Masih berbicara tentang serial wuxia legendaris "The Legend Of The Condor Heroes (Pendekar Pemanah Rajawali)" yang diadaptasi dari novel terkenal karya Chin Yung (Louis Cha). Setelah di postingan sebelumnya kita membahas tentang sosok sang Putri Mongol, Hua Zheng (Go Chin) yang merupakan teman sepermainan Guo Jing sejak kecil sekaligus tunangannya, maka sekarang kita akan berbicara tentang sang pemeran utama pria alias tokoh utama pria dalam cerita yaitu Guo Jing (Kwee Cheng).
Hingga saat ini, serial wuxia legendaris "The Legend Of The Condor Heroes (Pendekar Pemanah Rajawali)" telah diadaptasi sebanyak delapan kali dengan adaptasi terbaru pada tahun 2024 silam dan sebuah film layar lebar berjudul "The Legend Of The Condor Heroes: The Gallants (2025)".
Tak perlu berlama-lama, bagi kalian penonton lawas pasti sudah tidak asing lagi dengan karakter Guo Jing (Kwee Cheng), kan? Namun aku juga yakin kalau untuk generasi baru yang bukan penggemar wuxia sejati serial yang diangkat dari novel ini, kalian pasti penasaran tentang siapa sih sebenernya Guo Jing (Kwee Cheng) ini? Kenapa juga harus sampe diremake berkali-kali? Untuk kalian yang gak tahu, gak ada salahnya menyimak penjelasan di bawah ini!
Catatan:
Mayoritas foto-foto di bawah ini diambil dari "The Legend Of The Condor Heroes 2017" yang merupakan versi adaptasi favorit penulis ( ﹡ˆoˆ﹡ )
Catatan:
Mayoritas foto-foto di bawah ini diambil dari "The Legend Of The Condor Heroes 2017" yang merupakan versi adaptasi favorit penulis ( ﹡ˆoˆ﹡ )
Sekilas tentang Guo Jing:
Guo Jing adalah tokoh utama dalam novel "The Legend of the Condor Heroes (Pendekar Pemanah Rajawali)" yang ditulis oleh Chin Yung (Louis Cha). Nama hokkien dari Guo Jing adalah Kwee Ceng. Mungkin nama ini lebih dikenal di Indonesia karena versi pertama kali yang masuk ke dalam layar kaca Indonesia adalah versi adaptasi tahun 1983 (dibintangi oleh Felix Wong dan mendiang Barbara Yung) yang merupakan produksi Hongkong dan saat itu menggunakan bahasa Hokkien.
Kisah Pahlawan Besar Guo Jing ini sangat terkenal dengan patriotisme dan semangat kepahlawanannya terhadap bangsa dan negara serta pengorbanannya dalam menjaga kota Xiang Yang dari serangan bangsa Mongolia. Kota Xiang Yang merupakan pusat perbatasan penting dengan daerah kekuasaan Mongol, sehingga sangat kritis dan perlu dijaga ketat.
Guo Jing dan keluarganya berjuang hingga akhir hayat dalam menjaga dan mempertahankan Benteng Xiang Yang. Diceritakan dalam novel "The Heaven Sword and Dragon Sabre (Pedang Pembunuh Naga/To Liong To/Yi Tian Tu Long Ji)", Guo Jing dan seluruh keluarganya (kecuali putri bungsunya, Guo Xiang/Kwee Siang) tewas di dalam benteng Xiang Yang dalam usahanya mempertahankan kota. Saat itu Guo Jing berusia 74 tahun.
Kisah Pahlawan Besar Guo Jing ini sangat terkenal dengan patriotisme dan semangat kepahlawanannya terhadap bangsa dan negara serta pengorbanannya dalam menjaga kota Xiang Yang dari serangan bangsa Mongolia. Kota Xiang Yang merupakan pusat perbatasan penting dengan daerah kekuasaan Mongol, sehingga sangat kritis dan perlu dijaga ketat.
Meskipun sepanjang hidupnya, Guo Jing berjuang mati-matian dalam melawan invasi bangsa Mongolia, tetapi sebenarnya Guo Jing dibesarkan di Mongolia dan mempunyai hubungan baik dengan keluarga Khan (mulai dari Jengis Khan, Tolui, Putri Hua Zheng, Guru Jebe, dll). Namun walau begitu, dia tidak melupakan asal usul dan jati dirinya sebagai bangsa Song (baca: Sung).
Saat bangsa Mongol sukses menghancurkan negara Jin (baca: Chin), dan mereka berkeinginan untuk memperluas wilayah kekuasaan dengan menyerang negara Song, Jenghis Khan memberi perintah rahasia jika Guo Jing melawan, maka akan langsung dieksekusi di tempat. Guo Jing yang mengetahui rencana ini kemudian meninggalkan Mongol dan memutuskan untuk berjuang demi negaranya.
Saat bangsa Mongol sukses menghancurkan negara Jin (baca: Chin), dan mereka berkeinginan untuk memperluas wilayah kekuasaan dengan menyerang negara Song, Jenghis Khan memberi perintah rahasia jika Guo Jing melawan, maka akan langsung dieksekusi di tempat. Guo Jing yang mengetahui rencana ini kemudian meninggalkan Mongol dan memutuskan untuk berjuang demi negaranya.
Guo Jing (sederhana: 郭靖, tradisional: 郭靖, pinyin: Guō Jìng/Kwok Ching, Hokkien: Kwee Cheng) adalah seorang ahli bela diri dan pahlawan besar yang dihormati dari Dinasti Song. Ayah Guo Jing bernama Guo Xiao Tian dan ibunya bernama Li Ping, walaupun memiliki darah Song, namun ia dibesarkan di padang rumput Mongolia di bawah perlindungan Temüjin. Kelak, ia kemudian menjadi pahlawan besar China dan bergelar "Pendekar Utara" yang merupakan salah satu dari "Lima Besar Pendekar Hebat" dan pahlawan pembela Xiang Yang.
Keluarga Guo Jing adalah keturunan salah satu dari 108 pahlawan Liangshan bernama Guo Sheng. Ayah Guo Jing, Guo Xiao Tian, adalah seorang patriot yang tinggal di kota Lin'an yang membentuk ikatan persaudaraan yang mendalam dengan Yang Tie Xin. Mereka berdua memiliki kesetiaan yang sama kepada Dinasti Song. Suatu hari, kedua pria yang istrinya sedang sama-sama hamil ini bertemu dengan pendeta Taois bernama Qiu Chu Ji (Khu Chi Ke) di Desa Niu.
Para calon ayah meminta Qiu Chuji untuk membantu memberi nama anak-anak yang belum lahir tersebut. Ia memberi nama mereka Guo Jing dan Yang Kang, yang diambil dari Insiden Jingkang, ketika Kekaisaran Jin menangkap kaisar Song, untuk mengingatkan mereka akan penghinaan dan keluhan nasional terhadap Kerajaan Jin. Para calon ayah setuju dan bahkan membuat kesepakatan jika anak mereka berjenis kelamin berbeda maka kedua anak tersebut akan dinikahkan, tapi jika mereka berjenis kelamin sama maka kedua anak tersebut akan menjadi saudara angkat seperti kedua ayah mereka.
Tak lama kemudian, mereka diserang oleh oleh pasukan Jin tapi berhasil mereka pukul mundur. Kemudian salah satu prajurit Jin terluka tetapi sialnya tidak tewas. Istri Yang Tie Xin, Bao Xi Ruo, yang cantik, baik hati dan berhati lembut, tak sengaja menemukannya dan merawatnya hingga sembuh. Pria ini ternyata adalah Wanyan Honglie, Pangeran Keenam Kekaisaran Jin.
Dari sinilah tragedi dimulai. Wanyan Honglie tak hanya berterima kasih namun juga jatuh cinta pada Bao Xi Ruo. Wanyan Honglie tidak peduli walaupun Bao Xi Ruo sudah memiliki seorang suami dan mengandung seorang anak, dia tetap menginginkan wanita itu dan menikahinya bagaimana pun caranya. Dia pun mengatur rencana keji untuk merebut Bao Xi Ruo dari suaminya yaitu dengan cara membunuhnya, kemudian dia akan muncul sebagai Dewa Penolong yang akan menyelamatkan seorang wanita cantik yang tidak berdaya.
