Tampilkan postingan dengan label Drama China : The Legend Of The Condor Heroes. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Drama China : The Legend Of The Condor Heroes. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Oktober 2026

Tiga Pemeran Putri Hua Zheng Tercantik dalam "The Legend Of The Condor Heroes"

Berbicara tentang serial wuxia legendaris "The Legend Of The Condor Heroes (Pendekar Pemanah Rajawali)" yang diadaptasi dari novel terkenal karya Jin Young (Louis Cha), selain tokoh utama Guo Jing dan Huang Rong, tokoh yang tidak kalah pentingnya adalah Sang Putri Mongol, Hua Zheng/Go Chin (华筝/華箏), yang tak lain dan tak bukan adalah teman sepermainan Guo Jing sejak kecil sekaligus tunangannya.


Hingga saat ini, serial wuxia legendaris "The Legend Of The Condor Heroes (Pendekar Pemanah Rajawali)" telah diadaptasi sebanyak delapan kali dengan adaptasi terbaru pada tahun 2024 silam. Begitu banyak adaptasi, begitu banyak aktris/aktor yang memerankan satu karakter yang sama selama lebih dari lima dekade ini, pertanyaan seperti : "Siapakah yang terbaik, siapakah yang terburuk, siapakah yang paling cantik/tampan, siapakah yang paling sesuai dengan novelnya" dan banyak pertanyaan lain pasti kerapkali muncul di hati para penonton.

Dalam setiap adaptasi, perbandingan pasti akan ada. Jika tidak mau dibandingkan, maka jangan pernah memerankan karakter yang sama seperti yang pernah diperankan oleh orang lain sebelumnya! Jika seorang aktris/aktor memutuskan untuk menerima karakter yang pernah diperankan oleh orang lain sebelumnya, apalagi yang "legend" kayak gini ya, menjadi obyek perbandingan, tentu akan menjadi hal yang wajar. Jangankan artis, kita waktu masih kecil aja sering dibanding-bandingkan sama anak tetangga, sepupu dan bahkan saudara sendiri. Itu sudah biasa.

Kali ini, mari kita mulai dari sang Putri Mongol, Hua Zheng (Go Chin) dalam serial adaptasi "The Legend Of The Condor Heroes (Pendekar Pemanah Rajawali)". Dari delapan pemeran Putri Mongol Hua Zheng (Go Chin), aku akan memilih tiga terfavori (alias tiga tercantik menurut versiku).


Karakter Putri Hua Zheng/Go Chin (华筝/華箏) dalam Novel:
Princess Hua Zheng (Go Chin) adalah teman sepermainan Guo Jing sejak kecil sekaligus tunangannya, dengan kata lain, Putri Hua Zheng (Go Chin) adalah rival cinta Huang Rong (Oey Yong) dalam memperebutkan Guo Jing (Kwee Cheng) dalam serial wuxia “Legend Of The Condor Heroes” karya Jin Yong (Louis Cha). Karakternya didasarkan pada putri sulung Jenghis Khan, Huochen Bieji.

Hua Zheng lahir sebagai putri Temüjin, calon Jenghis Khan, pada masa ketika suku-suku Mongol mulai bersatu di bawah kepemimpinan ayahnya. Terlepas dari status istimewanya, Hua Zheng menunjukkan kualitas yang membedakannya dari citra tipikal seorang putri Mongol. Kecerdasannya, kemampuan bela dirinya, dan kepeduliannya yang tulus terhadap orang lain menjadikannya sosok yang berpotensi menjembatani kesenjangan antara dunia Mongol dan Tiongkok, bahkan ketika kampanye militer ayahnya pada akhirnya akan membawa peradaban ini ke dalam konflik langsung.


Persahabatan Hua Zheng dengan Guo Jing dimulai sejak masa kecil mereka di padang rumput Mongolia, ketika pengungsi muda Tiongkok itu dan ibunya diterima oleh keluarga Temüjin. Sejak itu, Hua Zheng dan Guo Jing tumbuh bersama di gurun Mongolia, berbagi ikatan yang dalam.

