Tampilkan postingan dengan label Drama China. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Drama China. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Oktober 2026

(Sinopsis and review) Duel on Mount Hua : Nine Yin True Sutra, si cantik Mei Chao Feng yang bernasib tragis.

Setelah sukses memerankan karakter Mu Nian Chi (Bok Liam Chu) dalam serial legendaris "The Legend Of The Condor Heroes 2017", aktris cantik asal China, Meng Zhi Yi (孟子义) kembali diundang untuk membintangi versi adaptasi terbaru serial "Pendekar Pemanah Rajawali" tersebut, namun kali ini dia berperan sebagai Mei Chao Feng.

Selain versi terbaru "The Legend Of The Condor Heroes" atau yang lebih dikenal publik sebagai "The Legend Of Heroes 2024" yang tetap fokus pada kisah Guo Jing dan Huang Rong, pihak rumah produksi juga telah membuat prekuel untuk serial wuxia legendaris tersebut yang menceritakan tentang masa lalu Mei Chao Feng sebelum menjadi murid si Sesat Timur, Huang Yao Shi (Oey Yok Shu).


Dalam drama prekuel berjudul "Duel on Mount Hua" tersebut, 8 episode di antaranya yaitu "Duel on Mount Hua - Nine Yin True Sutra" bercerita tentang masa lalu Mei Chao Feng (梅超風) yang saat itu masih bernama Mei Ruo Hua (梅若華). Dalam serial ini, Mei Chao Feng bukan lagi pemeran pendukung antagonis seperti dalam "The Legend Of The Condor Heroes" pada umumnya.

Dalam serial pendek ini, Mei Chao Feng (bernama asli Mei Ruo Hua) adalah seorang putri saudagar kaya yang menjadi yatim piatu karena tragedi keluarga sebelum diselamatkan oleh Huang Yao Shi dan menjadi murid ketiga di Pulau Bunga Persik.

Berbeda dari adaptasi lama yang sering menggambarkan tokoh ini secara kaku atau menyeramkan sejak awal, versi Meng Zhi Yi dipuji karena menampilkan sisi "cantik, kuat, namun bernasib tragis" dengan visual yang menawan dan kisah yang emosional.

Serial pendek berjumlah 8 episode ini berfokus pada perjalanan emosional, kisah cinta tragis dengan kakak seperguruannya, Chen Xuan Feng (diperankan oleh He Yu), hingga motif dibalik pencurian Kitab Sembilan Bulan (Nine Yin Manual/九陰白骨爪]).


Sinopsis dan Review:
Pemeran:
Meng Zhi Yi sebagai Mei Chao Feng.
He Yu sebagai Chen Xuan Feng.
Zhou Yi Wei sebagai Huang Yao Shi.
Chen Du Ling sebagai Feng Heng.
Li Dong Heng sebagai Qiu Yun Hai.
Dai Xiang Yu sebagai Qu Ling Feng.
Ye Zu Xin sebagai Lu Cheng Feng.
Xie Hong Xin sebagai Wu Mian Feng.
Ji Chen sebagai Xue Qing Yi.

Sinopsis Lengkap:
Dikisahkan, Keluarga Mei adalah keluarga pedagang kaya yang sedang berjaya. Putri mereka, Mei Ruo Hua, tumbuh dengan penuh kemewahan dan kasih sayang dari kedua orangtuanya. Pada suatu hari, di hari ulang tahun Mei Ruo Hua, ayahnya membawa pulang seorang manajer bisnis baru keluarga, bernama Qiu Yun Hai, yang selama ini telah memperluas bisnis Keluarga Mei secara signifikan.

Namun tidak seorangpun yang menyangka jika ternyata Qiu Yun Hai memiliki niat jahat terhadap keluarga Mei. Dia ingin memiliki seluruh kekayaan keluarga Mei untuk dirinya sendiri. Di malam festival, dia membantai seluruh Keluarga Mei, menyisakan hanya seorang Mei Ruo Hua kecil yang dijual ke rumah bordil. Sejak saat itu, selama sepuluh tahun, Mei Ruo Hua menjalani hidup sebagai wanita penghibur.

Suatu hari, nyonya pemilik rumah bordil membawanya ke ruangan pribadi untuk melayani seorang tamu istimewa. Siapa sangka tamu istimewa tersebut adalah Qiu Yun Hai, pria keji yang telah menghancurkan keluarganya?


Sialnya, Qiu Yun Hai pun juga mengenali Mei Ruo Hua. Tapi bukannya merasa bersalah atau menyesal, dia justru menawarkan Mei Ruo Hua pada anak buahnya. Mei Ruo Hua yang dipenuhi amarah membunuh bawahan Qiu Yun Hai, kemudian melarikan diri hingga ke dalam hutan.

Anak buah Qiu Yun Hai yang mengetahui perbuatannya mengejar Mei Ruo Hua dan hampir berhasil menangkapnya, hanya untuk kemudian dihalangi oleh Huang Yao Shi yang kebetulan berada di area itu.

Setelah diselamatkan, Mei Ruo Hua mengajukan diri menjadi murid Huang Yao Shi. Namun, Huang Yao Shi menolak dan hanya mengajarkan tiga teknik padanya. Mei Ruo Hua yang dipenuhi oleh amarah balas dendam mempelajari teknik itu dengan cepat.

Tak lama kemudian, ia kembali mencari Qiu Yun Hai untuk membalas dendam. Namun, anak buah Qiu Yun Hai lebih berpengalaman dan tiga teknik yang diajarkan oleh Huang Yao Shi tidaklah cukup, Mei Ruo Hua pun sekali lagi dikalahkan dengan cepat. Namun kali ini Mei Ruo Hua diselamatkan oleh Feng Heng (istri Huang Yao Shi dan Ibu Huang Rong) yang kebetulan lewat bersama pelayannya dari Pulau Bunga Persik bernama Honggu.


Feng Heng diceritakan menderita semacam racun Yin atau racun dingin, sehingga Huang Yao Shi selalu menggunakan tenaga dalam untuk menekan racun itu, masalahnya tanpa sepengetahuan Feng Heng, racun tersebut menyerang Huang Yao Shi setiap kali Huang Yao Shi mencoba menyembuhkan istrinya, hingga membuatnya selalu dalam kondisi terluka berat akibat reaksi balik racun tersebut.

Singkat cerita, Qiu Yun Hai dan anak buahnya yang melihat Huang Yao Shi terluka berat, memutuskan untuk menyerang mereka yang sedang menginap di sebuah penginapan. Huang Yao Shi memaksakan diri untuk memamerkan tenaga dalam dan membuat para penjahat tersebut ketakutan. Barulah kemudian Huang Yao Shi bersama istri dan pelayan mereka, membawa Mei Ruo Hua kembali ke Pulau Bunga Persik. 

Karena bujukan Feng Heng pula, Huang Yao Shi akhirnya mau menerima Mei Chao Feng sebagai murid. Di pulau terpencil itu, Mei Ruo Hua berkenalan dengan saudara seperguruannya, yakni Qu Ling Feng, Chen Xuan Feng, Lu Cheng Feng, dan Wu Mian Feng. Huang Yao Shi kemudian mengubah nama Mei Ruo Hua menjadi Mei Chao Feng. Sejak saat itu, hidupnya berubah. Ia belajar bela diri dengan tekad untuk balas dendam.

Meski Feng Heng dan gurunya memintanya untuk melupakan masa lalu dan memulai hidup baru, Mei Ruo Hua tidak bisa menghilangkan dendam di hatinya begitu saja. Ia semakin rajin berlatih. Setelah keluarganya dibantai, tujuan hidupnya hanyalah untuk membunuh Qiu Yun Hai. Selama tinggal di sana dan setelah banyaknya interaksi dengan Chen Xuan Feng, keduanya mulai jatuh cinta.

Namun sayangnya, karena dibutakan oleh dendam pribadinya, Mei Chao Feng yang ingin menjadi pesilat terhebat dan salah paham terhadap gurunya (karena mengira gurunya tidak mau mengajarinya ilmu terhebat), memutuskan untuk mencuri Kitab Sembilan Bulan (Nine Yin Manual).


Dibantu dan ditemani oleh kekasih sekaligus kakak seperguruannya (yang kelak jadi suaminya), Chen Xuan Feng, mereka  mencuri Kitab Sembilan Bulan milik guru mereka, kemudian melarikan diri meninggalkan Pulau Bunga Persik untuk mencari Qiu Yun Hai.

Mei Chao Feng dan Chen Xuan Feng tidak menyadari bahwa Kitab tersebut hanyalah jilid pertama dan mempelajari hanya satu jilid saja tak hanya mencelakai diri sendiri namun juga mencelakai orang-orang di sekitar mereka. Lewat kitab tersebut, Mei Chao Feng berhasil menguasai ilmu "Cakar Tengkorak Putih Sembilan Yin" yang membuatnya serta Chen Xuan Feng dijuluki sebagai "Iblis Kembar Angin Hitam". Namun hubungan mereka penuh tragedi dan takdir yang tak berpihak.

Pada episode terakhir, dendam Mei Chao Feng akhirnya terbalaskan setelah dia, dibantu oleh Chen Xuan Feng berhasil membunuh Qiu Yun Hai sekaligus membantai seluruh anggota klannya beserta seluruh keluarga Qiu Yun Hai seperti saat pria itu dulu membantai dan menghancurkan keluarganya.