Untuk melaksakan rencananya, Wanyan Honglie bekerja sama dengan pengkhianat Song, bernama Duan Tian De (Thuan Tian Tek), untuk menyerang Desa Niu, menyebabkan Guo Xiao Tian tewas selama penyerangan tersebut. Duan Tian De kemudian menangkap Li Ping (istri Guo Xiao Tian), yang saat itu sedang mengandung Guo Jing, tetapi ia berhasil melarikan diri ke utara saat badai salju yang dahsyat menuju Mongolia, di mana ia melahirkan Guo Jing di tengah pertempuran. Meskipun lahir di Mongolia, akar leluhurnya berada di Provinsi Shandong, tempat keluarganya melarikan diri untuk menghindari penindasan Jin.
Hingga usia enam tahun, Guo Jing tinggal bersama ibunya di sebuah yurt kecil di padang rumput Mongolia, menghabiskan hari-harinya yang damai dengan menggembalakan domba. Meskipun lambat berbicara dan berpikir, namun Guo Jing kecil menunjukkan tanda-tanda keberanian dan kebenaran sejak masih anak-anak.
Suatu hari seekor elang hitam menyerang dombanya, menyebabkan seekor anak domba kecil melarikan diri ketakutan ke arah timur. Guo Jing mengejar hewan yang tersesat itu sejauh tujuh atau delapan li, jauh dari wilayah biasanya. Ketika akhirnya ia menangkap anak domba itu, ia mendengar suara gemuruh di kejauhan yang awalnya ia kira guntur. Guo Jing mendapati dirinya menyaksikan pertempuran epik antara pasukan Mongol—bentrokan yang akan menentukan kebangkitan Temüjin ke tampuk kekuasaan.
Ketika pertempuran berakhir, Guo Jing kecil menemukan seorang prajurit yang terluka—Jenderal Besar Jebe—bersembunyi di dekat yurt keluarganya. Wajah jenderal yang terluka itu berlumuran darah, dan kuda hitamnya memiliki luka di kakinya. Meskipun dalam bahaya, Guo Jing yang berusia enam tahun membawa air dari kendi keluarga mereka dan memberi makan orang asing itu potongan daging domba yang telah dimasak ibunya. Ketika para pengejar Jebe tiba untuk meminta informasi, Guo Jing kecil dengan cerdik mengalihkan perhatian mereka dengan mengarahkan kuda hitam yang khas itu ke arah yang berlawanan, memungkinkan sang jenderal untuk tetap bersembunyi di tumpukan jerami besar sampai bahaya berlalu.
Tindakan keberanian naluriah dan pemikiran cepat dari anak semuda itu membuat Jenderal Besar Jebe sangat terkesan. Sebagai ungkapan terima kasih, ia menawarkan Guo Jing sebuah gelang emas tebal, tetapi anak laki-laki itu menolak, mengatakan bahwa ibunya telah mengajarinya untuk membantu orang lain tanpa menerima hadiah. Tanggapan ini semakin membuat kagum Jenderal Besar tersebut, yang mengenali landasan moral yang akan membentuk karakter Guo Jing. Jenderal Besar Jebe pun menceritakan hal itu pada Temujin.
Terkesan dengan keberanian dan kecerdasan anak kecil itu, Temüjin mengambil Guo Jing dan ibunya di bawah perlindungannya. Mereka dipindahkan ke perkemahan utama, tempat Guo Jing dibesarkan bersama anak-anak Temüjin sendiri. Ia menjalin ikatan yang sangat erat dengan Tolui, putra keempat Khan, dan mereka menjadi "An Ta", saudara angkat dalam tradisi Mongol. Tak hanya itu, Guo Jing dijodohkan dengan Putri Hua Zheng (Go Chin) dan diberi gelar "Menantu Pisau Emas Mongolia".
Sejak saat itu, Guo Jing berlatih di bawah bimbingan pemanah hebat Jebe, yang nyawanya telah ia selamatkan. Meskipun dia lambat dalam belajar, Guo Jing menunjukkan bakat luar biasa dalam memanah. Prestasi paling terkenalnya selama periode ini adalah menembak jatuh dua elang dengan satu anak panah, sebuah pertunjukan keterampilan yang bahkan membuat kagum para prajurit Mongol yang berpengalaman.
Prestasi ini membuatnya sangat dihormati di antara suku-suku Mongol dan memperkuat posisinya di istana Temüjin. Keahliannya dalam memanah sangat mumpuni sehingga ia bisa menembak sambil menunggang kuda dengan kecepatan penuh, sebuah teknik yang membutuhkan koordinasi sempurna antara kuda dan penunggangnya. Dari sinilah judul "Pendekar Pemanah Rajawali" berasal.
Tak lama kemudian, "Tujuh Pendekar Aneh dari Jiang Nan" melakukan perjalanan ke Mongolia untuk mencari Guo Jing setelah bertaruh dengan Qiu Chu Ji untuk melatih putra Guo Xiao Tian. Setelah menemukan bocah berusia enam tahun itu di padang rumput Mongol, mereka awalnya kecewa dengan kurangnya bakat alami yang dimilikinya, tetapi sifatnya yang tulus dan usaha Guo Jing yang tak kenal lelah secara bertahap memenangkan rasa hormat mereka.
Masing-masing dari "Tujuh Pendekar Aneh dari Jiang Nan" mengajarkan keahliannya: Ke Zhen Er, sang guru buta yang menunjukkan bahwa keterbatasan fisik tidak perlu menghalangi penguasaan. Zhu Cong, yang metode berbasis kecerdasannya mengajarkan Guo untuk berpikir sebelum bertindak. Han Bao Ju, yang mengembangkan kemampuan berkuda alami bocah itu. Nan Xi Ren, ahli tongkat yang pendiam. Han Xiao Ying, yang teknik pedangnya memberikan keanggunan untuk menyeimbangkan pendekatannya yang lugas. Zhang Ah Sheng, prajurit perkasa. Dan Quan Jin Fa, ahli senjata tersembunyi.
Namun pelatihan mereka terganggu secara dramatis ketika mereka bertemu dengan Mei Chao Feng dan Chen Xuan Feng, "Iblis Kembar Angin Hitam" yang terkenal karena telah mencuri Kitab Sembilan Yin dari guru mereka. "Tujuh Pendekar Aneh dari Jiang Nan" pun terlibat dalam pertempuran sengit dengan lawan-lawan tangguh ini, hingga menyebabkan Zhang Ah Sheng terbunuh oleh Chen Xuan Feng. Dalam kekacauan pertempuran, Guo Jing kecil secara tidak sengaja membunuh Chen Xuan Feng ketika penjahat itu menangkapnya, yang memberinya pengenalan keras terhadap realitas mematikan dunia persilatan.
Pertemuan ini sangat penting karena menandai pengalaman pertama Guo Jing dengan aspek-aspek gelap dunia persilatan, di mana hidup dan mati dipertaruhkan. Kematian Zhang Ah Sheng, salah satu guru kesayangannya, meninggalkan kesan mendalam padanya dan memperkuat pemahamannya tentang pentingnya melindungi orang yang tidak bersalah dan melawan kejahatan.
Saat Guo Jing bersiap melakukan perjalanan ke selatan untuk melaksanakan janji duel di Jiaxing, pendidikan seni bela dirinya meluas melampaui "Tujuh Pendekar Aneh dari Jiang Nan". Hal ini karena selama berada di Mongolia, ia menerima instruksi tambahan yang sangat penting dari beberapa guru terkenal yang kebetulan mengunjungi padang rumput Mongolia.
Pendeta Ma Yu, pemimpin Perguruan Quan Zhen (baca: Chuan Chen), mengenali potensi anak laki-laki itu untuk kultivasi internal (tenaga dalam) meskipun ia tampak lambat dalam berpikir. Melakukan sesi latihan tengah malam secara diam-diam di tebing curam untuk menghindari komplikasi dengan "Tujuh Pendekar Aneh dari Jiang Nan", Ma Yu mengajarinya teknik pernapasan Taois dan kultivasi qi dasar. Pelajaran rahasia ini membangun fondasi Guo dalam tenaga dalam, terbukti sangat berharga ketika ia kemudian bertemu dengan Kitab Sembilan Yin.
Ketika "Tujuh Pendekar Aneh dari Jiang Nan" menemukan pelajaran rahasia ini, mereka mencurigai Mei Chao Feng yang mengajari Guo Jing teknik terlarang. Namun kemudian Ma Yu mengungkapkan dirinya. Dengan menggunakan seni bela dirinya yang unggul, ia bahkan menakut-nakuti Mei Chao Feng yang buta dan menyelesaikan kesalahpahaman antara "Tujuh Pendekar Aneh dari Jiang Nan" dan dirinya sendiri. Pendeta Quan Zhen lainnya termasuk Wang Chu Yi dan Qiu Chu Ji juga berkontribusi ketika mereka berkunjung, mengajarinya dasar-dasar Formasi Bintang Biduk.
