Rabu, 16 September 2026

(Profil) Fu Hai Feng, Sang "Pemenang Kehidupan"

Siapa yang tidak mengenal Fu Hai Feng? Fu Hai Feng adalah legenda bulu tangkis ganda putra asal Tiongkok bertangan kidal yang lahir pada 23 Agustus 1983.


Pria bertubuh kekar dan berwajah tampan ini merupakan salah satu ganda putra terkuat dunia selain Lee Yong Dae/Jung Jae Sung, walaupun rekor pertemuan antara Fu Hai Feng/Cai Yun vs Lee Yong Dae/Jung Jae Sung lebih didominasi oleh pasangan ganda putra asal Korea Selatan tersebut. Fu Hai Feng dan Lee Yong Dae, bersama pasangan mereka masing-masing bisa dianggap sebagai lawan tangguh dalam sektor ganda Putra bulutangkis.

Fu Hai Feng/Cai Yun kerapkali kesulitan dalam menembus pertahanan Lee Yong Dae/Jung Jae Sung. Menurut data head to head, selama 11 kali pertemuan (10 BWF Super Series dan 1 BWF Grand Prix), Fu Hai Feng/Cai Yun hanya mengalami 4 kali kemenangan melawan Lee Yong Dae dan pasangannya (4 vs 7).

Singkatnya :
Head To Head : Fu Hai Feng vs Lee Yong Dae : 4 VS 7.



Tiga kali kemenangan adalah saat Lee Yong Dae berpasangan dengan Jung Jae Sung dan satu kali kemenangan saat Lee Yong Dae berpasangan dengan Yoo Yeon Seong, sisanya Fu Hai Feng mengalami kekalahan yang cukup menyakitkan saat melawan Lee Yong Dae dan pasangannya.

Bisa dibilang, asalkan tidak bertemu Lee Yong Dae dan pasangannya, Fu Hai Feng pasti kemungkinan akan menang. Karena setiap kali bertemu Lee Yong Dae dan pasangannya, Fu Hai Feng kerapkali menderita kekalahan.


Salah satu kekalahan menyesakkan Fu Hai Feng/Cai Yun melawan Lee Yong Dae/Jung Jae Sung adalah pada saat All England 2012 di mana Lee Yong Dae/Jung Jae Sung keluar sebagai pemenang. Di babak final turnamen yang diadakan di Birmingham, Inggris tersebut, mereka mengalahkan pasangan unggulan asal Tiongkok, Cai Yun dan Fu Hai Feng, dengan skor 21–23, 21–9, 21–14.

Fu Hai Feng mulai mengenal bulu tangkis di usia 6 tahun. Kemudian ia masuk ke tim daerah Guangzhou pada usia 15 tahun. Setelah itu karena bakatnya, tidak butuh waktu lama bagi Fu Hai Feng untuk menjadi bagian dari tim nasional Cina. Ia langsung dipasangkan dengan Cai Yun.

Bersama rekannya, Cai Yun, Fu Hai Feng kerapkali mencetak prestasi yang membanggakan. Pasangan Fu Hai Feng dan Cai Yun telah berhasil menorehkan banyak prestasi di dunia bulu tangkis. Total kemenangan yang pernah diraih Fu Hai Feng adalah 24 gelar juara, yang berasal dari 16 gelar BWF Superseries dan 8 gelar BWF Grandprix. Di antaranya adalah juara All England (2005, 2009), juara dunia (2006, 2009, 2010, 2011), juara Olimpiade (2012, 2016) dan juara di berbagai turnamen Super Series (16 gelar juara). 




Salah satu prestasi tertingginya adalah memenangkan Medali Emas Olimpiade London 2012. Semuanya diraih bersama pasangannya di Ganda putra, yaitu Cai Yun. Maka tak heran, jika pasangan Fu Hai Feng/Cai Yun dikenal sebagai salah satu pemain ganda putra terhebat sepanjang masa, selain Lee Yong Dae/Jung Jae Sung.