Namun walau begitu, bukan berarti Mei Chao Feng akan hidup bahagia selamanya setelah berhasil membunuh pembunuh keluarganya. Sebaliknya, kebahagiaan sepertinya menjadi sesuatu yang sangat mustahil untuk Mei Chao Feng. Mei Chao Feng tidak pernah ditakdirkan untuk bahagia. Kisah tragis Mei Chao Feng terus berlanjut hingga kematian sang suami tercinta, Chen Xuan Feng.


Sepasang kekasih itu hanya merasakan saat-saat bahagia dalam waktu singkat. Setelah memutuskan hubungan dengan semua saudara seperguruannya yang sangat kecewa padanya, dan diusir dari perguruan oleh gurunya, Mei Chao Feng dan Chen Xuan Feng berkelana hingga ke daratan Mongolia. Sialnya di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan kakak beradik, Ke Bi Xie (Naga Terbang) dan Ke Zhen Er (Kelelawar Terbang) sehingga mengakibatkan tewasnya Ke Bi Xie dan mata Ke Zhen Er menjadi buta.

Pertarungan inilah yang membuat Ke Zhen Er yang kelak menjadi Ketua Tujuh Pendekar Jiang Nan (guru Guo Jing) sangat dendam pada Mei Chao Feng, hingga berujung pada tewasnya Chen Xuan Feng saat kedua belah pihak bertemu lagi di puncak gunung Mongolia.

Akhir kisah dari serial "Duel on Mount Hua: Nine Yin True Sutra" ditutup dengan tragis dengan tewasnya Chen Xuan Feng yang tertusuk oleh Guo Jing kecil saat Guo Jing kecil yang saat itu dijadikan sandera. Karena panik dan ketakutan, Guo Jing kecil menikam Chen Xuan Feng, dia menghujamkan belatinya ke bagian pusar, area yang merupakan kelemahan dari Chen Xuan Feng. 

Mei Chao Feng yang sudah terluka dan kehilangan penglihatannya (buta) tidak mengetahui bahwa suaminya sudah ditikam oleh seorang anak kecil. Dia baru mengetahui kalau suaminya terluka parah saat Xuan Feng mengerahkan tenaga terakhirnya untuk menyuruh Mei Chao Feng pergi. Sedih dan terluka parah, Mei Chao Feng akhirnya membawa tubuh suaminya yang terluka parah pergi dari sana.


Sebelum meninggal Chen Xuan Feng berpesan pada Mei Chao Feng agar berlatih dengan giat agar tidak ada seorangpun yang menindasnya di kemudian hari, karena mulai saat ini, tidak akan ada dia lagi yang akan melindungi Mei Chao Feng. Chen Xuan Feng juga memberitahu Mei Chao Feng tentang kitab Sembilan Bulan yang ditulis di dadanya. Kemudian Mei Chao Feng dengan berlinang air mata, berusaha mengupas kulit dada suaminya yang memang ditato dengan ilmu Jiu Ying Zhen Jing yang dicuri mereka.

Sepeninggal Chen Xuan Feng, Mei Chao Feng harus menelan pil pahit hidup dalam kesendirian sepanjang sisa hidupnya dan hidup dalam penyesalan serta dendam atas kematian suaminya, melanjutkan kisahnya sebagai "
Iblis Kembar Angin Hitam" yang kejam dan ditakuti oleh semua orang di dunia persilatan di serial utama "The Legend of Heroes 2024".

Review:
1. Karakter.
A. Meng Zhi Yi sebagai Mei Chao Feng.
Secara visual, tidak diragukan lagi kalau Meng Zhi Yi adalah Mei Chao Feng tercantik sepanjang masa. Selama ini faktanya, semua pemeran Mei Chao Feng pasti digambarkan "mengerikan" dengan model rambut awut-awutan kayak Mak Lampir, kebanyakan gak disisir, dan diperankan oleh wanita setengah baya.


Mei Chao Feng yang lumayan cantik hanya versi 2017. Tapi setelah Meng Zhi Yi muncul, yang versi 2017 seketika kehilangan pamornya. Meng Zhi Yi lebih cetar membahana. Apalah daya aku penggemar visual, jadi sudah tentu aku tertarik dengan wajah tampan atau cantik.

Soal karakter, Mei Chao Feng versi muda digambarkan sangat menyedihkan dan tragis, hingga membuatku secara sadar atau tidak sadar berpihak padanya. Meng Zhi Yi membawakan karakter Mei Chao Feng dengan sangat baik. Dia berbeda dengan Mei Chao Feng lain yang hanya menunjukkan sisi antagonisnya, Mei Chao Feng versi Meng Zhi Yi juga menunjukkan kerapuhan, keputusasaan dan ketidakberdayaan seorang gadis muda. Bisa dimaklumi karena ini memang kisah masa mudanya Mei Chao Feng sih. 


2. He Yu sebagai Chen Xuan Feng.
Secara visual, maaf nih, He Yu kurang ganteng. Banyak aktor China yang lebih ganteng dari dia. Aku membayangkan Chen Xuan Feng ganteng banget dan gagah, ya minimal mirip William Yang gitulah. Tapi ini standar aja. Karakter Chen Xuan Feng pun kurang menonjol ya, entahlah, seperti ada sesuatu yang kurang.

Dia seperti terbayangi oleh Mei Chao Feng dan terkesan seperti dayang-dayang aja, bukan pasangan atau kekasih Mei Chao Feng. Harusnya sebagai pasangan "Iblis Kembar Angin Hitam", He Yu bisa menampilkan Chen Xuan Feng yang gagah dan sedikit garang serta berwibawa, biar cocok sama julukannya. Tapi ini B aja.


Tapi harus diakui sih, dari sisi visual, di versi 2024 ini masih kalah dengan versi 2017 yang bertabur serbuk berlian. Selain pemeran Ou Yang Khe 2017 dan Ke Zhen Er yang biasa aja, sisanya termasuk guru ketujuh Guo Jing dan ibunda Guo Jing pun good looking semua. Apalagi Huang Yao Shi 2017 (Michael Miu) gak diragukan lagi visualnya. Versi 2024 berasa downgrade kalau dibandingkan dengan versi 2017.

3. Zhou Yi Wei sebagai Huang Yao Shi.
Secara visual, kebanting banget sama Michael Miu yang berperan sebagai Huang Yao Shi 2017. Downgrade banget nonton Huang Yao Shi. Uda gitu karakternya keliatan letoy banget. Sesat Timur itu harusnya garang dan sangar loh, lah ini kok kayak letoy gitu yang main? Gak keliatan pinter mukaknya.

Huang Yao Shi itu pinter loh, tapi kok aku gak melihat aura pintar dari wajah pemainnya? Aku juga tidak melihat kesangaran khas Sesat Timur. Untuk Huang Yao Shi, versi 1983 dan versi 2017 tetap yang terbaik. Sangar dan garangnya dapet, sesuai dengan julukannya si "
Sesat Timur".

Untuk versi 2024 ini baik karakter dan visual, semuanya berasa tidak pada tempatnya. Singkat kata, gak cocok. Membuatku ingin berkata, "
Tolong bawa Michael Miu kembali!"

4. Chen Du Ling sebagai Feng Heng.
Secara visual, sangat cantik. Cocok banget jadi ibunya Huang Rong. Apalagi Huang Rong-nya Bao Shang En yang juga sangat cantik. Ini baru cocok dengan ceritanya. Sepasang ibu dan anak yang sangat cantik. Pemeran ceweknya bertabur berlian semua tapi kok pemeran cowoknya mengecewakan semua ya? Sayang banget. Ngeliat pasangan Huang Yao Shi dan Feng Heng, berasa kayak liat "The Beauty and The Beast".


Cocoknya Chen Du Ling ini berpasangan dengan Huang Yao Shi versi Michael Miu. Serasi banget pasti. Cantik dan gagah, sesuai dengan penggambaran karakter dalam novelnya. Tapi yasudahlah, tak ada sesuatu pun di dunia ini yang sempurna. Kalau cowoknya ganteng, pasti ceweknya jelek dan kalau cowoknya jelek, pasti ceweknya cantik. Uda hukum alam kayaknya ya *sigh*

Karakternya juga cocok. Feng Heng sabar, kalem, pintar dan bijaksana. Pas dengan penggambaran novel tentang ibunda Huang Rong. Sayang banget wanita secantik Feng Heng harus diceritakan meninggal karena melahirkan.

2. Alur Cerita.
A. Balas Dendam membawa bencana.
Karakter Mei Chao Feng dalam drama ini bisa dibilang seperti "Orang baik yang berubah jadi jahat karena disakiti". Walaupun harus diakui kalau kisah Mei Chao Feng di sini sangat tragis, tapi aku tetap bingung harus berkomentar apa. Seharusnya salah tapi juga benar, seharusnya benar tapi juga salah. Bingung sendiri jadinya.

Jika dilihat dari sudut pandang Mei Chao Feng, melihat ayah ibu serta seluruh keluarganya dibantai dengan keji tepat di depan matanya, memang sangat wajar jika dia merasa marah dan ingin membalas dendam. Sangat wajar jika dia ingin membunuh orang yang telah membunuh keluarganya. Sebagai manusia, itu sangat wajar. Siapa coba yang gak sakit hati dan dendam, ya kan?