Pada usia delapan belas tahun, Guo Jing melakukan perjalanan ke selatan untuk pertama kalinya dalam rangka memenuhi perjanjian duel antara "Tujuh Pendekar Aneh dari Jiang Nan" dan Qiu Chu Ji, yang mengharuskannya bertemu Yang Kang untuk kontes bela diri.
Selama perjalanannya ke selatan dari padang rumput Mongolia, ia bertemu Huang Rong, putri Huang Yao Shi, si "Sesat Timur". Di dekat Zhang Jia Kou, dalam keadaan kelelahan dan basah kuyup karena hujan, Guo Jing bertemu dengan seorang anak laki-laki yang tampak seperti pengemis yang menggigil di tengah hujan deras.
Ketika orang asing ini—yang kemudian diketahui sebagai Huang Rong—meminta roti kukus dan kuda merahnya, harta benda berharga menurut standar Mongol, Guo Jing memberikannya tanpa ragu-ragu. Tindakan kemurahan hati tanpa pamrih ini mengungkapkan kebajikan inti yang akan mendefinisikan kepahlawanannya. Huang Rong, yang menguji karakternya melalui tipu daya yang disengaja, mendapati dirinya benar-benar tersentuh oleh kebaikan Guo Jing yang tanpa pikir panjang.
Pertemuan mereka menjadi dasar kemitraan di mana kecerdasan brilian Huang Rong melengkapi integritas teguh dan membentuk landasan emosional kehidupan Guo Jing. Penyamaran Huang Rong sebagai anak pengemis begitu meyakinkan sehingga Guo Jing tidak menyadari bahwa ia berurusan dengan seorang gadis muda yang cantik. Manipulasi cerdas dan pengujian karakter yang dilakukan Huang Rong mengungkapkan kedalaman karakter moral Guo Jing, sementara kebaikan tulus dan ketulusannya menyentuh hatinya dengan cara yang belum pernah ia alami sebelumnya.

Sebenarnya Li Yi Tong gak jelong2 amat, dia masih enak dipandang dibanding versi 2025 yang kek pengemis, hanya saja kantung matanya membuat wajahnya terlihat sendu dan sayu, Huang Rong versi dia juga termasuk Huang Rong yang cengeng.
Pertemuan ini menandai awal dari sebuah hubungan yang akan menentukan kehidupan mereka berdua, karena mereka tidak hanya menjadi pasangan romantis tetapi juga tim paling efektif di dunia persilatan, menggabungkan kecerdasan strategis Huang Rong dalam mengatasi setiap masalah dengan keteguhan moral dan kemampuan bela diri Guo Jing.
Selama perjalanan mereka bersama, Guo Jing dan Huang Rong bertemu dengan banyak pendekar hebat dari dataran China. Yang pertama adalah Hong Qi Gong (Ang Cit Khong), sang "Pengemis Utara" dan Ketua Partai Pengemis.
Terkesan oleh keahlian kuliner Huang Rong yang luar biasa dan karakter Guo Jing yang jujur, Hong Qi Gong (Ang Cit Khong) setuju untuk mengajari Guo Jing jurus andalannya yaitu "Delapan Belas Tapak Penakluk Naga". Selama dua bulan, Hong Qi Gong (Ang Cit Khong) mengajari Guo Jing lima belas teknik dari "Delapan Belas Tapak Penakluk Naga" pertama, dengan tiga teknik terakhir akan diselesaikan kemudian.
Keputusan Hong Qi Gong (Ang Cit Khong) untuk mengajari Guo Jing tidak hanya didasarkan pada karakter jujurnya tetapi juga pada pengakuannya bahwa sifat Guo yang lugas sangat cocok untuk "Delapan Belas Tapak Penakluk Naga". Teknik ini tidak membutuhkan kecerdasan tetapi tekad dan landasan moral yang kuat, dan kualitas ini dimiliki Guo Jing secara berlimpah.
Babak penting dalam perkembangan Guo Jing terjadi ketika ia mengunjungi Pulau Bunga Persik, tempat tinggal Huang Yao Shi. Di sana, ia bertemu Zhou Bo Tong (Chiu Pek Tong), seorang ahli bela diri eksentrik yang dikenal sebagai "Si Bocah Tua Nakal". Meskipun awalnya bermusuhan, mereka menjalin ikatan yang kuat dan menjadi saudara angkat meskipun perbedaan usia mereka cukup besar.
Zhou Bo Tong (Chiu Pek Tong) mengajari Guo Jing Jurus "Tujuh Puluh Dua Pukulan Kosong", teknik tinju canggih yang menekankan fleksibilitas dan ketidakpastian. Lebih penting lagi, ia memperkenalkan Guo Jing pada teknik bela diri "Tangan Kiri Melawan Tangan Kanan" yang memungkinkannya menggunakan dua seni bela diri yang berbeda secara bersamaan. Anehnya, Guo Jing yang biasanya lambat belajar menguasai teknik kompleks ini dengan cepat, sementara kekasihnya yang cerdas, Huang Rong, sama sekali tidak dapat memahaminya.
Mungkin yang paling signifikan, melalui Zhou Bo Tong (Chiu Pek Tong), Guo Jing memperoleh akses ke "Kitab Sembilan Bulan (Nine Yin Manual)", kitab seni bela diri yang paling didambakan pada era itu. Zhou Bo Tong (Chiu Pek Tong), yang dilarang oleh seniornya (Wang Chong Yang) untuk mempelajari isinya, menipu Guo Jing agar menghafal seluruh kitab tersebut. Pelatihan yang tak terduga ini terbukti mengubah perkembangan seni bela diri Guo Jing, memberinya wawasan mendalam tentang kultivasi qi dan teknik pertempuran tingkat lanjut.
"Kitab Sembilan Bulan (Nine Yin Manual)" berisi kumpulan pengetahuan seni bela diri terlengkap yang pernah dikumpulkan, termasuk metode kultivasi internal, teknik penyembuhan, dan berbagai aplikasi pertempuran. Penguasaan Guo Jing atas kitab ini, dikombinasikan dengan pelatihan yang telah ia jalani sebelumnya, pada akhirnya menjadikannya salah satu seniman bela diri terkuat di generasinya. Ajaran dalam kitab tersebut melengkapi sifatnya yang lugas, karena menekankan aplikasi praktis daripada kompleksitas teoritis.
Hong Qi Gong (Ang Cit Khong) yang tiba di pulau itu untuk membantu Guo Jing dalam upayanya mendapatkan Huang Rong, bertemu dengan Ou Yang Feng yang juga muncul dan ingin mengatur pernikahan antara keponakannya, Ou Yang Ke, dan Huang Rong. Huang Yao Shi akhirnya mengusulkan tiga kontes untuk menentukan nasib putrinya, yang dimenangkan Guo Jing melalui tekad dan bantuan gurunya.
Ketika mereka meninggalkan Pulau Bunga Persik, Ou Yang Feng memaksa Guo Jing untuk menuliskan "Kitab Sembilan Bulan (Nine Yin Manual)" dengan mengancam nyawa mereka. Mengikuti saran Hong Qi Gong (Ang Cit Khong), Guo Jing sengaja mengubah isi kitab tersebut sebelum memberikannya kepada Ou Yang Feng, sebuah tipu daya yang kemudian akan menyebabkan kemerosotan mental Ou Yang di kemudian hari.
Hong Qi Gong yang terluka akibat racun Ou Yang Feng akhirnya menyerahkan posisi Ketua Partai Pengemis kepada Huang Rong ketika mereka terdampar di sebuah pulau terpencil. Namun sayangnya, setelah kembali ke Desa Niu, Tongkat Pemukul Anjing yang merupakan lambang Ketua Partai Pengemis dicuri oleh Yang Kang.
Demi merebut kembali tongkat tersebut, Guo Jing dan Huang Rong menghadiri pertemuan akbar Partai Pengemis di Pulau Junshan di Danau Dongting. Saat itu, Yang Kang yang mengetahui kehadiran mereka di sana, menyuruh salah satu tetua partai pengemis untuk menangkap Guo Jing dan Huang Rong dengan tuduhan membunuh ketua Hong Qi Gong (Ang Cit Khong).