Bahkan karena kehebatan mereka, Pasangan ini dijuluki "Feng Yun Zu He" yang berarti "Perpaduan Awan dan Angin".

Karena nama mereka pun memiliki arti yang serupa. Karakter “YUN” dari nama "Cai YUN” berarti “AWAN” dan karakter “FENG” dari nama "Fu Hai FENG” berarti “ANGIN”, pantaslah jika pasangan ini mendapat julukan “AWAN DAN ANGIN”. Sama seperti judul serial wuxia klasik yaitu "Pendekar Awan dan Angin".


Cai Yun/Fu Hai Feng dalam Olimpiade London 2012


Fu Hai Feng/Zhang Nan dalam Olimpiade Rio de Janeiro 2016

Namun selain bersama Cai Yun, Fu Hai Feng juga pernah berpasangan dengan Zhang Nan. Walaupun Fu Hai Feng/Zhang Nan juga sukses meraih Medali Emas Olimpiade Rio De Janeiro 2016 dalam sektor ganda putra, namun secara keseluruhan, sepak terjang dan prestasi yang diraih pasangan Fu/Zhang tidak sebanyak pasangan "awan dan angin" alias Cai Yun/Fu Hai Feng.

Fu Hai Feng tak hanya sukses mencetak banyak prestasi di lapangan bulu tangkis, dia juga dikabarkan memiliki kehidupan pribadi yang bahagia. 

Mantan pebulu tangkis legenda asal Tiongkok, Fu Hai Feng, menikah pada tahun 2007 setelah berpacaran selama dua tahun. Fu Hai Feng berkenalan dengan istrinya—yang merupakan lulusan Renmin University (Universitas Rakyat Tiongkok)—pada tahun 2005. Pernikahan mereka dilangsungkan secara tertutup dan sederhana tanpa liputan media yang besar. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai anak pertama bernama Fu Zhi Yu (lahir awal tahun 2008) yang memiliki nama panggilan "Xiao Yu'er" alias "Ikan kecil".


Fu Hai Feng dan putranya, Fu Zhi Yu (yang kini sudah berusia 18 tahun)

Dengan karir yang begitu cemerlang dan kehidupan rumah tangga yang begitu damai dan bahagia, maka tak salah jika Fu Hai Feng pantas disebut sebagai "Sang Pemenang Kehidupan".

Prestasi Utama:
* Medali Emas Olimpiade London 2012 : bersama Cai Yun.
* Medali Emas Olimpiade Rio de Janeiro 2016 : bersama Zhang Nan.

Karakteristik Permainan:
Memiliki julukan pemain dengan smes paling keras dan ikonik. Spesialis ganda putra yang mengandalkan kecepatan dan kekuatan serangan dari belakang lapangan.


Profil
Nama: Fu Hai Feng (傅海峰)
Tanggal lahir: 23 August 1983.
Tempat lahir: Jieyang, Guangdong, China
Tinggi: 183 cm (6 ft 0 in)
Berat: 70 kg (150 lb; 11 st)
Negara asal: China
Pemegang raket: Tangan kiri (kidal)
Profesi: Atlet (Ganda Putra Bulutangkis)
Ranking tertinggi: 1 (June 23, 2011)


Jumlah Perolehan Medali:
* Olimpiade:
2008 : Beijing, China - Medali Perak - Ganda Putra.
2012 : London, Inggris - Medali Emas - Ganda Putra.
2016 : Rio de Janeiro, Brazil - Medali Perak - Ganda Putra.

* Asian Games:
2006 : Doha - Medali Emas - Tim
2010 : Guangzhou, China - Medali Emas - Tim.
2014 : Incheon, Korea Selatan - Medali Perak - Tim.

* World Championships
2003 : Birmingham - Medali Perunggu - Ganda Putra. 
2006 : Madrid - Medali Emas - Ganda Putra.
2009 : Hyderabad - Medali Emas - Ganda Putra. 
2010 : Paris, Perancis - Medali Emas - Ganda Putra. 
2011 : London, Inggris - Medali Emas - Ganda Putra.
2013 : Guangzhou, China - Medali Perunggu - Ganda Putra.