Ketika Hua Zheng berusia empat tahun, ia diserang oleh macan tutul yang dilepaskan oleh Du Shi. Pada saat kritis, Guo Jing yang berusia enam tahun dengan berani menyelamatkannya, dan sejak saat itu, Hua Zheng mengembangkan kekaguman padanya. Penyelamatan ini juga menandai awal dari kasih sayang Hua Zheng yang mendalam terhadap Guo Jing, karena Guo Jing tidak hanya berani tetapi juga bersedia untuk mempertaruhkan nyawanya sendiri demi melindunginya.


Kejadian ini menunjukkan ketulusan persahabatan mereka dan membentuk pola saling peduli dan melindungi yang akan menjadi ciri hubungan mereka sepanjang masa kecil mereka. Persahabatan mereka ditandai dengan rasa saling menghormati dan kasih sayang yang tulus, karena Hua Zheng mengakui kejujuran dan kesetiaan Guo Jing, sementara Guo Jing menghargai kecerdasan dan kemampuan bela diri Hua Zheng. Ikatan ini melampaui perbedaan budaya yang memisahkan latar belakang mereka, menunjukkan bagaimana hubungan manusia yang tulus dapat berkembang antara individu dari peradaban yang sangat berbeda.

Setelah penyelamatan heroik Guo Jing, Temüjin mengatur agar Hua Zheng bertunangan dengan Du Shi, putra Wang Khan, sebagai bagian dari aliansi politik antara keluarga mereka. Pengaturan ini mencerminkan pemikiran strategis yang menjadi ciri pendekatan politik Temüjin, karena ia berupaya memperkuat posisinya melalui aliansi pernikahan sambil mempertahankan stabilitas kekaisarannya yang sedang berkembang.


Namun, pertunangan ini kemudian dibatalkan ketika Temüjin mengalahkan Wang Khan dalam pertempuran, menunjukkan bagaimana keadaan politik dapat memengaruhi bahkan hubungan pribadi yang paling hati-hati sekalipun. Pembatalan pertunangan ini menciptakan peluang bagi Temüjin untuk mengatur aliansi pernikahan baru yang akan melayani tujuan strategisnya yang lebih luas.

Setelah kekalahan Wang Khan, Temüjin mengatur agar Hua Zheng bertunangan dengan Guo Jing, menciptakan aliansi politik baru yang akan memperkuat hubungan antara keluarganya dan pengungsi muda Tiongkok yang telah menunjukkan kesetiaan dan keberanian yang luar biasa. Pengaturan ini mencerminkan pengakuan Temüjin atas nilai Guo Jing sebagai teman pribadi dan aset politik potensial.


Selain itu, Temujin menjadikan Guo Jing sebagai "Pangeran Pendamping Pedang Emas Mongolia" atau lebih dikenal sebagai "Menantu Pisau Emas Mongol". Seiring dengan perkembangan usia mereka, Hua Zheng menyadari bahwa dia jatuh cinta pada tunangannya sejak kecil, Guo Jing. 

Namun, dalam perjalanannya ke Dataran Tengah, Guo Jing bertemu dengan Huang Rong yang cantik, cerdas dan pintar. Keduanya langsung akrab dan jatuh cinta satu sama lain. Meskipun Hua Zheng sangat mencintai Guo Jing, hati Guo Jing tetap milik Huang Rong. Meskipun begitu, Hua Zheng tidak menyerah pada cintanya kepada Guo Jing.


Ketika Guo Jing kembali ke Mongolia, Hua Zheng sangat gembira, percaya bahwa mereka dapat menghidupkan kembali hubungan mereka. Namun, Temujin merencanakan ekspedisi ke selatan. Karena tidak ingin mengkhianati bangsanya sendiri, Guo Jing memutuskan untuk meninggalkan Mongolia. Namun sialnya, Hua Zheng tak sengaja mendengar rencana tersebut.

Titik balik dalam hubungan Hua Zheng dengan Guo Jing terjadi ketika ia tanpa sengaja menyebabkan kematian ibunya, Li Ping, dengan mengungkapkan kepada ayahnya bahwa Guo Jing telah melihat isi surat rahasia yang berisi rencana invasi Mongol ke Dinasti Song. Pengungkapan ini, yang dimotivasi oleh keinginannya untuk mempertahankan Guo Jing di Mongolia, akhirnya menyebabkan Temüjin memaksa Li Ping untuk bunuh diri di depan putranya.