Pertemuan ini akhirnya menjadi demonstrasi besar pertama Guo Jing tentang kecemerlangan taktisnya dalam menguasai "Formasi Bintang Biduk" yang pernah diajarkan oleh Wang Chu Yi dan Ma Yu. Ketika Yang Kang mencoba merebut kendali Partai Pengemis dari tangan Huang Rong dengan menggunakan "Tongkat Pemukul Anjing" yang dicurinya dari Huang Rong, penguasaan Guo Jing atas "Formasi Bintang Biduk" terbukti menentukan dalam mengungkap tipu daya tersebut.
Demi merebut kembali tongkat tersebut, Guo Jing dan Huang Rong menghadiri pertemuan akbar Partai Pengemis di Pulau Junshan di Danau Dongting. Saat itu, Yang Kang yang mengetahui kehadiran mereka di sana, menyuruh salah satu tetua partai pengemis untuk menangkap Guo Jing dan Huang Rong dengan tuduhan membunuh ketua Hong Qi Gong (Ang Cit Khong).
Integrasi teknik Perguruan Quan Zhen dengan formasi tersebut menunjukkan bagaimana pelatihan beragamnya mulai menyatu menjadi gaya bertarung yang unik. Lebih penting lagi, dukungannya memastikan suksesi Huang Rong sebagai Ketua Partai Pengemis yang baru, membangun kemitraan mereka sebagai sekutu romantis dan politik dalam perjuangan yang lebih luas melawan invasi asing.
Pertemuan tersebut juga menandai pemahaman Guo Jing yang semakin berkembang tentang kepemimpinan, saat ia belajar menyeimbangkan loyalitas pribadi dengan prinsip-prinsip yang lebih besar—sebuah keterampilan yang akan terbukti penting selama perjuangannya mempertahankan Benteng Xiang Yang di kemudian hari.
Petualangan Guo Jing dan Huang Rong berikutnya adalah mencari Kitab Wumu (Kitab Bubok/Wumu Yi Shu) yang membawanya ke Puncak Tapak Besi di Gunung "Lima Jari", tempat kitab militer yang ditulis oleh jenderal Song, Yue Fei, disembunyikan. Kitab militer ini, yang sangat dicari oleh kekuatan Tiongkok dan asing, berisi strategi dan taktik militer tingkat lanjut.
Selama upaya untuk mengambil buku tersebut, Huang Rong terluka parah oleh teknik Tapak Besi Qiu Qian Ren. Luka itu sangat serius sehingga membutuhkan ilmu penyembuhan "Kaisar Selatan" untuk menyelamatkan nyawanya, yang mengarah pada petualangan mereka selanjutnya.
Guo Jing menemukan buku itu secara kebetulan dan mendedikasikan dirinya untuk menguasai isinya. Meskipun banyak yang meremehkan kemampuan intelektualnya, pengalaman praktisnya dalam kampanye militer Mongol memungkinkannya untuk memahami dan menerapkan strategi-strategi ini secara efektif. Pengetahuan yang diperoleh dari buku ini kemudian terbukti sangat berharga selama mempertahankan Benteng Xiang Yang dan dalam tugas militernya bersama pasukan Mongol melawan Kekaisaran Khwarazmian.
Untuk menyelamatkan nyawa Huang Rong, Guo Jing mencari "Kaisar Selatan" Duan Zhi Xing (kemudian dikenal sebagai Guru Besar Yideng). Perjalanan mereka membawa mereka melalui Rawa Hitam, di mana mereka bertemu Yinggu, seorang wanita yang pernah menjadi selir "Kaisar Selatan" namun kemudian berselingkuh dengan Zhou Bo Tong (Chiu Pek Tong) hingga melahirkan seorang anak haram.
Anak haram tersebut terluka parah oleh Tapak Besi Qiu Qian Ren dan hanya bisa disembuhkan oleh sang "Kaisar", namun tentu saja sebagai seorang suami yang diselingkuhi, dia menolak menyembuhkan bayi hasil perselingkuhan tersebut.
Bayi tersebut akhirnya meninggal karena dibunuh oleh Yinggu sendiri karena tidak ingin melihat bayinya menderita, tapi wanita itu justru menyalahkan sang Kaisar yang menolak menyelamatkan bayinya. (Salahkan dirimu sendiri, hai wanita! Kenapa kamu sejak awal selingkuh? Cuma suami bodoh yang bersedia menyelamatkan bayi hasil selingkuhan! Masih untung kamu gak diusir dari Istana. Masih bisa makan, minum, tinggal gratis sampe melahirkan anak haram karena Zhou Bo Tong menolak bertanggung jawab)
Bayi tersebut akhirnya meninggal karena dibunuh oleh Yinggu sendiri karena tidak ingin melihat bayinya menderita, tapi wanita itu justru menyalahkan sang Kaisar yang menolak menyelamatkan bayinya. (Salahkan dirimu sendiri, hai wanita! Kenapa kamu sejak awal selingkuh? Cuma suami bodoh yang bersedia menyelamatkan bayi hasil selingkuhan! Masih untung kamu gak diusir dari Istana. Masih bisa makan, minum, tinggal gratis sampe melahirkan anak haram karena Zhou Bo Tong menolak bertanggung jawab)
Proses penyembuhan membutuhkan penyelesaian konflik emosional antara ketiga individu ini, yang melibatkan segitiga cinta tragis dari masa lalu. Melalui intervensi Guo Jing dan pendekatan moralnya yang lugas, keluhan yang telah lama ada akhirnya terselesaikan. Selama waktu ini, Guru Besar Yideng dan murid-muridnya juga membantu menerjemahkan bagian-bagian Sansekerta dari Kitab Sembilan Yin, memberi Guo akses penuh ke ajaran-ajaran mendalamnya.
Pertemuan dengan Guru Besar Yideng sangat penting karena memberi Guo Jing akses ke "Kitab Sembilan Bulan (Nine Yin Manual)" lengkap, termasuk bagian-bagian Sansekerta yang berisi ajaran-ajaran paling canggih.
Proses penerjemahan dari bahasa Sansakerta tersebut sangat kompleks dan membutuhkan pengetahuan gabungan dari beberapa guru, tetapi hasilnya adalah pemahaman komprehensif tentang isi kitab yang akan terbukti sangat berharga dalam perkembangan Guo Jing di kemudian hari.
Proses penerjemahan dari bahasa Sansakerta tersebut sangat kompleks dan membutuhkan pengetahuan gabungan dari beberapa guru, tetapi hasilnya adalah pemahaman komprehensif tentang isi kitab yang akan terbukti sangat berharga dalam perkembangan Guo Jing di kemudian hari.

Lima Pendekar Aneh Dari Jiang Nan yang dibunuh oleh Yang Kang dan Ou Yang Feng di Pulau Bunga Persik.
Ketika Guo Jing dan Huang Rong kembali ke Pulau Bunga Persik, mereka menemukan bahwa lima orang dari "Tujuh Pendekar Aneh Dari Jiang Nan" telah terbunuh. Guo Jing, melihat Ke Zhen Er mengenakan pakaian berkabung dan mengetahui kematian tersebut, secara keliru percaya bahwa Huang Yao Shi bertanggung jawab. Dalam kesedihan dan kemarahannya, ia memutuskan hubungannya dengan Huang Rong dan meninggalkan pulau itu untuk membalas dendam.
Kesalahpahaman ini menyebabkan perpisahan yang menyakitkan, dengan Guo Jing kembali ke Dataran Tengah sendirian, bertekad untuk membalaskan dendam atas kematian kelima gurunya sementara Huang Rong menghadapi patah hati dan masalah keluarga yang dialaminya.
Menyusul peristiwa-peristiwa ini dan berbagai masalah lainnya, termasuk insiden di Kuil Wang Tie Gun, Guo Jing dan Huang Rong berpisah selama kurang lebih enam bulan. Selama waktu itu, Guo tanpa lelah mencari kekasihnya setelah mengetahui bahwa Huang Yao Shi tidak bersalah dan Yang Kang serta Ou Yang Feng-lah yang telah membunuh kelima gurunya, sementara Huang Rong menghadapi tantangannya sendiri.
Pada musim semi, Guo Jing kembali ke Mongolia dan bergabung kembali dengan pasukan Jenghis Khan untuk kampanye ke Barat melawan Kekaisaran Khwarazmian. Ia memegang pangkat bergengsi Marsekal Sayap Kanan (右军元帅) dan dengan gelar sebagai "Menantu Pisau Emas Mongol", posisi yang mencerminkan kepercayaan sejati daripada sekadar kehormatan seremonial.