* Sudirman Cup
2003 : Eindhoven - Medali Perak - Tim.
2005 : Beijing, China - Medali Emas - Tim.
2007 : Glasgow - Medali Emas - Tim.
2009 : Guangzhou, China - Medali Emas - Tim.
2011 : Qingdao, China - Medali Emas - Tim.
2013 : Kualalumpur, Malaysia - Medali Emas - Tim.
2015 : Dongguan, China - Medali Emas - Tim.
2017 : Gold Coast, Australia - Medali Perak - Tim.

* Thomas Cup
2004 : Jakarta, Indonesia - Medali Emas - Tim.
2006 : Tokyo, Jepang - Medali Emas - Tim.
2008 : Jakarta, Indonesia - Medali Emas - Tim.
2010 : Kuala Lumpur, Malaysia - Medali Emas - Tim.
2012 : Wuhan, China - Medali Emas - Tim.
2014 : New Delhi, India - Medali Perunggu - Tim.

* World Cup
2005 : Yiyang, China - Medali Emas - Ganda Putra.
2006 : Yiyang, China - Medali Perunggu - Ganda Putra.

* Asian Championship
2011 : Chengdu, China - Medali Emas - Ganda Putra.
2016 : Wuhan, China - Medali Perunggu - Ganda Putra.


BWF Superseries (16 titles, 14 runners-up)
* 2007 : All England Open - Runner Up.
* 2007 : Singapore Open - Winner.
* 2007 : Indonesia Open - Winner.
* 2007 : China Masters - Winner.
* 2007 : French Open - Winner.
* 2008 : Korea Open - Winner.
* 2008 : Denmark Open - Runner Up.
* 2009 : All England Open - Winner.
* 2009 : Indonesia Open - Runner Up (lawan: Jung Jae Sung/ Lee Yong Dae dengan skor : 15–21, 18–21)
* 2009 : China Masters : Runner Up.
* 2010 : Korea Open - Runner Up (lawan: Jung Jae Sung/Lee Yong Dae dengan skor : 11–21, 21–14, 18–21)
* 2010 : China Masters - Winner.
* 2010 : Japan Open - Winner.
* 2011 : Singapore Open - Winner.
* 2011 : Indonesia Open - Winner.
* 2011 : China Masters - Runner Up (lawan: Jung Jae Sung/Lee Yong Dae dengan skor : 17–21, 10–21)
* 2011 : Japan Open - Winner.
* 2011 : Denmark Open - Runner Up (lawan: Jung Jae Sung/Lee Yong Dae dengan skor : 16–21, 17–21)
* 2011 : French Open - Runner Up (lawan : Jung Jae Sung/Lee Yong Dae dengan skor : 21–14, 15–21, 11–21)
* 2011 : Hong Kong Open - Winner (lawan : Jung Jae Sung/Lee Yong Dae dengan skor : 14–21, 24–22, 21–19)
* 2012 : Korea Open - Winner (lawan : Jung Jae Sung/Lee Yong Dae dengan skor : 18–21, 21–17, 21–19)
* 2012 : All England Open - Runner Up (lawan : Jung Jae Sung/Lee Yong Dae dengan skor : 23–21, 9–21, 14–21)
* 2012 : Hong Kong Open - Winner.
* 2014 : Denmark Open - Winner (lawan : Lee Yong Dae/Yoo Yeon Seong dengan skor : 21–13, 25–23)
* 2015 : All England Open - Runner Up.
* 2015 : Indonesia Open - Runner Up.
* 2015 : Singapore Open - Runner Up.
* 2015 : Japan Open - Runner Up (lawan : Lee Yong Dae/Yoo Yeon Seong dengan skor : 19–21, 27–29)
* 2016 : Singapore Open - Winner.
* 2017 : Malaysia Open - Runner Up.