Peristiwa tragis ini menandai kehancuran total hubungan Hua Zheng dengan Guo Jing, karena kematian ibunya menciptakan penghalang yang tak teratasi di antara mereka. Tindakannya, meskipun dimotivasi oleh cinta dan kepedulian, menunjukkan bagaimana niat baik dapat menyebabkan konsekuensi yang mengerikan ketika bertentangan dengan pertimbangan politik dan moral yang lebih luas.


Kejadian ini juga membuat Hua Zheng merasa sangat bersalah, dan dia tahu tidak ada kemungkinan lagi bagi dirinya dan Guo Jing untuk bersama. Pada akhirnya, Hua Zheng memilih untuk melepaskan Guo Jing dan membatalkan pertunangan mereka.

Hua Zheng kemudian memilih untuk mengasingkan diri ke Wilayah Barat untuk bergabung dengan kakak-kakaknya, dan tidak pernah kembali ke tanah airnya. Keputusan ini mencerminkan rasa bersalahnya yang mendalam dan pengakuannya bahwa hubungannya dengan Guo Jing tidak akan pernah bisa diperbaiki.

Pengasingannya merupakan bentuk hukuman diri atas konsekuensi yang tidak disengaja dari tindakannya, karena ia memilih untuk menjauhkan diri dari situasi tersebut daripada terus menyebabkan penderitaan bagi orang-orang yang dicintainya. Keputusan ini menunjukkan karakter moralnya dan kesediaannya untuk bertanggung jawab atas tindakannya, bahkan ketika tindakan tersebut tidak disengaja.


Hua Zheng's Personality:
Kepribadian Hua Zheng ditandai oleh kombinasi kekuatan, kesetiaan, dan kedalaman emosional yang membuatnya menjadi karakter yang menarik dan simpatik. Tahun-tahun awalnya ditandai oleh kebahagiaan tanpa beban seorang anak perempuan yang beruntung, tetapi seiring bertambahnya usia, ia mengembangkan pemahaman yang lebih kompleks tentang dunia dan tempatnya di dalamnya.

Cintanya kepada Guo Jing ditandai oleh pengabdian yang tulus dan tanpa pamrih, karena ia rela melakukan pengorbanan besar untuk mempertahankan hubungan mereka dan memastikan kebahagiaannya. Pengabdian ini menunjukkan kapasitasnya untuk menjalin hubungan emosional yang mendalam dan kesediaannya untuk memprioritaskan kebutuhan orang lain di atas keinginannya sendiri.


Namun, latar belakangnya yang beruntung sebagai seorang Putri juga menciptakan keterbatasan tertentu dalam pemahamannya tentang dunia yang lebih luas, karena ia memiliki paparan terbatas terhadap realitas politik dan budaya yang kompleks yang kemudian akan memengaruhi hubungannya dengan Guo Jing. Keterbatasan ini pada akhirnya akan berkontribusi pada konsekuensi tragis dari tindakannya.

Hubungan Hua Zheng dengan Guo Jing merupakan salah satu kisah cinta yang paling kompleks dan tragis dalam novel-novel Jin Yong, karena menunjukkan bagaimana kasih sayang yang tulus dapat terjerat dengan keadaan politik dan kewajiban moral. Hubungan mereka dimulai dengan persahabatan yang tulus dan saling menghormati, berkembang menjadi cinta yang mendalam yang tampaknya ditakdirkan untuk kebahagiaan.

Namun, keadaan politik yang melingkupi hubungan mereka menciptakan komplikasi yang pada akhirnya terbukti tak teratasi. Warisan Tionghoa Guo Jing dan kesetiaan ibunya kepada Dinasti Song menciptakan konflik dengan identitas Mongol Hua Zheng dan ambisi politik keluarganya, menunjukkan bagaimana hubungan individu dapat terjebak di antara kekuatan budaya dan politik yang bersaing.


Tiga pemeran Hua Zheng Tercantik:
Karakter Putri Mongol, Hua Zheng (Go Chin) telah digambarkan dalam adaptasi film dan televisi modern dalam berbagai versi. Untuk versi serial televisi sendiri, tercatat sudah diadaptasi sebanyak delapan kali dengan versi terbaru adalah pada tahun 2024. Sedangkan untuk versi film layar lebar terbaru adalah pada tahun 2025 dengan judul "The Legend of the Condor Heroes: The Gallants". Total ada 9 versi adaptasi "The Legend Of The Condor Heroes" sejauh ini, yang terdiri dari delapan serial dan satu film layar lebar.