Masa peperangan tersebut mengungkapkan transformasi Guo Jing dari seorang anak gembala sederhana menjadi seorang ahli strategi militer yang canggih. Pasukannya, yang dilatih menurut prinsip-prinsip dari Kitab Wumu, menunjukkan taktik inovatif yang menggabungkan pemikiran strategis Tiongkok dengan mobilitas dan kecepatan Mongol. Selama serangan malam dan operasi pengepungan, pendekatan unik Guo Jing secara konsisten membingungkan para komandan musuh yang telah terbiasa dengan pola peperangan tradisional Mongol.
Namun, justru pada masa kejayaan militer inilah Guo Jing menemukan rencana utama Khan untuk menyerang wilayah Song setelah menyelesaikan penaklukan wilayah barat. Pengungkapan ini memaksanya untuk menghadapi konflik mendasar antara loyalitas pribadi dan kewajiban patriotik yang akan menentukan sisa hidupnya.
Terungkapnya rencana Jenghis Khan untuk menyerang wilayah Song menciptakan situasi yang mustahil bagi Guo Jing dan ibunya, Li Ping untuk tetap tinggal. Ketika Khan menuntut partisipasi Guo Jing dalam perang melawan tanah leluhurnya, Li Ping menghadapi pilihan yang menyakitkan antara keselamatan putranya dan kesetiaan mereka sebagai rakyat Song.
Memahami bahwa penolakan mereka kemungkinan akan berujung pada pemenjaraan atau kematian, dan bahwa kehadirannya hanya akan menghalangi pelarian Guo Jing, Li Ping melakukan pengorbanan keibuan yang paling besar.
Daripada menjadi beban yang akan mencegah putranya memenuhi kewajibannya kepada rakyat, ia memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri, meninggal dengan kata-kata kesetiaan kepada Dinasti Song di bibirnya.
Daripada menjadi beban yang akan mencegah putranya memenuhi kewajibannya kepada rakyat, ia memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri, meninggal dengan kata-kata kesetiaan kepada Dinasti Song di bibirnya.
Tindakan terakhirnya merupakan demonstrasi patriotisme yang tak tergoyahkan sekaligus pembebasan putranya dari ikatan kewajiban berbakti yang mungkin menghalangi pelariannya. Dengan mengorbankan dirinya, ia memastikan Guo Jing dapat melarikan diri dengan hati nurani yang bersih, mengetahui bahwa ia memenuhi, bukan mengkhianati, keinginan terdalam ibunya.
Pengorbanan Li Ping sangat signifikan karena menunjukkan kedalaman komitmennya kepada putranya dan negaranya. Keputusannya untuk mengakhiri hidupnya sendiri daripada menjadi beban bagi Guo Jing menunjukkan pemahamannya bahwa terkadang tindakan cinta terbesar adalah menyingkirkan diri sendiri sebagai penghalang bagi tujuan yang lebih tinggi dari orang yang dicintai.
Pengorbanan ini menjadi momen penting dalam kehidupan Guo Jing, membentuk pemahamannya tentang kewajiban, pengorbanan, dan hubungan antara loyalitas pribadi dan pengabdian patriotik.
Rasa trauma atas kehilangan ini memperkuat komitmen Guo Jing terhadap perjuangan rakyat Song dan memberinya contoh kuat pengorbanan diri demi prinsip yang akan membimbingnya sepanjang hidupnya. Kematian Li Ping menjadi landasan emosional bagi pernyataannya di kemudian hari bahwa "Pahlawan sejati harus melayani negara dan rakyat."
Setelah melarikan diri dari Mongolia, Guo Jing awalnya dipandang dengan curiga oleh warga Song karena pakaian dan tingkah lakunya yang seperti orang Mongol. Dalam satu insiden, ia dipukuli oleh massa tetapi menolak untuk melawan balik, menunjukkan prinsipnya untuk tidak pernah menyakiti sesama bangsanya. Hong Qi gong (Ang Cit Khong)-lah yang akhirnya menyelamatkannya dan membantunya memulihkan semangatnya, mengingatkannya akan tujuan yang lebih tinggi.
Salah satu peristiwa paling signifikan dalam kehidupan Guo Jing adalah partisipasinya dalam Duel di Puncak Gunung Hua Kedua, sebuah pertemuan para ahli bela diri terhebat untuk menentukan petarung terkemuka di era tersebut. Pada saat itu, kemampuan Guo Jing telah mencapai tingkat yang luar biasa, memungkinkannya untuk bertahan melawan "Sesat Timur" Huang Yao Shi (Oey Yok Shu) dan "Pengemis Utara" Hong Qigong (Ang Cit Khong) selama lebih dari tiga ratus gerakan.
Namun, ketiganya akhirnya dikalahkan oleh "Racun Barat" Ou Yang Feng, yang menjadi gila setelah melakukan latihan terbalik dari "Kitab Sembilan Bulan (Nine Yin Manual)". Kekalahan ini memberikan pelajaran berharga bagi Guo Jing, menunjukkan bahwa bahkan ahli bela diri terkuat pun dapat dilemahkan oleh ketidakstabilan mental dan metode pelatihan yang tidak tepat.
Duel di Puncak Gunung Hua Kedua sangat penting karena menandai kemunculan Guo Jing sebagai salah satu ahli bela diri terbaik di generasinya. Kemampuannya untuk bertahan melawan dua dari "Lima Besar Pendekar Hebat" selama lebih dari tiga ratus gerakan menunjukkan efektivitas latihannya dan penguasaannya atas "Kitab Sembilan Bulan (Nine Yin Manual)". Pertemuan puncak ini juga memberinya pengalaman berharga dalam pertempuran tingkat tinggi, yang akan terbukti berguna dalam pertemuannya kemudian dengan lawan-lawan yang kuat di kemudian hari.
Selama pertemuan puncak ini, Guo Jing juga berdamai dengan Huang Rong setelah perpisahan mereka yang panjang, dan hubungan mereka secara resmi direstui oleh Hong Qi Gong (Ang Ci Khong) dan Huang Yao Shi (Oey Yok Shu). Restu dari dua dari "Lima Besar" ini memperkuat persatuan mereka baik secara pribadi maupun di mata dunia persilatan.
Setelah turun gunung, Guo Jing mendapat berita dari Tolui melalui rajawali peliharaannya bahwa Jenghis Khan menderita penyakit serius. Meskipun terdapat perbedaan politik di antara mereka, Guo Jing melakukan perjalanan terakhir untuk mengunjungi Jenghis Khan yang sedang sekarat di wilayah Xia Barat. Khan, yang kini sudah tua dan lemah, mengundang Guo Jing untuk bergabung dengannya dalam ekspedisi berburu, yang juga merupakan aktivitas terakhir mereka bersama.
Selama pertemuan yang mengharukan ini, mereka terlibat dalam diskusi filosofis tentang hakikat kepahlawanan. Ketika Khan membual tentang penaklukannya yang luas yang membentang dari Eropa Timur hingga Pasifik, Guo Jing menjawab bahwa pahlawan sejati melayani negara dan rakyatnya, bukan ambisi pribadi. Ia menunjukkan bahwa para penakluk besar pada akhirnya dilupakan, sementara mereka yang melayani rakyat dikenang dengan rasa syukur.
Percakapan ini sangat menyentuh hati sang penakluk yang sudah tua, yang menghabiskan saat-saat terakhirnya merenungkan kata-kata Guo Jing tentang apa yang merupakan kebesaran sejati. Khan meninggal dengan definisi kepahlawanan Guo Jing di bibirnya, menandai berakhirnya sebuah era dan pemutusan terakhir ikatan Guo Jing dengan latar belakang Mongolnya, menyelesaikan transformasinya menjadi Pahlawan Dinasti Song.
Setelah memutuskan hubungan dengan bangsa Mongol, Guo Jing dan Huang Rong menetap di Xiang Yang, sebuah kota perbatasan strategis yang sangat penting bagi pertahanan utara Dinasti Song. Meskipun tidak memegang pangkat militer resmi, reputasi dan keahlian Guo Jing menjadikannya komandan pertahanan kota secara de facto.