Tapi kalau membalas kejahatan dengan kejahatan, bukankah siklusnya akan terus berulang? Dendam gak akan ada habisnya. Itu seperti lingkaran setan. Lihat apa yang terjadi setelah Mei Chao Feng membalas dendam!


Demi membalaskan dendamnya, Mei Chao Feng harus rela kehilangan "rumah barunya" (Pulau Bunga Persik), kehilangan "keluarga barunya" (guru, ibu guru dan saudara-saudara seperguruannya yang menyayanginya), dan juga kehilangan suami yang dicintainya.

Andaikan Mei Chao Feng tidak membalaskan dendamnya dan memilih melepaskan dendamnya (seperti saran Feng Heng dan Huang Yao Shi), dia tidak perlu mencuri kitab Sembilan Bulan demi menjadi yang terhebat, kemudian akibatnya diusir, dibenci orang karena belajar ilmu sesat lalu kehilangan keluarga barunya, rumah barunya dan bahkan kehilangan suaminya.

Jika semua itu tidak terjadi, mungkin Mei Chao Feng bahkan bisa menikah lalu hidup bahagia dan damai bersama Chen Xuan Feng di Pulau Bunga Persik sampai tua, gak perlu jadi penjahat kejam dan keji akibat belajar ilmu sesat, juga gak akan kesepian dan sendirian sepanjang hidupnya setelah Chen Xuan Feng meninggal.

Pesan moral dari serial ini mungkin untuk mengingatkan kita bahwa harga dari sebuah dendam itu sangatlah mahal. Dan begitu harga itu ditetapkan, tidak ada jalan untuk kembali dan kita harus bersiap untuk kehilangan lebih banyak. Pada akhirnya, walau dendamnya terbalas, Mei Chao Feng tetap tidak mendapatkan apa-apa.


B. Karakter Pembawa Sial.
Oh ya, sebenarnya aku juga kurang suka dengan karakter Ke Zhen Er, bahkan sejak dalam "The Legend Of The Condor Heroes" aku gak suka karakternya. Si kakek buta ini bener-bener bukan hanya buta mata tapi juga buta hati.

Dalam LOCH, dia sejak awal gak suka Huang Rong dan dengan seenaknya ngatain Huang Rong "Iblis Kecil (Xiao Yao Nu)" padahal Huang Rong selalu baik dan hormat sama guru-gurunya Guo Jing, selalu ngebantuin kalau mereka dalam bahaya, eh tapi si tua kolot ini selalu menutup mata dan hatinya. Huang Rong juga selalu membantu Guo Jing keluar dari segala macam masalah dengan akal liciknya, kalau bukan karena Huang Rong, Guo Jing uda mati berkali-kali dalam novelnya. 

Lebih benci lagi waktu kelima Pendekar Jiang Nan dibunuh oleh Yang Kang dan Ou Yang Feng di Pulau Bunga Persik, tanpa menyelidiki lebih dulu kebenarannya, Ke Zhen Er seenak udel memfitnah Huang Yao Shi dan maksa Guo Jing putus dari Huang Rong. Bikin kesel aja gitu! Dia yang paling tua, tapi malah paling gak bijaksana, paling suka memaksakan pendapatnya, dan paling merasa benar sendiri.


Dalam serial ini pun, Ke Zhen Er masih jadi yang paling menyebalkan. Mei Chao Feng dan Chen Xuan Feng lagi duduk-duduk santai sayang-sayangan di depan api unggun, ngapain juga tiba-tiba diserang? Giliran kakaknya, Ke Bixie (柯辟邪) yang dijuluki sebagai "飛天神龍" (Fēitiān Shénlóng) atau "Divine Dragon Soaring Through the Sky" alias "Naga Terbang", tewas di tangan "Iblis Kembar Angin Hitam" (Mei Chao Feng dan Chen Xuan Feng) dan mata Ke Zhen Er sendiri jadi buta, eh dia malah dendam. Siapa suruh situ nyerang duluan? Kurang kerjaan?

Udah gitu saat di gunung Mongolia, keenam Pendekar Jiang Nan mengusulkan agar mereka pergi diam-diam aja, gak ganggu Mei Chao Feng, toh mereka juga gak digangguin kan sebelumnya, bahkan keenam orang lainnya aja sebelumnya gak tahu soal Mei Chao Feng. Eh, si kakek buta ini malah ngedrama dan bersikap sok pahlawan dan bilang yang intinya, "Kakakku tewas dibunuh Mei Chao Feng, jadi aku harus balas dendam. Gpp kok kalian pergi aja, biarin aku mati sendirian demi membalaskan dendam kakakku."

Karena ucapan Ke Zhen Er inilah, keenam Pendekar Jiang Nan yang setia kawan akhirnya pun memutuskan untuk tinggal dan mati bersama. Begitu giliran ada yang mati beneran, eh si kakek buta dendam lagi dan akhirnya mengakibatkan siklus dendam yang tak ada habisnya seperti lingkaran setan! Ini gara-gara elo, tahu! Coba elo gak sok-sok'an bilang gitu, gak mungkin kan Pendekar Jiang Nan ada yang mati satu! Gak mungkin juga Chen Xuan Feng mati!

Apalagi Mei Chao Feng dan Chen Xuan Feng dalam versi ini cuma mau pergi berkencan romantis di atas gunung, eh malah dirusak sama Ke Zhen Er hingga berujung pada tragedi. Ini salahmu, Kakek Tua! Sebel banget sama nih kakek egois satu!

3. Kisah Mei Chao Feng: Canon Atau Fanfic?
Aku mendengar bisik-bisik tetangga di Weibo, ada yang bilang kalau alur cerita tentang masa muda Mei Chao Feng ini adalah murni karangan penggemar alias Fanfiction. Seingetku sih bener sih ya, karena sebagai penggemar "
The Legend Of The Condor Heroes" yang bahkan aku punya novelnya dan uda baca berulang-ulang, aku memang gak pernah baca ada bagian dari novel yang menceritakan kisah hidup Mei Chao Feng muda.


Adegan pertama Mei Chao Feng dalam novel adalah saat dia dan Chen Xuan Feng terlibat pertarungan dengan Tujuh Pendekar Jiang Nan di atas gunung tinggi di Mongolia sewaktu Guo Jing masih kecil. Lalu kemudian, Chen Xuan Feng terbunuh secara tak sengaja oleh Guo Jing kecil.

Setelah itu barulah diceritakan kalau mereka berdua adalah murid dari Sesat Timur, Huang Yao Shi dari Pulau Bunga Persik yang diusir dari perguruan karena berkhianat dan mencuri kitab milik gurunya. Kemudian dia jadi gurunya Yang Kang dan berkali-kali terlibat bentrok dengan Guo Jing namun berkali-kali juga dihalangi oleh Huang Rong.
Udah, gitu doang. Gak ada penjelasan lebih lanjut.

Jadi kayaknya emang bener kalau cerita Mei Chao Feng muda di sini murni fiksi belaka dan hanya merupakan karangan penggemar (Fanfiction). Namun setidaknya ini jauh lebih masuk akal dan lebih menyedihkan daripada kisah Fanfiksi lainnya, yang menceritakan tentang Huang Yao Shi yang jatuh cinta dengan muridnya sendiri, Mei Chao Feng hingga akhirnya memicu kisah cinta segiempat yang berujung tragedi.

Apaan sih? Chen Xuan Feng dan Feng Heng mau dikemanain? Gak masuk akal amat! Mending yang ini aja deh, lebih masuk akal. Walaupun kisah tentang pembantaian keluarga memang sangat tragis, tapi ini lebih masuk akal daripada Fanfiksi yang satu lagi yang cenderung menjijikkan karena aku gak suka kisah cinta guru dan murid (Itu sebabnya aku juga gak suka kisahnya Yoko dan Xiao Long Ni).

Oke, sekian review dariku. Yang namanya review sudah tentu tergantung sudut pandang penulisnya, tak masalah jika ada yang tidak setuju karena setiap orang punya selera. 

Ditulis oleh : Liana Hwie.
WARNING : DILARANG COPY PASTE TANPA IJIN DARI PENULIS. REPOST WITH FULL CREDITS!!!
Credit Pics : Weibo ON LOGO

Rabu, 26 Agustus 2026

Sinopsis Lengkap : Chinese Paladin 4 (Ep 33)

Su Yao yang melihat kemungkinan bahwa Han Ling Sha tidak akan kembali melihat Tian He dan Zhi Ying juga tidak akan kembali, semakin bertekad menggunakan Jiwa Merah Qian Kun untuk merebut kekuatan spiritual Han Ling Sha sebagai penguasa asli Wang Shu dan menjadikan dirinya sebagai penguasa Wang Shu menggantikannya.


Xuan Xiao yang melihatnya, segera berusaha menghentikan Su Yao dan ingin membunuh siluman yang ditugaskan untuk membuat mantera Jiwa Merah itu serta memerintahkannya untuk menghilangkan ilmu mantera Jiwa Merah di tubuhnya.

Xuan Xiao tahu bahwa jika Han Ling Sha terluka dan mati, Tian He pasti akan terluka juga dan dia pasti akan membalas dendam. Tak hanya itu, Xuan Xiao-lah yang akan dituduh sebagai dalang yang membuat Ling Sha celaka.