Namun di antara sekian banyaknya pemeran Putri Hua Zheng (Go Chin), hanya ada tiga versi yang merupakan favoritku, yang tentu saja sebagai pemuja visual, penilaian terbesarku adalah pada paras pemerannya. Dengan kata lain, tiga pemeran Putri Mongol Tercantik dalam "The Legend Of The Condor Heroes (Pendekar Pemanah Rajawali)".

Siapa sajakah mereka? Mari kita simak di bawah ini!
1. Dai Wen Wen dalam "The Legend Of The Condor Heroes 2017".
Tak diragukan lagi, dari segi visual, Dai Wen Wen tentu berada di peringkat teratas sebagai Putri Hua Zheng (Go Chin) paling imut dan paling cantik sepanjang masa. Wajah imutnya membuatnya sangat cocok berperan sebagai Putri Hua Zheng remaja yang berusia 16 tahun. Dengan wajahnya yang cantik bin imut, Dai Wen Wen memang sangat cocok berperan sebagai seorang putri.


Hua Zheng versi Dai Wen Wen adalah Hua Zheng yang baik hati, ramah, tulus, tidak memaksa, walaupun sedikit manja dan terkadang kekanakan, namun dia masih memiliki batasan moral dan mengerti kapan harus mundur dan mengalah.


Hua Zheng versi Dai Wen Wen masih bersikap masuk akal dan memiliki hati nurani, dia tidak memaksakan kehendaknya kepada Guo Jing, tidak mengancam akan bunuh diri kalau tidak dinikahi seperti yang dilakukan Hua Zheng 1983, sebaliknya, dia masih bisa menghibur Guo Jing yang sedih saat Guo Jing mengira Huang Rong tewas karena masuk ke pasir hisap. Hua Zheng masih dengan tulus menghiburnya dengan mengatakan kalau Guo Jing terus terpuruk seperti ini maka Huang Rong pasti akan sedih.


Satu-satunya kesalahan fatal Hua Zheng adalah melaporkan rencana kepergian Guo Jing dan ibunya kepada Temujin. Saat itu Hua Zheng hanya ingin menahan Guo Jing agar tetap tinggal, karena dia berpikir bagaimana pun, Huang Rong sudah meninggal dan Guo Jing tak punya rumah lain selain Mongolia, jadi dia hanya ingin Guo Jing tinggal di Mongol seperti dulu. Siapa sangka hal tersebut akan menyebabkan tragedi bunuh diri Li Ping di depan putranya.


Namun walau begitu, Hua Zheng yang merasa bersalah tetap berani meminta maaf, mengakui kesalahan dan dengan hati yang lapang melepaskan Guo Jing pergi, bahkan dengan tulus mengantarkan kepergiannya.

Saking imutnya tuh wajah, untuk yang pertama kalinya, aku berharap Guo Jing bersama Hua Zheng aja (˵¯͒〰¯͒˵)


2. Chen Pei Shan (Chan Pui Shan) dalam "The Legend Of The Condor Heroes 1994".
Favoritku yang kedua adalah Hua Zheng versi Chen Pei Shan (Chan Pui Shan). Baik dari segi wajah ataupun karakter, Chen Pei Shan (Chan Pui Shan) jelas lebih baik daripada pendahulu Huang Zhao Shi (Wang Jo Shi). Dari segi visual, dibandingkan ketujuh pemeran Hua Zheng yang lain (selain Dai Wen Wen), visual Chen Pei Shan (Chan Pui Shan) sangat enak dilihat. Chen Pei Shan (Chan Pui Shan) juga memiliki paras yang cantik, bukan cantik yang sendu mendayu-dayu seperti Huang Zhao Shi (Wang Jo Shi) 1983 tapi cantik yang ceria namun sabar. Type-type yang nyenengin untuk dilihat.