Meskipun komandan militer resmi adalah saudara Lu, Lü Wen De dan Lü Wen Xuan, mereka menghormati pengetahuan militer Guo Jing yang unggul. Guo Jing menerapkan prinsip-prinsip dari Kitab Wumu untuk memperkuat benteng kota dan melatih para pejuangnya. Di bawah bimbingannya, Xiang Yang dikenal di seluruh kekaisaran sebagai benteng yang tak tertembus.
Di tahun-tahun terakhirnya, ia menjabat sebagai komandan militer de facto Xiang Yang, di mana ia dan istrinya, Huang Rong, memimpin pertahanan kota melawan pasukan Mongol selama lebih dari tiga puluh tahun. Ia akhirnya mengorbankan nyawanya demi membela kota saat kejatuhannya ke tangan pasukan Kubhilai Khan, memilih kematian daripada menyerah sesuai dengan prinsip-prinsip hidupnya.
Guo Jing's Personality:
Guo Jing digambatkan sebagai sosok pemuda yang berperawakan tinggi, tegap, dengan mata besar, alis tebal, dada bidang dan wajah sekilas seperti sosok kasar, mempunyai sifat yang mementingkan negara di atas urusan pribadi, seorang patriotisme sejati, setia, jujur, polos, baik hati, tetapi lambat dalam belajar dan berpikir, serta memiliki landasan moral yang kuat. Dia seperti seseorang yang susah atau agak kesulitan untuk mengutarakan apa yang ada dipikirannya atau mengutarakan pendapatnya.
Meskipun awalnya dianggap lambat berpikir, sifatnya yang sederhana dan jujur, dikombinasikan dengan ketekunan yang luar biasa, memungkinkannya mencapai penguasaan seni bela diri dan menjadi pahlawan yang dihormati secara universal yang karakter moralnya memengaruhi banyak orang.
Kehidupannya mencontohkan transformasi dari awal yang sederhana menuju kebesaran heroik melalui integritas moral dan pengabdian kepada kebaikan yang lebih besar. Pada Puncak Gunung Hua Ketiga, ia mewarisi gelar "Pendekar Utara" dari gurunya, Hong Qi Gong (Ang Cit Khong), yang mengukuhkan posisinya di antara para ahli bela diri terhebat di generasinya.
Selain bertarung dan ilmu silat, Guo Jing juga ahli memanah dan berkuda, salah satu hal menghebohkan yang dia lakukan adalah saat memanah 2 ekor rajawali dengan sekali tembakan, saat itu dia menggunakan panah dan busur milik Jebe, yang lebih berat dari busur umumnya. Karena keahlian memanahnya itu juga, dia sering digambarkan menggunakan panah sebagai ciri khas atau ikonnya, padahal sepanjang cerita dia sendiri jarang memanah.
Nama Mandarin: Guo Jing (郭靖)
Nama hokkien: Kwee Ceng
Julukan: Pendekar Utara
Orang Tua:
Guo Xiao Tian (Ayah)
Li Ping (Ibu)
Partai/Organisasi: Tidak ada
Hubungan Asmara:
* Huang Rong (Istri)
* Hua Zheng (Mantan Tunangan)
* Mu Nian Chi (dijodohkan oleh Qiu Chu Ji dan Yang Tie Xin)
* Cheng Yao Jia (cinta sepihak dari pihak wanita)
* Qin Nan Qin (edisi 1)
Saudara Angkat:
* Zhou Bo Tong (Chiu Pek Tong)
* Tolui
* Yang Kang
Guru dan Pengajar:
Guru Resmi:
* Tujuh Pendekar Aneh Dari Jiang Nan (hanya sisa 6 orang).
* Hong Qi Gong (Ang Cit Khong).
Pengajar:
*Jebe - Mengajarkan memanah dan ilmu tombak.
* Ma Yu - Mengajarkan tenaga dalam.
* Zhou Bo Tong (Chiu Pek Tong) - Mengajarkan Ilmu "Kitab Sembilan Bulan (Nine Yin Manual)", 72 Pukulan Kosong dan Tangan Kiri Melawan Tangan Kanan.
* Huang Yaoshi - Mengajarkan Ilmu Pulau Bunga Persik (Teknik Jari Peluru/Menjentik Jari)
Murid dan anak:
Anak: Guo Fu, Guo Xiang, Guo Polu
Murid: Wu bersaudara, Yang Guo (cuma sebentar), Yelu Qi.
Senjata:
* Busur Panah.
* Pisau Belati dari Qiu Chuji
* Golok emas (pisau) dari Jenghis Khan.
Hewan Peliharaan:
* Sepasang Elang Kembar.
* Kuda Keringat Merah.
* Anjing kecil.
Dari "Tujuh Pendekar Aneh dari Jiang Nan":
* Khe Zhen Er : Ilmu Tongkat Penakluk Iblis.
* Zhu Cong: Melepas sendi mencabut tulang (Disconnect the Muscles and Separating the Bones), dasar ilmu ringan tubuh, Jurus Melucuti Tangan Kosong (ilmu Tangan Kosong Merebut Senjata)
* Quan Jian Fa : Ilmu Tombak, ilmu tapak Pembuka Gunung, dasar ilmu ringan tubuh.
* Nan Xi Ren : Ilmu Tapak Pemecah Gunung (membelah gunung), ilmu Tapak Gunung Selatan, jurus tinju Harimau Hitam menerang jantung.
* Han Bao Ju : Ilmu Cambuk Naga Emas, Ilmu Golok Pegunungan Selatan, Ilmu Tombak Huyan.
* Han Xiao Ying : Ilmu Pedang Gadis Yue, dasar ilmu ringan tubuh.
Dari Hong Qi Gong (Ang Cit Khong): 18 Tapak Penakluk Naga.
Dari Ma Yu:
* Tenaga Dalam Quan Zhen.
* Ilmu meringankan tubuh Burung Welilis Emas (ed.1) - Flight of the Golden Eagle (ed.2)
* Ilmu Angsa Liar Emas (ed.3 hal 304).
Dari Zhou Botong:
* 72 jurus Pukulan Kosong.
* Ilmu Tangan Kiri Melawan Tangan Kanan.
* Prinsip ilmu Quanzhen, Tenaga Dalam, juga jurus Quan Zhen.
* Berbagai teori dari "Kitab Sembilan Bulan (Nine Yin Manual)".
Dari orang Mongol:
* Jebe : Teknik memanah dan ilmu tombak.
* Jebe dan Borokul : Ilmu Gulat Mongolia.
Dari Biksu Yideng:
* Bahasa Sansakerta dalam "Kitab Sembilan Bulan (Nine Yin Manual)".
* Ilmu Jari Matahari (hanya luarnya saja).
* Ilmu meringankan tubuh Tangga ke Surga (Stairs to Heaven/上天梯)
Keahlian lain:
* Taktik perang dari kitab Wumu yang dibuat jendral Yue fei
* Mahir Berkuda.
* Kebal terhadap Racun.
* Berenang dan mengatur pernafasan di air (diajarkan oleh Huang Rong)
* Menulis dan membaca (diajarkan oleh Zhu Cong)
* Menguasai Bahasa Mongol.
* Cara menjinakkan kuda (diajarkan oleh Hao Bao Ju)
Perbedaan antara Novel dan Adaptasi Televisi:
Dari delapan versi adaptasi serial televisi, hanya ada tiga adaptasi yang memiliki alur cerita yang sangat mirip dengan novelnya, akurasi kemiripannya melebihi 90% yaitu versi 1994 (Julian Cheung dan Athena Chu) dengan tingkat akurasi 94%, versi 2003 (Li Ya Peng dan Zhou Xun) dengan tingkat akurasi 90% serta versi 2017 (William Yang Xuwen dan Li Yi Tong) dengan tingkat akurasi 96%.
Kalau untuk versi 2017, yang berbeda dari novelnya hanya tiga hal:
1. Kematian Kelima Guru Guo Jing di Pulau Bunga Persik.
* Versi Novel:
Ketika adegan terbunuhnya kelima guru Guo Jing di Pulau Bunga Persik. Seperti yang kalian baca di atas, dalam versi novelnya, disebutkan bahwa Ke Zhen Er, guru pertama Guo Jing muncul di Pulau Bunga Persik dengan mengenakan pakaian putih berkabung lalu menuduh Huang Yao Shi sebagai pelaku pembantaian.