Xuan Xiao tahu bahwa Su Yao melakukan ini semua selain ingin menjadi Penguasa Pedang Wang Shu yang sesungguhnya, juga untuk membuat Tian He membenci Xuan Xiao, dan Xuan Xiao tidak mau Tian He membencinya apalagi bermusuhan dengannya.

Xuan Xiao dengan jelas menebak isi pikiran Su Yao, “Jika Han Ling Sha mati, Tian He pasti akan terluka. Dia akan membalas dendam pada sekte Qiong Hoa. Pada saat itu, kamu bisa menggunakan kesempatan itu untuk membuatku bermusuhan dengannya, benarkan? Su Yao, kau benar-benar sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui.”

Su Yao menjawab dengan tegas dan mantap, “Aku ingin membuatmu tahu, tujuan dan ambisimu sama denganku. Aku sama denganmu, juga bisa melawan langit dan mengubah takdir.”

Namun Xuan Xiao juga tak kalah tegas berkata, “Su Yao, jika kau berani melukai Yun Tian He, aku akan membunuhmu!”

Note: Xuan Xiao masih tulus sayang sama Tian He hingga detik ini dan ingin melindunginya.

Tian He Kembali mencari Xuan Xiao setelah melihat Ling Sha sakit, “Kakak, aku datang mencarimu karena Ling Sha. Bisakah kau membantunya? Hidup Ling Sha tak lama lagi.”

Semula Xuan Xiao berpikir jika Tian He sudah mengetahui tentang siapa penguasa Pedang Wang Shu yang sesungguhnya, namun setelah Tian He berkata, “Aku juga baru mengetahui kalau hidup Ling Sha tak lama lagi, itu bukan karena penyakit hawa dingin namun karena kutukan leluhurnya. Leluhur keluarga Han pernah tidak sengaja memasuki wilayah makam terlarang, itu sebabnya keturunan Keluarga Han dikutuk memiliki hawa dingin dan berumur pendek, semua keturunan keluarga Han tidak bisa hidup melewati usia 30 tahun. Apa kakak ada cara untuk membantunya?”

Xuan Xiao yang mendengar penjelasan ini, akhirnya menggunakan kesempatan ini untuk membujuk Tian He secara halus, “Maksudmu hukuman dari Dewa? Jika Han Ling Sha tidak segera diselamatkan, dia akan mati muda. Apa yang akan kamu lakukan? Tian He, jika ingin menawar racun dari dunia Surgawi, terlahir sebagai manusia, pasti tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi jika bisa menjadi Dewa, baru bisa bertarung dengan takdir. Kembalilah ke sekte Qiong Hoa, ikut aku menjadi Dewa.”

Walau tampak ragu sesaat, namun Tian He menyadari jika tetap ingin menjadi Dewa maka harus menyerap kekuatan Kristal Kecubung dan membiarkan banyak nyawa hilang sekali lagi.

Tian He akhirnya menjawab, “Jangankan aku, Ling Sha juga pasti lebih memilih mati.”

Xuan Xiao berkata kalau begitu Ling Sha hanya bisa menerima takdirnya dan menunggu mati. Namun Tian He mengelak, berkata bahwa Ling Sha memberitahunya, sekte Qiong Hoa memiliki banyak cara untuk menghapus hukuman Dewa, itu sebabnya Tian He datang menemui Xuan Xiao.

Saat itulah Xuan Xiao sadar jika Ling Sha membohongi Tian He agar Tian He pergi ke suatu tempat dan meninggalkannya sendiri, sementara dia akan melakukan sesuatu yang rahasia.

Xuan Xiao menyuruh Tian He pergi, “Han Ling Sha sedang membohongimu. Lebih baik kau segera pergi melihatnya. Bisa membohongimu dengan kebohongan yang begitu buruk, pasti ada alasannya.”

Sebelum pergi, Yun Tian He sempat berkata, “Kakak, jika aku bisa membujuk Klan Siluman untuk memberikan Kristal Kecubung padamu, bisakah kau berjanji untuk tidak membunuh orang yang tidak bersalah?”

Xuan Xiao menjawab, “Baik.” Namun setelah Tian He pergi, Xuan Xiao berkata, “Tian He, jika perang benar-benar terjadi, aku hanya bisa berjanji pada diriku sendiri untuk melindungimu.”

Setelah Tian He kembali ke taman Ji Xian, dia baru mengetahui bahwa Ling Sha dan Zhi Ying pergi menuju ke Makam Feng Shen untuk mengambil Busur "Hou Yi (Memanah Matahari)".

Siapa sangka, niat Yun Tian He untuk menghentikan Ling Sha dan Zhi Ying mencuri busur juga malah membuatnya mendapatkan busur itu dengan mudah. Jenderal Dewa berkata bahwa Tian He adalah manusia paling bersih selama 3 kehidupan.


Seseorang yang tidak pernah melakukan kejahatan apa pun selama 3 kehidupan, seseorang yang memiliki hati lebih bersih dari cermin dan seseorang yang memiliki tubuh PALING YIN dan PALING YANG. Itu sebabnya dialah orang yang paling pantas memiliki sepasang Busur IIahi.

Jenderal Dewa berkata akan mencoba memberikan Busur Hou Yi tersebut dan melihat apakah busur tersebut mengakui Tian He sebagai Tuannya atau tidak. Namun tentu saja saat menyentuh Busur Ilahi tersebut, umur orang yang pertama menyentuhnya akan berkurang. Ling Sha yang tidak ingin melihat Tian He terluka karena Naga Dewa akhirnya nekat mengambil Busur Ilahi tersebut.

Tian He yang tidak ingin melihat nyawa Ling Sha semakin berkurang, berniat mengembalikan busur Ilahi tersebut mencoba mengembalikannya, namun secara ajaib busur itu justru menyatu dengan dirinya. Dengan kata lain, sepasang busur Ilahi itu telah menerimanya sebagai Tuan mereka.

Jenderal Dewa berkata bahwa busur yang telah menemukan Tuannya tidak bisa ditarik lagi. Setelah Tian He meninggal, barulah busur itu akan kembali ke makam Feng Shen.

Di sekte Qiong Hoa, Su Yao memberitahu Xuan Xiao bahwa Yun Tian He berhasil mendapatkan Busur "Hou Yi (Memanah Matahari)" dan menggabungkannya dengan busur "Kai Yuan Zhui Yue (mengejar bulan)" maka itu akan memberikannya kekuatan Ilahi yang bisa membalikkan langit dan bulan.

Note: Nama lain dari Busur Kai Yuan Zhui Yue adalah mengejar bulan, sementara busur Hou Yi adalah memanah matahari.

Mendengar ucapan kekhawatiran Su Yao, Xuan Xiao segera menatap wanita itu dengan tajam, “Apa jangan-jangan kau ingin membunuh Yun Tian He lagi?”

Su Yao berkelit dan mencoba memprovokasi Xuan Xiao agar memusuhi Tian He, “Jika Yun Tian He berhasil menguasai penggabungan busur ganda, maka dia adalah musuh kuat yang akan menghalangi kita menjadi Dewa.”

Xuan Xiao juga berkelit, “Aku sudah berjanji pada Tian He. Jika dia berhasil membujuk Klan Siluman pengisap mimpi untuk tidak berperang dan memberikan pada kita Kristal Kecubung agar bisa menjadi Dewa, aku tidak akan mulai berperang.”

Namun Su Yao bersikeras harus berperang dan merekalah yang harus terlebih dulu menyerang. Su Yao seolah bertekad untuk membunuh Tian He agar tidak menghalangi rencana mereka.

Namun Xuan Xiao sekali lagi dengan tegas berkata, “Meskipun harus berperang, aku pasti akan melindungi nyawa Yun Tian He. Ini adalah yang kujanjikan pada diriku sendiri.”

Dengan kata lain, Xuan Xiao memberikan peringatan pada Su Yao agar tidak melukai, apalagi membunuh Yun Tian He. Xuan Xiao masih menyayangi Tian He dari lubuk hatinya. Xuan Xiao juga tidak menginginkan hubungan persaudaraannya dengan Tian He hancur begitu saja.

Walau seorang murid, Ming Guang memergoki pembicaraan mereka, Xuan Xiao menyuruh Su Yao cukup memenjarakannya dan tidak membunuhnya. Dia tidak ingin Tian He menganggapnya kejam seperti waktu itu. Xuan Xiao benar-benar sangat memikirkan perasaan Tian He.

Namun sayangnya Su Yao tidak mempedulikan ucapan Xuan Xiao saat ini dan memilih untuk membunuh Ming Guang. Sialnya hal tersebut disaksikan oleh Huai Shou dan Huai Shou melaporkannya pada Tian He dkk.

Dan seperti telah diduga, Tian He akhirnya salah paham pada Xuan Xiao.

“Xuan Xiao jelas-jelas berjanji padaku, tidak akan membunuh orang yang tidak bersalah! Tapi dia malah membiarkan Su Yao membunuh murid!” ucap Tian He marah.

Su Yao sepertinya benar-benar ingin merusak hubungan antara Tian He dan Xuan Xiao.

Bersambung...

Sebelumnya =>
Ep 1 -13
Ep 14 – 23
Ep 24 – 29
Ep 30 – 32

Selanjutnya =>
Ep 34
Ep 35
Ep 36

Sinopsis Lengkap : Chinese Paladin 4 (Ep 30-32)

Di tengah pertempuran itu, mereka melihat ada pergerakan aneh dari wilayah terlarang, sepertinya Xuan Xiao sudah berhasil memecahkan lapisan es dan akan segera keluar dari sana.