Rekor Head To Head dalam BWF Superseries :
Fu Hai Feng/Cai Yun vs Lee Yong Dae/Jung Jae Sung:  2 vs 6.
Fu Hai Feng/Zhang Nan vs Lee Yong Dae/Yoo Yeon Seong: 1 vs 1
Total pertemuan : 10 kali pertemuan (menang 3 kali dan kalah 7 kali)


BWF Grand Prix (8 titles, 8 runners-up)
* 2003 : Malaysia Open - Runner Up. 
* 2003 : German Open - Runner Up.
* 2004 : Swiss Open - Winner.
* 2004 : Japan Open - Runner Up.
* 2004 : Indonesia Open - Runner Up.
* 2005 : German Open - Winner.
* 2005 : All England Open - Winner.
* 2005 : Malaysia Open - Runner Up.
* 2005 : Hong Kong Open - Winner.
* 2006 : China Masters - Runner Up.
* 2006 : Chinese Taipei Open - Winner (lawan : Jung Jae Sung/Lee Yong Dae dengan skor : 21–14, 21–18)
* 2006 : Macau Open - Winner.
* 2006 : China Open - Runner Up.
* 2008 : Thailand Open - Winner.
* 2014 : Swiss Open - Runner Up.
* 2015 : Chinese Taipei Open - Winner.

Rekor Kemenangan Head To Head dalam BWF Grand Prix :
Fu Hai Feng/Cai Yun vs Lee Yong Dae/Jung Jae Sung:  1 vs 0.
Total pertemuan : 1 kali (dengan kemenangan diraih Fu Hai Feng/Cai Yun).


Fu Hai Feng resmi pensiun dari tim nasional bulu tangkis China pada Mei 2017. Pertandingan terakhirnya terjadi saat membela China di ajang Piala Sudirman 2017 di Gold Coast, Australia.  Walaupun pasangan Fu Hai Feng/Zhang Nan sukses menyumbangkan poin kemenangan, namun secara keseluruhan, tim China gagal mempertahankan Piala Sudirman yang telah berada bersama mereka sejak tahun 2005-2015 dan harus rela memberikannya kepada Korea Selatan yang akhirnya sukses membawa pulang Piala Sudirman setelah terakhir tahun 2003 Korea Selatan berhasil memenangkannya. Korea Selatan sukses menjadi juara Piala Sudirman 2017 dengan skor 3-2 melawan China di babak Final.

Sebelum keputusan final tersebut, legenda ganda putra peraih dua medali emas Olimpiade ini sempat berencana pensiun pada akhir 2016, namun kembali sejenak memperkuat timnas China pada awal 2017.

Saat ini (2026), legenda bulu tangkis asal Tiongkok Fu Hai Feng aktif bekerja sebagai konsultan teknis dan staf pelatih bagi tim nasional bulu tangkis Tiongkok. 


Kegiatan Saat Ini:
Pelatih Ganda:
Membantu melatih sektor ganda putra, termasuk mendampingi dan membimbing pasangan ganda Tiongkok seperti Liang Wei Keng dan Wang Chang. 

Konsultan Prestasi:
Memberikan arahan teknis dan pengalaman sebagai peraih dua medali emas Olimpiade untuk mempersiapkan atlet-atlet pelatnas Tiongkok menghadapi kejuaraan internasional besar. 

Hall of Fame BWF:
Namanya diabadikan dalam BWF Hall of Fame bersama partner legendarisnya, Cai Yun, setelah resmi pensiun sebagai pemain profesional. 

Oh ya, Hingga saat ini rekor smash tercepat bulutangkis masih dipegang oleh pemain ganda putra China yaitu Fu Hai Feng. Rekor itu dibuat ketika ia berpasangan dengan rekannya Cai Yun berlaga di Piala Sudirman pada tahun 2005. Mau tau berapa kecepatannya? Kecepatan smashnya yaitu 332 km/jam.