* Versi 2017:
Tidak ada Ke Zhen Er di Pulau Bunga Persik saat Guo Jing dan Huang Rong tiba di sana. Guo Jing hanya melihat kelima gurunya terbunuh dengan keji dan karena tidak ada seorang pun yang memahami formasi Pulau Bunga Persik selain sang tuan rumah sendiri, akhirnya Guo Jing menuduh Huang Yao Shi sebagai pelakunya. Hal itu semakin dikonfirmasi ketika Guo Jing bertemu kembali dengan Ke Zhen Er di Dataran Tengah dan Ke Zhen Er langsung serta merta menuduh Huang Yao Shi dan bertarung melawannya.
2. Terlalu banyak adegan pelukan yang tak ada dalam novelnya.
* Versi Novel:
Novel revisi terbaru tahun 2014 memang merupakan versi revisi yang lebih romantis dibandingkan dengan versi asli ketika pertama kali ditulis oleh Chin Yung. Namun paling banyak, Guo Jing dan Huang Rong hanya berpegangan tangan. Mereka hanya berpelukan ketika bertemu kembali di atas puncak gunung Mongolia dan ketika di dalam gua di bawah puncak gunung Hua, di mana Guo Jing akhirnya mengetahui bahwa Huang Rong sebenarnya tidak tewas karena masuk ke dalam pasir hisap di Mongolia.
* Versi 2017:
Pelukannya kebanyakan. Selain kedua adegan pelukan di atas yang memang ada dalam novelnya, dalam versi ini, tiap kali ketemu perasaan selalu pelukan. Padahal kebanyakan pelukan justru membuat kisah cintanya menjadi hambar. Hoki banget tuh Li Yi Tong peluk-peluk cowok ganteng mulu →_→
Mungkin karena pihak rumah produksi pernah denger bisik-bisik tetangga yang mengeluh karena kisah cinta Guo Jing dan Huang Rong jika dibandingkan dengan Yoko-Xiao Long Ni atau Zhang Wuji-Zhao Min, makanya akhirnya dimodifikasi biar kerasa lebih romantis.
Lagipula, Yoko/Xiao Long Ni dan Zhang Wuji/Zhao Min bukanlah patriotisme sejati, di mataku mereka berempat adalah pecundang sejati. Yang satu gak punya landasan moral karena jatuh cinta dan menikahi gurunya sendiri (jangankan di jaman dulu, jaman sekarang aja masih gak pantes kok) kemudian ngumpet di dalam kuburan kuno sampe mati, lalu yang satunya malah memilih Putri Penjajah Mongol dan memilih mengasingkan diri, gak mau tahu tentang nasib rakyat Song yang terjajah. Sekumpulan egois sih kalau kataku! Jadi jangan pernah bandingkan kedua pasang pecundang itu dengan Guo Jing! Gak pantes! Gak level! Guo Jing mati demi rakyat, sementara kedua pecundang tersebut mati demi wanita (¬_¬)
3. Adegan makan di penginapan saat Guo Jing akan kembali ke Mongolia setelah Huang Rong sembuh dan sebelum kelima gurunya meninggal.
* Versi Novel:
Gak ada adegan itu dalam novelnya. Setelah menemui Guru Yideng, Guo Jing dan Huang Rong langsung kembali ke Pulau Bunga Persik dan melihat kelima gurunya terbunuh. Jadi langsung otw ke Pulau Bunga Persik tanpa menunda-nunda perjalanan lagi.
* Versi 2017:
Adegan tersebut merupakan adegan modifikasi agar kisah cinta Guo Jing dan Huang Rong terasa lebih romantis. Tapi di mataku jatohnya malah menunjukkan kalau Huang Rong versi Li Yi Tong terlalu cengeng. Seandainya dihapus juga gak masalah sih, toh modifikasi ini sebenarnya gak mempengaruhi alur cerita kok.
Kalau untuk versi 2017, yang berbeda dari novelnya hanya tiga hal:
1. Kematian Kelima Guru Guo Jing di Pulau Bunga Persik.
* Versi Novel:
Ketika adegan terbunuhnya kelima guru Guo Jing di Pulau Bunga Persik. Seperti yang kalian baca di atas, dalam versi novelnya, disebutkan bahwa Ke Zhen Er, guru pertama Guo Jing muncul di Pulau Bunga Persik dengan mengenakan pakaian putih berkabung lalu menuduh Huang Yao Shi sebagai pelaku pembantaian.
Tidak ada Ke Zhen Er di Pulau Bunga Persik saat Guo Jing dan Huang Rong tiba di sana. Guo Jing hanya melihat kelima gurunya terbunuh dengan keji dan karena tidak ada seorang pun yang memahami formasi Pulau Bunga Persik selain sang tuan rumah sendiri, akhirnya Guo Jing menuduh Huang Yao Shi sebagai pelakunya. Hal itu semakin dikonfirmasi ketika Guo Jing bertemu kembali dengan Ke Zhen Er di Dataran Tengah dan Ke Zhen Er langsung serta merta menuduh Huang Yao Shi dan bertarung melawannya.
2. Terlalu banyak adegan pelukan yang tak ada dalam novelnya.
* Versi Novel:
Novel revisi terbaru tahun 2014 memang merupakan versi revisi yang lebih romantis dibandingkan dengan versi asli ketika pertama kali ditulis oleh Chin Yung. Namun paling banyak, Guo Jing dan Huang Rong hanya berpegangan tangan. Mereka hanya berpelukan ketika bertemu kembali di atas puncak gunung Mongolia dan ketika di dalam gua di bawah puncak gunung Hua, di mana Guo Jing akhirnya mengetahui bahwa Huang Rong sebenarnya tidak tewas karena masuk ke dalam pasir hisap di Mongolia.
* Versi 2017:
Pelukannya kebanyakan. Selain kedua adegan pelukan di atas yang memang ada dalam novelnya, dalam versi ini, tiap kali ketemu perasaan selalu pelukan. Padahal kebanyakan pelukan justru membuat kisah cintanya menjadi hambar. Hoki banget tuh Li Yi Tong peluk-peluk cowok ganteng mulu →_→
Lagipula, Yoko/Xiao Long Ni dan Zhang Wuji/Zhao Min bukanlah patriotisme sejati, di mataku mereka berempat adalah pecundang sejati. Yang satu gak punya landasan moral karena jatuh cinta dan menikahi gurunya sendiri (jangankan di jaman dulu, jaman sekarang aja masih gak pantes kok) kemudian ngumpet di dalam kuburan kuno sampe mati, lalu yang satunya malah memilih Putri Penjajah Mongol dan memilih mengasingkan diri, gak mau tahu tentang nasib rakyat Song yang terjajah. Sekumpulan egois sih kalau kataku! Jadi jangan pernah bandingkan kedua pasang pecundang itu dengan Guo Jing! Gak pantes! Gak level! Guo Jing mati demi rakyat, sementara kedua pecundang tersebut mati demi wanita (¬_¬)
3. Adegan makan di penginapan saat Guo Jing akan kembali ke Mongolia setelah Huang Rong sembuh dan sebelum kelima gurunya meninggal.
* Versi Novel:
Gak ada adegan itu dalam novelnya. Setelah menemui Guru Yideng, Guo Jing dan Huang Rong langsung kembali ke Pulau Bunga Persik dan melihat kelima gurunya terbunuh. Jadi langsung otw ke Pulau Bunga Persik tanpa menunda-nunda perjalanan lagi.
Adegan tersebut merupakan adegan modifikasi agar kisah cinta Guo Jing dan Huang Rong terasa lebih romantis. Tapi di mataku jatohnya malah menunjukkan kalau Huang Rong versi Li Yi Tong terlalu cengeng. Seandainya dihapus juga gak masalah sih, toh modifikasi ini sebenarnya gak mempengaruhi alur cerita kok.
4. Pertemuan terakhir guru dan murid sebelum lima dari mereka dibunuh dengan sadis di Pulau Bunga Persik.
* Versi Novel:
Gak ada adegan pertemuan terakhir guru dan murid di sebuah restoran, saat Guo Jing yang ingin membeli makanan untuk Huang Rong tak sengaja bertemu dengan keenam gurunya. Di dalam novel, pertemuan terakhir mereka adalah di Desa Niu ketika Guo Jing terluka parah dan bersembunyi di ruang rahasia, kemudian para pemeran satu persatu muncul di tempat yang sama. Beberapa bulan kemudian, barulah mereka bertemu lagi di Pulau Bunga Persik namun kali ini hanya satu guru yang tersisa yaitu Ke Zhen Er sementara kelima guru lainnya terbunuh dengan keji.
* Versi 2017.