Karakter Putri Hua Zheng (Go Chin) yang diperankan oleh Chen Pei Shan (Chan Pui Shan) pun adalah karakter seorang Putri yang ceria, baik hati, ramah, tulus, pengertian dan dibandingkan yang lain, Hua Zheng versi Chen Pei Shan (Chan Pui Shan) terlihat lebih dewasa, walaupun sedikit manja tapi dia bukan seorang Putri yang egois, menyebalkan dan suka memaksa. Hampir mirip dengan Dai Wen Wen, dia baik hati, ramah dan tulus.


Dan kabar baiknya lagi, versi 1994 dan versi 2017 ini adalah versi yang paling mirip dengan novelnya. Untuk keakuratannya, Versi 1994 memiliki tingkat akurasi 94% (novel terbitan awal) sementara versi 2017 memiliki tingkat akurasi 96% (versi revisi terbaru). Yang menunjukkan bahwa karakter Putri Hua Zheng dalam novel sebenarnya tidak seburuk itu, tidak seburuk yang digambarkan versi-versi yang lain. Dari segi karakter maupun wajah, Chen Pei Shan (Chan Pui Shan) sama seperti Dai Wen Wen, mereka sangat menyenangkan.


3. Huang Zhao Shi (Wang Jo Shi) dalam "The Legend Of The Condor Heroes 1983".
Aku memilihnya sebagai favoritku yang ketiga karena dari segi visual, Huang Zhao Shi (Wang Jo Shi) sangat cantik dibandingkan para pemeran Hua Zheng yang lain (kecuali 1994 dan 2017), apalagi saat dia mengenakan kostum rakyat Sung, kecantikannya bahkan setara dengan Huang Rong (Barbara Yung). Hanya saja bedanya, Huang Rong cantiknya nakal sementara dia cantiknya kalem.




Sayangnya, karakter Hua Zheng versi 1983 ini bisa dibilang cukup menyebalkan. Hua Zheng versi Huang Zhao Shi (Wang Jo Shi) adalah karakter yang lemah lembut namun manipulatif. Dia selalu berpura-pura lemah tak berdaya, berpura-pura tertindas agar Guo Jing kasihan padanya, dia kerapkali menggunakan air mata untuk mendapatkan keinginannya, berpura-pura menangis agar Guo Jing merasa bersalah. Bahkan mengancam bunuh diri kalau Guo Jing menolak menikahinya.



Kalau jaman sekarang, istilahnya itu "Jalang Teh Hijau" atau "White Lotus (Teratai Putih Berhati Hitam)". Aroma tehnya pekat banget tiap kali nih Hua Zheng muncul. Untungnya cantik banget dan punya aura seorang Putri. Hua Zheng versi 1983 sama sekali tidak mirip dengan penggambaran dalam novelnya!



Tapi karena gak ada pilihan lain, karena Hua Zheng yang lain gak sesuai dengan standar estetikaku, jadilah Huang Zhao Shi (Wang Jo Shi) masuk dalam daftar. Apalagi kan judulnya memang "Tiga Pemeran Putri Mongol Tercantik" jadi penilaian utamanya sudah tentu visualnya dulu, baru karakternya. Dan dibandingkan dengan yang lainnya, yang uda jelong, nyebelin pula, sudah jelas Huang Zhao Shi (Wang Jo Shi) yang berparas cantik masih terhitung lumayan. Yah, setidaknya dia cantik, kan?


Pemeran Hua Zheng yang lain yang tidak sesuai dengan standar estetikaku:
1. A'shiru dalam "The Legend Of The Condor Heroes 2003".
Gak cuma dia, tapi seluruh pemeran dalam versi ini gak banget semua! Saking "gak banget"nya, sampe gak bisa berkata-kata untuk mendeskripsikannya (⇀‸↼‶) Bajunya gak banget, wajah pemainnya gak banget, pencahayaannya gak banget, kostumnya gak banget. Dahlah, gelap semua (ꐦÒ‸Ó)


2. Xie Na dalam "The Legend Of The Condor Heroes 2008".
Dia juga sama! Hua Zheng yang gak banget. Uda karakternya manja dan egois pol, wajahnya gak banget pula. Uda gugut, ketuaan pula, kek emak-emak. Duh, hanya satu kata untuk mendeskripsikan karakter Hua Zheng dalam versi ini, "Wajahmu seburuk hatimu!"