Oleh: Liana Hwie.
Credit Picts: As Tagged (all pictures belongs to owner)
Source: Berbagai sumber.

Minggu, 13 September 2026

Sinopsis & Review: Keteguhan Cinta, drama jadul 1990-an tentang si gadis buta yang mencari cinta

"Keteguhan Cinta" atau yang memiliki judul asli "The Journey Towards Blessing (Lu Chang Ching Kheng Chang/路長情更長)" adalah drama 1990-an yang dulu pernah ditayangkan di Indosiar sekitar tahun 1996. 


Sebenarnya pembahasan tentang drama jadul ini pernah diposting di blogku satunya, "Asian Stars". Namun karena beberapa waktu lalu, blogku yang hampir memecahkan 5 juta pengunjung itu secara tiba-tiba dihapus oleh google karena kesalahan sistem, walaupun sekarang sudah dipulihkan karena aku memang tidak melakukan kesalahan apa pun, namun aku tetap takut hal seperti itu terjadi lagi. 

Aku takut sebenarnya Google memang menyasar blog populer yang menghasilkan jutaan pengunjung, karena menurut laporan para blogger yang terjadi di seluruh dunia, kebanyakan yang hilang adalah blog dengan jutaan pengunjung, termasuk Panchoa yang juga ikut dihapus.

Itu sebabnya aku memutuskan untuk menulis sekali lagi tentang drama ini di blog yang baru. Ya, hanya sekedar berjaga-jaga jika hal yang buruk terjadi lagi, setidaknya aku punya back up-nya dan gak semuanya ilang.

Menurut pantauanku, hingga detik ini, September 2026 masih belum ada blog lain yang membahas tentang drama ini selain "ASIAN STARS". Bagus. Terima kasih karena tidak mencopy paste artikelku. Karena mencari all about drama jadul memang sangatlah sulit, jadi tolong hargailah kerja keras sesama penulis. Aku tidak meminta penghargaan piala atau uang, namun cukup TIDAK MENULIS ULANG ARTIKEL YANG KUBUAT. Itu saja!


Bagi kalian generasi Milenial, pasti setidaknya pernah mendengar lirik lagu di bawah ini, bukan?
"Lihat saja di mataku! Tiada dendam tiada duka! Doaku semoga kau bahagia..."

Inget, kan? Yup, lagu yang dinyanyikan oleh Paramita Rusady itu adalah sepenggalan lirik lagu dari opening song-nya drama Taiwan jadul "Keteguhan Cinta" yang dibintangi oleh si cantik nan imut-imut, Gloria Yip.

Namun tentu saja, itu bukanlah soundtrack aslinya. Karena soundtrack aslinya hanya Tuhan dan pihak rumah produksi Taiwan yang tahu. Maklum aja, karena di tahun 1990an saat Soeharto masih berkuasa, dia sangat ANTI CHINA makanya semua drama Asia, harus didubbing bahasa Indonesia semua dan lagu soundtracknya pun harus dibahasa Indonesiakan. Hingga saat ini, aku pun masih kesulitan mencari soundtrack aslinya seperti apa. Nanti kalau ketemu, pasti di share kok. Oke, mari kembali ke drama!


Drama Profile :
Judul Indonesia : Keteguhan Cinta
Judul Asli : The Journey Towards Blessing (Lu Chang Ching Kheng Chang/路長情更長)
No. Of Episode : 40 episode
Starring (主演) :
* Lin Rui Yang (林瑞阳) as Ou Yi Hang
* Gloria Yip (叶蕴仪) as Xu Kai Ching
* Meng Da Wei
* Crystal Chang Yu Yan (张玉嬿) as Tian Xin Di
Genre (类别) : Drama (剧情), Life (生活), Emotion (情感)
Production (地区) : Taiwan (台湾) 1994
Broadcasting : 11 Juli 1994 – 19 Agustus 1994

Sinopsis :
Ou Yi Hang (Kevin Lin Rui Yang) adalah anak angkat yang diadopsi sejak kecil oleh keluarga Xu. Yi Hang dan Kai Ching (Gloria Yip) awalnya tumbuh bersama sejak kecil sebagai kakak beradik. Namun kemudian, Yi Hang dan Kai Ching mengetahui bahwa Yi Hang ternyata hanyalah anak angkat keluarga Xu. Yi Hang berkata dia ingin menemui orang tua kandungnya yang menurut informasi kini tinggal di Amerika.