Mungkin karena dirasa terlalu tidak adil dan menyedihkan jika Guo Jing tidak sempat bertemu kelima gurunya untuk yang terakhir kalinya, jadilah diberi adegan tambahan pertemuan guru dan murid untuk terakhir kalinya sebelum lima dari mereka pergi untuk selamanya. Setidaknya sebelum kelima gurunya tewas mengenaskan, mereka sempat makan bersama dan minum-minum sambil saling mengenang masa lalu.
Kelima gurunya pun menyiratkan bahwa mereka akhirnya merestui hubungannya dengan Huang Rong dan memintanya memilih dengan tegas di antara dua gadis itu, siapa pun yang dipilih Guo Jing nantinya, dia harus bertanggung jawab atas pilihannya. Jangan membuat kedua gadis itu merasa digantung tidak jelas dan akhirnya membuat keduanya menderita.
Sedih sih melihat kelima guru itu memberikan saran dan nasehat seolah-olah mereka tahu jika bukan sekarang, maka tidak akan ada kesempatan berikutnya. Kayak punya firasat gitu para gurunya. Adegan ini termasuk adegan yang mengharukan T___T Mereka bahkan sempat melambaikan tangan sambil tersenyum dan mendoakan agar Guo Jing menjalani hidupnya dengan benar.
Tapi selain keempat adegan tersebut, sisanya sangat mirip dengan versi revisi terbaru dalam novelnya. Lagipula modifikasi di atas sama sekali gak berpengaruh siginifikan dengan alur cerita utama sih, cuma sekedar pemanis aja. Walau ditambahin empat adegan itupun, tetep gak mengubah alur ceritanya.
Jadi gak menganggu banget seperti modifikasi yang luar biasa banyak seperti versi 1983 dan versi 2008. Versi 2008 malah lebih parah lagi modifikasinya, karena Ou Yang Khe diceritakan jatuh cinta pada Mu Nian Chi dan Yang Kang sempet bertobat walau akhirnya tetap mati dibunuh Ou Yang Feng, tapi matinya bukan di dalam kuil melainkan di desa terpencil setelah bertemu kembali dengan Mu Nian Chi. Parah! Baru kali ini aku melihat Yang Kang bertobat (˵¯͒〰¯͒˵) Maksa banget!
Jadi bagi penonton baru yang masih belum ngeh sama serial legendaris satu ini dan bingung mau nonton versi yang mana saking banyaknya. Aku sarankan nonton yang versi 2017 aja karena selain SANGAT MIRIP DENGAN NOVELNYA, para pemerannya juga cakep-cakep ya, good looking semua baik cewek maupun cowoknya. Bahkan sampe Ibu Guo Jing dan guru ketujuh Guo Jing pun cantik, padahal biasanya Ibu Guo Jing diperankan oleh emak-emak jelong karena yang digambarkan cantik itu adalah Bao Xi Ruo (ibunya Yang Kang). Tapi ya semuanya kembali pada selera masing-masing orang.
Kalau selera estetikamu termasuk aneh dan lebih suka nonton yang butek-butek, aku sarankan versi 2003 dan "The Gallants (2025)" aja. Kalau lebih suka cewek cantik tapi cowok butek, versi 2024 cocok untukmu.
Kalau mau yang padat, singkat, jelas sesuai dengan novelnya tapi low budget dan kostumnya itu-itu aja, versi 1994 adalah pilhan terbaik karena gak bertele-tele dan langsung to the point, walau ada beberapa adegan yang dihapus karena keterbatasan budget.
Kalau mau yang legend banget, versi 1983 adalah pilihan tepat. Kalau mau liat penjahat bertobat, jangan lupa pilih versi 2008.
* Versi Novel:
Gak ada adegan pertemuan terakhir guru dan murid di sebuah restoran, saat Guo Jing yang ingin membeli makanan untuk Huang Rong tak sengaja bertemu dengan keenam gurunya. Di dalam novel, pertemuan terakhir mereka adalah di Desa Niu ketika Guo Jing terluka parah dan bersembunyi di ruang rahasia, kemudian para pemeran satu persatu muncul di tempat yang sama. Beberapa bulan kemudian, barulah mereka bertemu lagi di Pulau Bunga Persik namun kali ini hanya satu guru yang tersisa yaitu Ke Zhen Er sementara kelima guru lainnya terbunuh dengan keji.
* Versi 2017.
Mungkin karena dirasa terlalu tidak adil dan menyedihkan jika Guo Jing tidak sempat bertemu kelima gurunya untuk yang terakhir kalinya, jadilah diberi adegan tambahan pertemuan guru dan murid untuk terakhir kalinya sebelum lima dari mereka pergi untuk selamanya. Setidaknya sebelum kelima gurunya tewas mengenaskan, mereka sempat makan bersama dan minum-minum sambil saling mengenang masa lalu.
Kelima gurunya pun menyiratkan bahwa mereka akhirnya merestui hubungannya dengan Huang Rong dan memintanya memilih dengan tegas di antara dua gadis itu, siapa pun yang dipilih Guo Jing nantinya, dia harus bertanggung jawab atas pilihannya. Jangan membuat kedua gadis itu merasa digantung tidak jelas dan akhirnya membuat keduanya menderita.
Sedih sih melihat kelima guru itu memberikan saran dan nasehat seolah-olah mereka tahu jika bukan sekarang, maka tidak akan ada kesempatan berikutnya. Kayak punya firasat gitu para gurunya. Adegan ini termasuk adegan yang mengharukan T___T Mereka bahkan sempat melambaikan tangan sambil tersenyum dan mendoakan agar Guo Jing menjalani hidupnya dengan benar.
Tapi selain keempat adegan tersebut, sisanya sangat mirip dengan versi revisi terbaru dalam novelnya. Lagipula modifikasi di atas sama sekali gak berpengaruh siginifikan dengan alur cerita utama sih, cuma sekedar pemanis aja. Walau ditambahin empat adegan itupun, tetep gak mengubah alur ceritanya.
Jadi gak menganggu banget seperti modifikasi yang luar biasa banyak seperti versi 1983 dan versi 2008. Versi 2008 malah lebih parah lagi modifikasinya, karena Ou Yang Khe diceritakan jatuh cinta pada Mu Nian Chi dan Yang Kang sempet bertobat walau akhirnya tetap mati dibunuh Ou Yang Feng, tapi matinya bukan di dalam kuil melainkan di desa terpencil setelah bertemu kembali dengan Mu Nian Chi. Parah! Baru kali ini aku melihat Yang Kang bertobat (˵¯͒〰¯͒˵) Maksa banget!
Jadi bagi penonton baru yang masih belum ngeh sama serial legendaris satu ini dan bingung mau nonton versi yang mana saking banyaknya. Aku sarankan nonton yang versi 2017 aja karena selain SANGAT MIRIP DENGAN NOVELNYA, para pemerannya juga cakep-cakep ya, good looking semua baik cewek maupun cowoknya. Bahkan sampe Ibu Guo Jing dan guru ketujuh Guo Jing pun cantik, padahal biasanya Ibu Guo Jing diperankan oleh emak-emak jelong karena yang digambarkan cantik itu adalah Bao Xi Ruo (ibunya Yang Kang). Tapi ya semuanya kembali pada selera masing-masing orang.
Kalau selera estetikamu termasuk aneh dan lebih suka nonton yang butek-butek, aku sarankan versi 2003 dan "The Gallants (2025)" aja. Kalau lebih suka cewek cantik tapi cowok butek, versi 2024 cocok untukmu.
Kalau mau yang padat, singkat, jelas sesuai dengan novelnya tapi low budget dan kostumnya itu-itu aja, versi 1994 adalah pilhan terbaik karena gak bertele-tele dan langsung to the point, walau ada beberapa adegan yang dihapus karena keterbatasan budget.
Kalau mau yang legend banget, versi 1983 adalah pilihan tepat. Kalau mau liat penjahat bertobat, jangan lupa pilih versi 2008.
Untuk artikel tentang pemeran Guo Jing (Kwee Cheng) dari masa ke masa, mari kita bahas di artikel berikutnya.
Credit Picts: As Tagged (All pictures belongs to owner)
Warning: Dilarang mengcopy paste tanpa ijin tertulis dari penulis!
.png)

.png)

















.jpg)






.jpg)








.jpg)




.png)
.jpg)











Tidak ada komentar:
Posting Komentar