Zhi Ying yang teringat pesan terakhir gurunya akhirnya memilih melindungi Meng Li agar bisa pergi dari sana. Dia bahkan bertarung dengan Su Yao demi melindungi Meng Li.


Sebelum pergi, Meng Li sempat memeluk Tian He dan menarik lepas liontin gigi binatang yang dikenakan Tian He. Meng Li pun sempat berpamitan dengan Zhi Ying dan Ling Sha. Tapi sialnya sebelum Meng Li sempat pergi, Xuan Xiao tiba di sana.

Tian He memohon pada Xuan Xiao agar membiarkan Meng Li pergi. Tapi Xuan Xiao tetap menyerang Meng Li dan melukainya dengan Pedang Xi He kemudian melemparkannya ke gerbang sihir dan membuat Meng Li menghilang.

Tian He marah dan ingin memukul Xuan Xiao tapi Xuan Xiao mengatakan bahwa dia harus melakukan ini karena Meng Li adalah Ketua Siluman. Tahu bahwa Tian He sedang diliputi kemarahan, Xuan Xiao melepaskannya dan tidak memperpanjang masalah. Xuan Xiao masih menyimpan rasa sayang pada Tian He dalam hatinya.


Xuan Xiao yang masih berharap tetap berhubungan baik dengan Tian He segera memenuhi janjinya untuk membersihkan nama Yun Tian Qing dan Su Yu. Dia berharap hal itu dapat membuat kemarahan Tian He padanya mereda.

Di hadapan semua orang, Xuan Xiao berkata, “19 tahun yang lalu, Yun Tian Qing dan Su Yu tidak pernah bersekutu dengan Klan Siluman. Mereka pergi meninggalkan sekte Qiong Hoa juga bukan karena berkhianat. Semua yang dituliskan dalam buku sejarah adalah salah. Mulai hari ini, nama Su Yu dan Yun Tian Qing akan masuk dalam Makam Ribuan orang Qiong Hoa. Kalian semua harus menunjukkan rasa hormat. Yun Tian He juga bukan putra pengkhianat. Kalian juga harus memperlakukannya dengan hormat.”

Xuan Xiao masih berharap Yun Tian He untuk tinggal, namun setelah melihat bagaimana Xuan Xiao mengambil nyawa seorang murid dengan begitu mudahnya (karena murid tersebut telah berani menghina Yun Tian Qing dan meragukan perkataan Xuan Xiao), Tian He yang merasa bahwa nyawa manusia sangatlah berharga dan tidak seharusnya dibunuh begitu saja, akhirnya memutuskan untuk pergi.

“Kakak, kau membersihkan nama kedua orang tuaku, Tian He sangat berterima kasih padamu. Tapi kau tidak seharusnya memperlakukan muridmu seperti itu.”

Mendengar Tian He memprotesnya, Xuan Xiao hanya tertawa miris dan berkata dengan nada sedih, “Yun Tian He, hanya kau satu-satunya yang berani bicara seperti itu padaku. Tapi kau harus ingat, mulai hari ini, di sekte Qiong Hoa hanya ada suara Xuan Xiao seorang.”

Kemudian setelah Tetua Qing Yang mengatakan sudah cukup, Xuan Xiao menjawab, “Aku bisa saja tidak menghukum murid itu, tapi bukan demi dirimu, melainkan demi adikku yang baik ini, Tian He.”

Xuan Xiao sepertinya masih mengharapkan Tian He tetap ada di sisinya, bahkan demi Tian He, Xuan Xiao bersedia untuk mengubah sekte Qiong Hoa seperti yang Tian He inginkan. Bahkan termasuk menyelamatkan nyawa Ming Guang, karena Ming Guang muncul lagi di episode berikutnya.

Dalam keputusasaannya agar Tian He tidak meninggalkannya, Xuan Xiao bahkan bersedia memohon, “Tian He, kamu pernah bilang padaku kalau kau tidak menyukai sekte Qiong Hoa, sekarang Kakak bisa mengubah sekte Qiong Hoa menjadi seperti yang kamu sukai. Tinggallah, untuk membantu Kakak.”

Namun sayangnya Tian He yang sudah terlanjur kecewa karena Xuan Xiao telah melukai Meng Li dan melukai Ming Guang, tetap memutuskan untuk pergi.

Tian He berkata, “Sebelum ini, aku tidak ingin tinggal di Sekte Qiong Hoa demi melindungi Meng Li. Sekarang aku lebih tidak ingin tinggal karena dirimu. Aku tidak suka dirimu yang sekarang.”

Xuan Xiao yang tampak terpukul berusaha mengingatkan Tian He pada janjinya, “Kamu lupa kamu pernah berjanji padaku bahwa jika aku membutuhkanmu, kau pasti akan membantuku?”

Tian He menjawab, “Aku tidak lupa. Jika kakak ada kesulitan, Tian He pasti akan membantu. Tapi kamu juga pernah memberitahuku, harus melindungi orang yang dipikirkan dalam hati dan hal yang ingin dilakukan. Jadi sekarang, Tian He punya hal yang lebih penting untuk dilakukan.”

Saat Xuan Xiao bertanya hal apa itu, Tian He dengan tegas menjawab, “Kakak tidak perlu repot-repot mengkhawatirkan urusanku.”

Merasa tidak ada lagi yang bisa dia katakan untuk menahan Tian He, walaupun tak rela, Xuan Xiao tetap membiarkan Tian He pergi.

Tetua Qing Yang mengerti bahwa Xuan Xiao sangat menyayangi Tian He, dia berharap Tian He bisa mengubah Xuan Xiao menjadi pribadi yang lebih baik dan berniat mendamaikan mereka saat kemarahan keduanya sudah mereda, akhirnya membuat akal-akalan untuk menghalangi kepergian Tian He dan meminta pada Xuan Xiao untuk mengijinkan Tian He dan Ling Sha tingga di Lembah Qing Feng bersamanya. Xuan Xiao yang sedang sedih hanya menjawab “terserah” seraya menundukkan kepalanya putus asa.


Di Lembah Qing Feng, Tian He mengutarakan isi hatinya dan kekecewaannya terhadap Xuan Xiao, “Sebelumnya Xuan Xiao di mataku, sama seperti ayahku. Baik hati, jujur, adil, dan selalu mementingkan orang lain. Tapi tadi, dia menyerang Meng Li dengan begitu kejam dan begitu angkuh terhadap para murid. Aku benar-benar tidak tahu sebenarnya Xuan Xiao yang mana, barulah dia yang sebenarnya.”

Tetua Qing Yang berkata bahwa Xuan Xiao yang awalnya baik berubah karena ambisinya yang ingin diakui semua orang. Dia ingin menjadi Ketua Sekte Qiong Hoa, ingin membasmi semua siluman dan ingin menjadi naik Tingkat menjadi Dewa, ambisinya itu akhirnya menimbulkan hasrat, kebencian dan obsesi dalam hatinya.

Tapi Xuan Xiao yang dingin dan kejam itu berubah menjadi memiliki sedikit kehangatan karena Tian He. Tetua Qing Yang berharap Tian He bisa membantu Xuan Xiao melepaskan obsesinya menjadi Dewa.

Namun Tian He tampaknya sudah menyerah dan merasa tak bisa membuat Xuan Xiao melepaskan obsesinya, dan sebaliknya ingin pergi ke Dunia Siluman (Dunia Huanming) untuk mencari Meng Li dengan harapan dapat menghentikan peperangan.

Tetua Zhong Guang akhirnya keluar dari dalam kamarnya dan mengatakan bahwa untuk bisa masuk ke Dunia Huanming, tempat para Siluman berada, Tian He harus mendapatkan Ranting Pengait Roh terlebih dahulu. Karena Ranting Pengait Roh tersebut dapat digunakan sebagai pintu masuk Dunia Huanming.

Tetapi masalahnya, Ranting Pengait Roh tersebut bisa ditemukan di Istana Wuyang di Ibukota Ming. Namun untuk sampai ke Ibukota Ming, mereka harus mendapatkan ijin dari Naga Dewa Xianzhu yang berada di puncak gunung Bu Zhou.

Tetua Qing Yang memberitahu rencana Tian He pada Zhi Ying yang kemudian memutuskan untuk menemani Tian He dan Ling Sha menuju ke sana.

Sebagai ganti pedang Wang Shu yang sudah diambil Su Yao, Zhi Ying menempa pedang milik gurunya dan memperbaiki pedang itu untuk kemudian diberikan pada Tian He. Tian He menerima pedang itu dengan gembira dan memberinya nama Pedang Tian He. Bertiga : Tian He, Ling Sha dan Zhi Ying akhirnya pergi menuju tempat itu untuk mencari Ranting Pengait Roh.

Di sana, mereka bertiga bertemu dengan Naga Dewa Xianzhu di gunung Bu Zhou yang menguji Tian He, jika Tian He bisa menahan serang dari Naga Dewa maka Naga Dewa akan membuka jalan ke Ibukota Ming. Tian He terpaksa mengeluarkan senjata terbarunya yaitu Busur "Kai Yuan Zhi Yue".