3. Ma Li Ya dalam "The Legend Of The Condor Heroes 2024".
Aku gak nonton versi ini, karena walaupun Huang Rong dan Mei Chao Feng-nya cantik tapi pemeran utama pria yaitu Guo Jing gak banget (⇀‸↼‶) Bikin males nonton! Sorry to say, wajahnya Guo Jing vs wajahnya Mei Chao Feng malah lebih keliatan mudaan Mei Chao Feng, padahal secara umur, lebih tua Mei Chao Feng tapi dari segi wajah pemerannya malah lebih tua'an Guo Jing mukaknya. Putri Hua Zheng juga keliatan tua!

Kenapa wajahnya Putri Hua Zheng lebih tua dari Mei Chao Feng?
Dia seumuran Huang Rong loh harusnya! 16 tahun masa mukaknya kek emak-emak?
 (⇀‸↼‶)

Dalam novel digambarkan, Putri Hua Zheng itu seumuran sama Huang Rong tapi pemerannya malah mukaknya kayak emak-emak, kalah sama Mei Chao Feng yang usianya seharusnya lebih tua tapi masih cantik cetar membahana. 

Sebagai pemuja visual yang berorientasi pada mukak pemerannya (khususnya pemeran utama pria), jadi kalau pemeran utamanya gak banget, ya udah skip aja! Gak usah buang-buang waktu! Aku cuma mau menonton serbuk berlian. Dibandingkan versi 2017 yang bertabur serbuk berlian, versi 2024 benar-benar downgrade dari segi visual maupun alur cerita utama, aku denger banyak dipotong-potong karena harus digabung sama spin off-nya. Gak seru! Karena gak sesuai dengan novelnya.


Dan karena aku gak nonton, so aku gak bisa menilai karakter Hua Zheng yang diperankan oleh Ma Li Ya. Tapi dari segi visual, melihat foto-fotonya yang beredar di internet, menurutku, dia tidak termasuk dalam standar estetikaku alias gak banget. Jauh banget dibanding Huang Rong yang sangat cantik, pantesan Guo Jing milih Huang Rong kalau perbandingannya kayak gini. Habis liat Dai Wen Wen versi 2017 yang cantik bin imut langsung dikasih mukak emak-emak di versi 2024, duh, downgrade banget kek emak dan anak perempuannya (ꐦÒ‸Ó)

Hua Zheng saat jadi emak-emak Σ(゚∀゚ノ)ノ

4. Zhang Wen Xin dalam "The Legend Of The Condor Heroes : The Gallants".
Yang ini Hua Zheng versi pengungsi Σ(゚∀゚ノ)ノ Aura miss-queen-nya kuat banget. Sama seperti versi 2024, aku pun tidak menonton versi yang ini. Ngeliat pemerannya gak banget semua, bikin males! Walaupun denger-denger dari komentar di FB, kalau karakter Hua Zheng yang ini sangat tangguh, jago bertarung, dan berani dibandingkan Hua Zheng versi lain yang digambarkan manja dan egois.

Hua Zheng (baju biru). Lebih mirip pengungsi daripada seorang Putri.

Kalau dilihat dari foto-fotonya sih cocok juga dengan penggambaran karakter Hua Zheng versi petarung ini, gak cantik tapi sangar. Dari segi visual, gak cantik, bukan standar estetikaku, daripada seorang Putri lebih mirip prajurit atau malah pengungsi. Mana aura Princess-nya? Gpplah kalau mau dibikin "The Warrior Princess", tapi setidaknya jangan murni kayak pengungsi gini, kusam amat kesannya. Apa ini pakaian seorang Putri? 



Mungkin niatnya mau membuat "The Warrior Princess" alias "Putri Petarung" yang tangguh biar beda dari yang lain, tapi di mataku, dia lebih cocok dijuluki "Putri Pengungsi". Mulai dari hairdo, kostum, mukak, semuanya memancarkan aura ke-miss-queen-an. Alih-alih muncul aura seorang "The Warrior Princess" seperti yang digembor-gemborkan oleh banyak orang, yang kulihat malah aura miss-queen-nya yang kuat banget. Wajahnya bukan wajah-wajah mahal, gak cocok jadi Princess, gak ada aura Princess sama sekali.


