalangi mencapai tujuan akhirnya.
Terbukti demi Tian He, Xuan Xiao berusaha menyelamatkan Zhi Ying yang saat itu akan dihukum oleh Su Yao
Xuan Xiao berdalih, “Mengingat jasa Murong Zhi Ying mencari senjata dingin untukku, dia diusir dari Sekte. Bukankah kamu selalu ingin melindungi makhluk hidup? Pergilah ke taman Ji Xian menjadi tukang sapu.”
Walaupun kalimat Xuan Xiao terdengar dingin dan merendahkan, namun sebenarnya dibalik kalimat itu, Xuan Xiao memutuskan untuk melepaskan Murong Zhi Ying dan mengampuninya, demi Yun Tian He. Dengan begitu, Zhi Ying tidak akan dihukum mati atau dihilangkan ilmunya oleh Su Yao.
Melepaskan Tian He dan Zhi Ying adalah wujud kasih sayangnya kepada Tian He.
Bersambung...
Sebelumnya =>
Ep 1 -13Ep 14 – 23Ep 24 – 29Selanjutnya =>
Ep 33Ep 34
Ep 35
Ep 36