Naga Dewa itu kemudian memberitahu Tian He bahwa Busur Ilahi ternyata ada sepasang. Pasangan lainnya yaitu Busur Hou Yi Memanah Matahari yang terletak di Makam Feng Shen. Dan bila Tian He bisa mendapatkannya, baru dia bisa mengalahkan Naga Dewa dan bisa menyembuhkan luka akibat serangan dari Naga Dewa.


Namun karena Tian He telah berhasil menahan serangan dari Naga Dewa Xianzhu, Naga Dewa tetap membukakan jalan untuk Tian He dkk menuju ke Ibukota Ming, tempat di mana para jiwa yang telah meninggal berkumpul sebelum menjalani reinkarnasi.

Di sana, Tian He dkk bertemu dengan hantu wanita Wummian yang dulu pernah membantu mereka di Makam Raja Yunnan. Hantu wanita Wummian itu kemudian mengajak Tian He untuk bertemu jiwa ayahnya yaitu Yun Tian Qing, sementara itu, Ling Sha juga bertemu dengan jiwa kakak sepupunya, Han Ling Xiang yang ternyata sudah meninggal.

Yun Tian Qing kemudian memberitahu kepada Tian He apa yang sebenarnya terjadi 19 tahun yang lalu. Tentang persahabatannya dengan Xuan Xiao, Xuan Xiao yang awalnya adalah pemuda yang baik namun terobsesi menjadi kuat agar tidak ada lagi orang yang bisa menindasnya, lalu pertemuan mereka dengan Su Yu yang merupakan adik seperguruan mereka (Tian Qing dan Xuan Xiao) lalu saat Su Yu terpilih sebagai penguasa Pedang Wang Shu.

Note: Jadi intinya di sini ada cinta segiempat antara Tian Qing, Su Yu, Xuan Xiao dan Su Yao. Su Yao mencintai Xuan Xiao dan berharap bisa menjadi pasangan Pedang ganda bersamanya, tapi ternyata Xuan Xiao mencintai Su Yu yang cantik dan lemah lembut yang kebetulan adalah pasangan pedang ganda Xuan Xiao.

Namun di sisi lain, Su Yu dan Tian Qing saling mencintai hingga menikah dan memiliki anak laki-laki bernama Yun Tian He. Hingga kini pun, Su Yao masih mencintai dan mengharapkan cinta Xuan Xiao namun Xuan Xiao tak pernah sekalipun melirik Su Yao, hatinya telah beku sejak Su Yu pergi dan membawa semua cinta dalam hati Xuan Xiao.

Yun Tian Qing juga menceritakan obsesi dan ambisi Ketua Sekte Qiong Hoa terdahulu yaitu Pendeta Tai Qing untuk menjadi Dewa, dengan menempa kedua Pedang Pusaka : Pedang Xi He dan Pedang Wang Shu.

Namun sebenarnya kedua Pedang tersebut belum sepenuhnya sempurna karena harus mendapatkan kekuatan spiritual dari dua batu ajaib bernama "Yin Yang Zhi Que", namun karena Ketua Tai Qing tidak bisa menemukan "Yin Yang Zhi Que" jadi dia memutuskan untuk membuat pedang dan mencari dua orang yang memiliki tubuh PALING YIN dan PALING YANG, kemudian menggunakan kekuatan spiritual dari Kristal Kecubung yang berada di Dunia Huanming untuk menggantikan kekuatan dari "Yin Yang Zhi Que".

Namun demi ambisinya menjadi Dewa, Pendeta Tai Qing tidak peduli dengan itu semua. Dia tetap memerintahkan murid-murid sekte Qiong Hoa untuk menyerang Dunia Huanming terlebih dahulu dan membunuh semua siluman sementara di bawah sana.

Xuan Xiao dan Su Yu diperintahkan untuk membuat pilar dari kedua Pedang pusaka yang diarahkan ke langit menuju Kristal Kecubung. Tujuannya tentu saja untuk menyerap kekuatan Kristal Kecubung agar masuk ke dalam kedua pedang itu.

Jika kedua pedang itu berhasil menyerap kekuatan Kristal Kecubung maka kekuatan Pedang itu bisa mengangkat semua orang di sekte Qiong Hoa yang memiliki kekuatan kultivasi tinggi menjadi Dewa, namun murid-murid dengan kekuatan rendah akan berakhir menemui ajal karena tidak sanggup menahan kekuatan pedang.

Su Yu (Ibu Tian He) yang tak sengaja mendengar rencana busuk ini memutuskan untuk menarik pedang, karena dia tidak ingin melihat lebih banyak lagi kehancuran. Yun Tian Qing pun kembali dari Dunia Huanming dengan membawa bayi Meng Li dan mengajak Su Yu pergi dari sana dengan membawa pedang Wang Shu bersama dengan mereka.

Setidaknya tanpa bantuan dari pedang Wang Shu, sekte Qiong Hoa tidak akan bisa menyerang Dunia Huanming dan menyerap kekuatan Kristal Kecubung. Untuk sementara perang bisa dihindari. Kemudian Yun Tian Qing menyerahkan bayi Meng Li kepada suami istri Liu di kota Shou Yang, untuk menjadi pengganti dari putri mereka yang meninggal karena dibunuh oleh siluman.

Mendengar penjelasan dari sang ayah, Tian He menyadari bahwa sebenarnya sekte Qiong Hoa-lah yang bersalah dalam hal ini, karena merekalah yang terlebih dahulu memulai penyerangan. Klan Siluman saat itu hanya berusaha mempertahankan diri dan mempertahankan Kristal Kecubung milik mereka.

Pendeta Tai Qing dan keserakahannya lah yang telah menghancurkan Qiong Hoa dan membuat 3000 nyawa murid Qiong Hoa mati sia-sia.

Yun Tian Qing kemudian membawa Su Yu pergi menyendiri ke puncak Qing Luan dan membuat perisai penghalang untuk melindungi wilayah itu.

Kemudian Tetua Zhong Lian datang menemui mereka untuk menyampaikan berita tentang Xuan Xiao yang disegel dalam lapisan es dan juga memberikan sebuah buku catatan mengenai tata cara menempa pedang, rahasia dua batu Yin Yang Zhi Que dan di mana menemukannya, serta cara menghancurkan Pedang Wang Shu dan Pedang Xi He.

Yun Tian Qing kemudian pergi mencari dua batu ajaib bernama "Yin Yang Zhi Que" itu, namun setelah menemukannya dan kembali, dia bertemu dengan dua orang misterius (kita asumsikan dua orang misterius itu adalah Malaikat Hitam dan Putih alias Malaikat Pencabut Nyawa aja, ya).

Dengan sangat terpaksa, atas permintaan sang istri, Yun Tian Qing akhirnya memasukkan kekuatan spiritual "Yin Yang Zhi Que" ke dalam tubuh bayi Yun Tian He. Bagaimanapun juga sebagai seorang Ibu, tentu Su Yu tidak tega melihat putranya meninggal sementara dirinya tetap hidup. Lebih baik dirinya yang mati daripada putranya yang tidak bersalah, apalagi Yun Tian He adalah seorang penerus.

Inilah yang membuat Yun Tian He menjadi sangat kuat sejak di episode pertama, bahkan sebelum dia masuk ke sekte Qiong Hoa dan belajar ilmu pedang dan kultivasi. Juga inilah alasan yang membuat Yun Tian He mampu mengangkat kedua pedang pusaka : Pedang Xi He dan Pedang Wang Shu secara bersamaan, walaupun dia bukan penguasa kedua pedang tersebut.

Setelah kematian Su Yu, Yun Tian Qing meletakkan Sisik Kun di Gua Shi Chen Xi agar jasadnya tidak membusuk. Namun karena sekarang, Yun Tian He telah mengambil Sisik itu dari sana, maka jasad Yun Tian Qing dan Su Yu juga tentu akan kembali menjadi tanah.

Yun Tian Qing juga meminta maaf pada Tian He, karena sebagai Ayah, dia selalu memperlakukan putranya dengan keras dan memarahinya. Itu karena dulu Tian Qing berpikir bahwa Tian He adalah penyebab kematian sang Ibu.

Namun kini Tian Qing menyadari bahwa sebagai seorang anak, Tian He lebih membutuhkan kasih sayang ibunya melebihi dia sendiri yang selalu merindukan sang istri. Tian He yang paling menderita di sini karena diabaikan oleh ayahnya dan ditinggal mati oleh ibunya. Tian He yang baik hati tentu saja memaafkan sang ayah.

Namun sayang saat Tian Qing akan mengatakan siapa penguasa Wang Shu yang baru sebenarnya dan rahasia besar di balik "Yin Yang Zhi Que", dirinya sudah ketahuan hingga membuat jiwanya langsung menghilang sebelum sempat mengatakannya.

Setelah mendengar kebenarannya, Zhi Ying tentu saja tidak percaya. Dia ingin bertanya langsung pada Ketua Sekte Su Yao mengenai hal tersebut. Tian He yang takut Zhi Ying akan mengalami kesulitan, segera menyusulnya. Tian He sempat tidak diijinkan masuk namun Huai Shuo berkata bahwa Xuan Xiao memberi pesan bila Yun Tian He ingin kembali, siapa pun tidak berhak melarang.