Apa Mongol sudah jatuh miskin sampai pakaian Princess-nya kek pengungsi gini? Ini pertama kalinya aku melihat Putri Hua Zheng versi "miss-queen". Versi 2003 yang gak banget aja, setidaknya kostum Putri Mongolnya masih lebih baik dari ini, se-miss-queen miss-queen-nya versi 1994 yang low budget dan kostumnya gak ganti-ganti aja, juga masih lebih baik dari ini. Kalau ini, aura ke-miss-queen-annya Mongol kerasa banget (ꐦÒ‸Ó) Baru kali ini aku melihat Hua Zheng versi gembel.


Personal Opinion:
Gimana? Dari perbandingan di atas, bener kan pilihanku yang menobatkan Dai Wen Wen sebagai Hua Zheng Paling Imut dan Paling Cantik sepanjang masa. Lah wong sisanya kalau gak kayak emak-emak, ya kayak pengungsi yang pekat banget aura ke-miss-queen-annya. Dari segi karakterpun, Dai Wen Wen dan Chen Pei Shan adalah yang terbaik karena memiliki kemiripan tertinggi dengan novelnya.

Tapi entah kenapa ya, para produser serial adaptasi ini seolah sengaja menjatuhkan karakter Hua Zheng (Go Chin). Sebenarnya Hua Zheng dalam novel itu tidak seburuk itu loh! Dia bukanlah Putri yang manja, egois, tidak masuk akal dan juga tidak menyebalkan. Tapi entah kenapa, begitu sampai di layar kaca, karakternya langsung berubah menyebalkan. Gak semua sih.


Hanya versi 1994 dan 2017 yang memiliki tingkat akurasi kemiripan di atas 90% dengan novelnya, yang benar-benar memberikan penggambaran sesungguhnya untuk karakter Hua Zheng dan memberikan keadilan untuknya. Sisanya, ngasal semua.

Apalagi versi 1983 dan 2008 yang nyebelin abiz. Sentimen amat sama Hua Zheng! Dalam novel gak kayak gitu loh! Selain versi 1994 dan 2017, sisanya mengarang bebas! Paling parah versi 1983 dan 2008 yang alur ceritanya terlalu banyak modifikasi sampai melenceng jauh dan versi 2024 yang denger-denger potong bebek angsanya banyak banget.

Sedangkan versi 2003, 2024 dan film "The Gallants (2025)" gak masuk radarku, karena aura "kegelapannya" pekat banget. Di versi 2024, selain Huang Rong, Mei Chao Feng, Mu Nian Chi yang cantik banget dan Ou Yang Khe yang cukup enak dipandang, yang lainnya gelap, apalagi Hua Zheng-nya, duh kayak emak-emak (¬_¬)

Versi 2025 juga sama parahnya, bahkan Huang Rong-nya pun juga ikut masuk era "kegelapan". Semua artisnya kek gembel, gak ada yang bisa dilihat. Kupikir A'Shiru 2003 uda yang paling gak banget, eh ternyata muncul Hua Zheng versi emak-emak dan Hua Zheng versi pengungsi. Selamat A'Shiru, kamu bukan lagi yang ter-j3L0ng (˵¯͒〰¯͒˵)

Untuk pemuja visual sepertiku, langsung sepet mata. Mending nonton drachin AI yang cowok dan ceweknya good looking semua daripada nonton versi 2024 dan "The Gallants (2025)". Artis cantik uda punah semua, kah? Banyak loh yang good looking tapi kurang promosi karena agensinya kecil.


So far, favoritku tetap versi 2017: visual bertabur serbuk berlian, alur cerita 96% mirip dengan novel versi revisi terbaru, kostumnya cukup cerah dan beragam, hairdo cukup bagus (gak modelan gembel seperti versi 2025), pencahayaan terang dan ostnya pun easy listening.

Tapi itu aku ya, setiap orang punya selera (●'◡'●) ] Kalau kalian lebih menyukai yang auranya "gelap" dan gak suka yang kinclong-kinclong, glowing, cantik, ya itu terserah kalian. 

Credit Pict: As Tagged (all pictures belongs to owners)
Warning: Dilarang mengcopy-paste tanpa ijin tertulis dari penulis!