Tian He berkata bahwa selain mengkhawatirkan Zhi Ying, dia juga ingin bertemu dengan Xuan Xiao. Su Yao berkata bila Tian He ingin menemui Xuan Xiao, dia diijinkan menemuinya. Sebelum pergi mencari Xuan Xiao, Tian He meminta Su Yao agar tidak mempersulit Zhi Ying nantinya.

Sementara Zhi Ying meminta penjelasan, Tian He pergi menemui Xuan Xiao dan berusaha membujuknya agar menghentikan perang agar tragedi 19 tahun yang lalu tidak terulang dan tidak ada lagi korban yang berjatuhan.

Xuan Xiao lalu berkata kenapa Tian He tidak bertanya padanya kenapa Xuan Xiao ingin menjadi Dewa? Kemudian Xuan Xiao menceritakan tentang masa kecilnya yang suram.

Saat usia delapan tahun, desa tempatnya dan orangtuanya tinggal dilanda kekeringan panjang, kemudian seorang peramal datang dan mengatakan bahwa Xuan Xiao adalah reinkarnasi dari Monster Kekeringan dan harus membunuhnya bila ingin kekeringan itu berhenti dan menyelamatkan banyak orang.

Tidak disangka malam itu, setelah kedatangan peramal itu, terjadi kebakaran besar akibat dari kekeringan panjang yang hampir melahap habis seluruh desa dan mengubahnya menjadi reruntuhan.

Namun seluruh penduduk desa menuduh Xuan Xiao kecil sebagai orang yang telah menyalakan api dan membakar desa mereka lalu menuntut orangtua Xuan Xiao untuk menguburnya hidup-hidup.

Xuan Xiao yang selama ini menganggap mereka keluarga sangat kecewa karena tidak ada seorangpun yang melindunginya. Pada akhirnya, Ayah Xuan Xiao sendiri yang memasukkan Xuan Xiao kecil ke dalam peti mati kayu, berniat menguburnya hidup-hidup. Hingga kini, Xuan Xiao bahkan masih bisa mendengar suara sang ayah yang memaku peti matinya.

Note : Xuan Xiao tidak mengatakan bagaimana dia bisa selamat namun melihat dari rekan-rekan seperguruannya yang menuduh tangan Xuan Xiao telah berlumur darah orangtuanya, sepertinya Xuan Xiao berhasil melarikan diri sebelum peti matinya tertutup sepenuhnya, kemudian dia tak sengaja membunuh orangtuanya demi mempertahankan dirinya.

Itu sebabnya Xuan Xiao tidak pernah percaya pada orang lain. Pernah sekali dia percaya pada Yun Tian Qing dan Su Yu, namun mereka pun meninggalkan Xuan Xiao sendiri demi Klan Siluman. Sejak saat itu Xuan Xiao bersumpah “lebih baik aku yang mengecewakan orang daripada aku yang dikecewakan orang”.


Walau Tian He sudah mendengar kisah masa kecil Xuan Xiao yang menyedihkan, dia tetap berharap Xuan Xiao bisa menghentikan perang. Namun sayangnya, Xuan Xiao sudah bertekad bulat pada rencana awalnya.

Dengan sedih, Xuan Xiao berkata, “Yun Tian He, kau adalah orang kedua setelah Yun Tian Qing yang kuperlakukan dengan tulus, sifat kita sama, hanya saja kebutuhan kita berbeda. Kita berpisah di sini saja. Aku berharap, aku tidak bertemu denganmu lagi di tengah peperangan.”

Walau begitu, Xuan Xiao tetap menganggap Tian He adiknya, dia tidak marah ataupun berniat menyakiti Tian He, hanya berharap agar Tian He tidak menghalangi mencapai tujuan akhirnya.

Terbukti demi Tian He, Xuan Xiao berusaha menyelamatkan Zhi Ying yang saat itu akan dihukum oleh Su Yao

Xuan Xiao berdalih, “Mengingat jasa Murong Zhi Ying mencari senjata dingin untukku, dia diusir dari Sekte. Bukankah kamu selalu ingin melindungi makhluk hidup? Pergilah ke taman Ji Xian menjadi tukang sapu.”

Walaupun kalimat Xuan Xiao terdengar dingin dan merendahkan, namun sebenarnya dibalik kalimat itu, Xuan Xiao memutuskan untuk melepaskan Murong Zhi Ying dan mengampuninya, demi Yun Tian He. Dengan begitu, Zhi Ying tidak akan dihukum mati atau dihilangkan ilmunya oleh Su Yao.

Melepaskan Tian He dan Zhi Ying adalah wujud kasih sayangnya kepada Tian He.

Bersambung...

Sebelumnya =>
Ep 1 -13
Ep 14 – 23
Ep 24 – 29

Selanjutnya =>
Ep 33
Ep 34
Ep 35
Ep 36

Sinopsis Lengkap : Chinese Paladin 4 (Ep 24-29)

Sebelumnya => Ep 14-23

Sinopsis Ep 24 – 29:

Petualangan untuk mencari benda pusaka pun dimulai. Tempat pertama yang mereka kunjungi adalah kediaman keluarga Han yaitu rumah Ling Sha. Karena menurut Ling Sha, ada sebuah buku milik keluarganya yang menuliskan di mana Lukisan Danau Guang Ji tersebut berada.


Di sana mereka bertemu dengan kakak sepupu Ling Sha, yaitu Han Ling Xiang yang sedang sakit karena menderita hawa dingin. Setelah memberikan Pil Buah Fuyao yang didapatkan Ling Sha dari Xuan Ying, Ling Xiang pun sembuh. Tapi sayang, dia tidak mengijinkan Ling Sha untuk pergi lagi. Dia bahkan berencana untuk membakar buku catatan itu.

Hal ini karena Keluarga Han ternyata telah dikutuk. Karena leluhur Keluarga Han telah sangat lancang memasuki Wilayah Makam Terlarang dan mencuri benda pusaka di sana, Dewa pun menghukum seluruh keturunan Keluarga Han dengan umur pendek.

Seluruh Keluarga Han hanya sanggup bertahan hidup hingga 30 tahun. Itu sebabnya, Han Ling Xiang menginginkan Ling Sha tetap menemaninya di rumah saja hingga ajal menjemput mereka.

Namun Ling Sha menolak. Dan akhirnya karena melihat keteguhan hati Ling Sha dan Tian He, kakak sepupu Ling Sha pun terpaksa mengijinkan dengan berat hati.

Tak lama kemudian, mereka sampai di lokasi di mana konon kabarnya Lukisan Danau Guang Ji tersebut berada. Di sana mereka bertemu dengan Dewa Gunung yang menyamar menjadi manusia dan sedang mencari putri angkatnya.

Ternyata putri angkat Dewa Gunung itu masuk ke dalam lukisan karena diculik oleh peri Rubah yang adalah roh penghuni Lukisan tersebut. Peri rubah itu menculik anak itu karena ingin anak kecil itu menggantikannya menjadi roh penghuni lukisan agar dia bisa bebas berkeliaran di luar.

Dewa Gunung berjanji, jika Tian He dkk bisa membawa pulang sang putri angkat, maka dia pasti akan memberikan Lukisan Dewa Guang Ji pada mereka dengan senang hati.

Dewa Gunung juga memberikan Tian He sebuah busur Ilahi bernama Busur "Kai Yuan Zhui Yue", yang memiliki nama lain yaitu “Mengejar Bulan”.

*Kai Yuan = tidak menyesali niat awal.
* Zhui Yue = tidak takut maju.

Asalkan Tian He dkk bisa menyelamatkan putri angkat sang Dewa Gunung, dia akan memberikan Lukisan Dingin Guangji itu pada mereka. Dan tentu saja, Tian He dkk berhasil dalam misi mereka.

Setelah berhasil mendapatkan lukisan dingin itu dan memberikannya pada Xuan Xiao. Xuan Xiao bertanya sekali lagi apakah Tian He benar-benar yakin bersedia mengalami kesulitan dan bahaya demi mendapatkan Sisik Kun?


Tapi Tian He menjawab dengan tegas, “Menyelamatkan Anda adalah keinginan orang tuaku, aku harus menyelesaikannya. Terlebih lagi, di dalam hatiku, Anda juga keluargaku.”

Jawaban Tian He, lagi-lagi membuat Xuan Xiao tersentuh.

Xuan Xiao berkata, “Selama hidupku, semua orang meninggalkanku dan mengkhianatiku tapi hanya kau yang tidak pernah meninggalkanku, tidak akan berubah.”

Dan karena merasa tersentuh dengan ketulusan dan kebaikan hati Tian He, Xuan Xiao meminta Tian He menjadi saudara angkatnya.

Xuan Xiao berkata, “Yuan Tian He, mulai hari ini, kita adalah saudara yang tidak mempedulikan hidup atau mati. Panggil aku kakak. Sepanjang hidupku, aku hanya memiliki satu saudara baik yaitu Yun Tian Qing. Namun dia malah meninggalkan aku. Membuatku seumur hidup ini tidak percaya ada hubungan persaudaraan yang sebenarnya. Tapi kemunculanmu, membuatku percaya lagi bahwa di dunia ini benar-benar ada teman baik yang tidak mempedulikan hidup atau mati.”

Mendengar perkataan Xuan Xiao, Tian He pun menjawab, “Baik. Kalau begitu aku mewakili ayahku, menjadi teman baikmu yang tidak mempedulikan hidup dan mati.”

Xuan Xiao merasa bahagia dan meminta Tian He memanggilnya “kakak (Da Ge)” dan bersumpah menjadi saudara angkat sehidup semati.

“Panggil aku kakak. Dalam hidup ini, kita adalah saudara yang tidak akan pernah berkhianat, meskipun langit runtuh dan bumi terbelah.”

Xuan Xiao akhirnya bisa tertawa bahagia saat mendengar Tian He memanggilnya “Kakak.”

Xuan Xiao pun bersumpah pada dirinya sendiri bahwa dia akan melindungi Tian He apa pun yang terjadi nantinya. Dia tidak akan membiarkan siapa pun melukai apalagi sampai membunuh Tian He, termasuk Su Yao sendiri.

Note:
Xuan Xiao ini sebenarnya adalah karakter yang kesepian. Dia hanya menginginkan cinta dan kasih sayang, andaikan dia bisa mendapatkan itu semua, mungkin dia tidak akan berubah menjadi jahat. Namun sayangnya terjadi kesalahpahaman lagi di akhir episode hingga membuat Xuan Xiao terpaksa memutus persaudaraannya dengan Tian He dan berbalik menjadi musuh.


Di lain sisi, Gui Xie dari Klan Siluman akhirnya menemukan fakta bahwa Liu Meng Li adalah Ketua Muda Klan Siluman yang selama ini mereka cari. Walaupun Meng Li sudah merasa curiga dengan jati dirinya yang sebenarnya, namun dia masih berusaha menyangkal semua ini.

Gui Xie selalu mencoba membawa Meng Li kembali ke Dunia Siluman, bahkan nekat menerobos Sekte Qiong Hoa, namun sayangnya Gui Xie gagal di percobaan pertama.

Keesokan harinya, Tian He dkk melanjutkan perjalanan ke Puncak Qing Luan untuk mencari Sisik Kun. Karena menurut Tetua Shu Shen (guru Zhi Ying dan Meng Li), Yun Tian Qing pernah memberitahunya bahwa keberadaan Sisik Kun ada hubungannya dengan takdirnya sendiri, yang akan tercermin pada Yun Tian He.

Saat mencari Sisik Kun bersama Yun Tian He di Goa Shi Chen Xi itulah, Liu Meng Li tak sengaja berubah ke wujud siluman. Untunglah saat itu hanya ada Yun Tian He bersamanya dan Yun Tian He mampu menjaga rahasia agar nyawa Liu Meng Li tidak terancam.

Di kota Praja Boxian, Gui Xie Kembali mengejar Meng Li. Han Ling Sha terpaksa melapor ke Qiong Hoa agar menyelamatkan Tian He dan Meng Li. Su Yao mengirim Zhi Ying, Tetua Su Xi dan Tetua Xu Yi untuk melindungi Tian He dan Meng Li serta membawa kembali Sisik Kun dengan selamat.

Zhi Ying, Su Xi dan Xu Yi menggunakan Formasi Pembasmi Siluman untuk menghadapi Gui Xie dan temannya. Namun Tian He yang tidak ingin Meng Li terluka berusaha menghalanginya. Tindakannya tersebut membuat Tetua Xu Yi menjadi marah dan menuduhnya pengkhianat karena telah melindungi Siluman. Tian He dengan tegas berkata kalau begitu dia memilih lebih baik tidak usah menjadi murid sekte Qiong Hoa lagi mulai sekarang.

Demi Meng Li, Tian He bahkan rela memutuskan hubungan guru dan murid dengan Zhi Ying. Walau sudah mengatakan bahwa dia ingin meninggalkan sekte Qiong Hoa, namun Tian He tetap Kembali ke Qiong Hoa untuk memberikan Sisik Kun pada Xuan Xiao. Su Yao memutuskan Yun Tian He dan yang lainnya boleh pergi, namun Pedang Wang Shu harus tetap tinggal di sekte Qiong Hoa.


Di wilayah terlarang, Tian He mengatakan pada Xuan Xiao bahwa dia dan Murong Zhi Ying sedang terlibat kesalahpahaman. Xuan Xiao memberikan nasehat agar Tian He mengikuti kata hatinya agar tidak ada penyesalan di kemudian hari, seperti apa yang dia rasakan saat ini terhadap orang tua Tian He, yang bahkan tidak bisa bertemu untuk yang terakhir kali.

Setelah mendengar jawaban Xuan Xiao, Tian He mengerti dan berjanji akan mengikuti kata hatinya, kemudian Tian He memberikan Sisik Kun pada Xuan Xiao dan Xuan Xiao menyuruh Tian He pergi karena takut kekuatannya akan salah melukai Tian He saat dia memecahkan lapisan es nanti.

Tian He pun mengutarakan bahwa sebenarnya dia sudah membuat keputusan untuk meninggalkan Sekte Qiong Hoa.

Dengan berat hati, Tian He mengutarakan niatnya, “Kakak, sebenarnya aku sudah memutuskan untuk tidak tinggal di sekte Qiong Hoa lagi. Hari ini aku datang untuk menemuimu untuk yang terakhir kalinya. Aku tidak terlalu suka sekte Qiong Hoa. Meng Li juga ingin pergi. Aku dan Ling Sha sudah sepakat ke mana pun, kami tidak akan berpisah.”

Xuan Xiao tampak tak rela dan tetap mencoba untuk menahan Tian He tinggal, “Tian He, jika Kakak berharap kamu tinggal, apakah kamu tetap tidak bersedia?”

Tian He dengan menyesal menjawab, “Mungkin, di sini memang bukan tempatku. Aku kembalikan Sisik Kun padamu, untuk mewujudkan keinginan orang tuaku dan keinginanku sendiri. Kakak, jika berperang dengan dunia Siluman, kau harus berjanji pada Tian He harus melindungi dirimu sendiri.”

Mendengar jawaban Tian He, Xuan Xiao tahu tekad Tian He untuk pergi sudah bulat. Xuan Xiao mengerti bahwa setiap orang memiliki ambisinya sendiri dan dia tidak berhak memaksa. Setelah berpamitan, Tian He akan melangkah pergi, namun sebelum Tian He pergi, Xuan Xiao sempat mengucapkan “Terima kasih” dengan air mata menetes di pipinya.

Di kota Praja Boxian, Meng Li memanggil Gui Xie dan Xi Zhong untuk mengetahui yang sebenarnya terjadi 19 tahun yang lalu dan meminta waktu untuk berpikir seraya menunggu Tian He dan Ling Sha kembali.

Gui Xie berkata kalau sekte Qiong Hoa tidak mungkin melepaskan Yun Tian He karena dia adalah penguasa Pedang Wang Shu, daripada melepaskannya, mereka lebih baik membunuhnya. Khawatir dengan keadaan Tian He, Meng Li pun memutuskan kembali ke sekte Qiong Hoa.

Di sekte Qiong Hoa, Tian He dan Ling Sha yang akan pergi dihadang oleh Murong Zhi Ying yang meminta pedang Wang Shu dikembalikan ke sekte Qiong Hoa. Tian He yang merasa Pedang Wang Shu memang milik sekte Qiong Hoa pun, memberikannya dengan sukarela.

Tapi saat Tian He dan Ling Sha ingin pergi, Tetua Xu Yi menghadang mereka. Tetua Xu Liang dan Zhi Ying menyuruh untuk membiarkan Tian He dan Ling Sha pergi tapi Tetua Xu Yi menolak. Tepat pada saat Tetua Xu Yi ingin menyerang Tian He, Meng Li datang menghentikannya.

Dan ketika Tetua Xu Yi ingin menyerang Meng Li juga, pengawal Meng Li yang bersembunyi di dalam kalungnya tiba-tiba muncul dan menghadangnya.

Dan tiba-tiba saja Meng Li berubah wujud di hadapan mereka semua. Kali ini Meng Li tak mampu lagi menutupi jati dirinya yang sesungguhnya yang adalah Ketua Muda dari Klan Siluman. Zhi Ying sangat shock saat mengetahui kebenarannya.


Dan akhirnya dia mengerti bahwa Siluman yang ingin Tian He lindungi adalah Meng Li. Tian He pun menyuruh Ling Sha dan Meng Li pergi lebih dulu karena tahu bahwa sekte Qiong Hoa takkan melepaskan Meng Li. Tapi Meng Li bersikeras menolak dan ingin mereka pergi bersama.

Tepat saat itu, Gui Xie dan Xi Zhong datang untuk menyelamatkan Ketua Muda mereka. Pertarungan pun tak terhindarkan. Namun Xi Zhong sempat membuka gerbang sihir agar Klan Siluman bisa pergi dari sana.

Sialnya, Ketua Sekte Su Yao dan Tetua Su Xi tiba di sana dan menghancurkan gerbang sihir itu. Pertempuran kembali terjadi antara klan Siluman melawan Tetua Su Xi, Tetua Xu Yi serta murid-murid Tetua Xu Yi. Sementara murid dari Tetua Xu Liang hanya melihat dan tidak tahu ingin memihak siapa.

Di tengah pertempuran itu, mereka melihat ada pergerakan aneh dari wilayah terlarang, sepertinya Xuan Xiao sudah berhasil memecahkan lapisan es dan akan segera keluar dari sana.

Bersambung...

Sebelumnya =>

Selanjutnya =>
Ep 34
Ep 35
Ep 36