Keluarga Xu menyetujui keinginan Yi Hang. Suami istri Xu dan kedua anak mereka yaitu Kai Ching dan adik laki-lakinya juga ikut mengantarkan Yi Hang ke bandara. Namun naas, dalam perjalanan ke bandara, mobil yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan.


Nyonya Xu (Ibu Kai Ching) meninggal dunia dan kedua anak mereka mengalami kebutaan. Kai Ching dan adik laki-lakinya akhirnya disekolahkan di sebuah sekolah khusus disabilitas alias sekolah khusus anak-anak buta, yang juga menyediakan asrama. Sementara Yi Hang tetap dikirim ke Amerika karena keluarga Xu menganggap Yi Hang adalah penyebab kecelakaan tersebut hingga tidak ingin melihatnya lagi.

Di Amerika, Yi Hang bertemu dengan seorang wanita bernama Tian Xin Di (Crystal Chang Yu Yan) dan akhirnya mereka pun jatuh cinta. Sementara Kai Ching, bertemu dengan seorang pemuda yang juga mengalami masalah kebutaan bernama Meng Da Wei dan mereka pun berteman baik.

Beberapa tahun berlalu, Yi Hang pun kembali ke Taiwan dan menemui Kai Ching di sekolahnya. Kai Ching sangat senang mengetahui bahwa “kakaknya” telah kembali, namun kebahagiaannya langsung musnah saat mengetahui bahwa sang “kakak” telah memiliki wanita yang dicintai.

Kai Ching dan adik laki-lakinya telah menjalani operasi berkali-kali namun selalu gagal. Berbeda dengan Meng Da Wei yang beruntung karena berhasil melihat kembali walau hanya sekali menjalani operasi mata. Da Wei segera menemui Kai Ching setelah dia dapat melihat kembali dan jatuh hati pada wajahnya yang cantik, Kai Ching tak hanya baik dan lembut namun juga sangat cantik.

Namun sayang, Kai Ching hanya mencintai Yi Hang. Dan Kai Ching pun sempat menggunakan segala cara untuk memisahkan Yi Hang dan Xin Di termasuk memanfaatkan kebutaannya agar Yi Hang tetap berada di sisinya. Namun semuanya sia-sia, cinta Yi Hang terhadap Xin Di sangat kuat. (padahal lebih cantik Kai Ching ke mana-mana. Yi Hang ini ibarat dikasih berlian, malah milih batu kerikil)


Kalau dipikir lagi, Yi Hang dan Tian Xin Di sebenarnya pasangan serasi sih, sama-sama jelong >_<

Di sisi lain, Nenek Da Wei sangat tidak menyukai Kai Ching karena Kai Ching adalah gadis buta dan dia pun mengetahui bahwa cinta cucunya bertepuk sebelah tangan. Tak ingin melihat cucu kesayangannya selalu terluka karena gadis buta itu, wanita tua itu pun selalu melakukan segala cara agar cucunya menjauhi Kai Ching.

Suatu ketika, Yi Hang mengetahui kebenaran bahwa ternyata dia adalah anak haram hasil perselingkuhan sang Ayah dengan ibunya. Ayah Yi Hang ternyata adalah ayah Da Wei, jadi dengan kata lain Yi Hang dan Da Wei bersaudara meski tidak lahir dari rahim wanita yang sama.

Itulah sebabnya sang Ibu membuang Yi Hang karena tidak ingin anaknya malu bila mengetahui yang sebenarnya. Mengetahui bahwa Yi Hang selalu menyakiti hati Kai Ching, keluarga Xu lebih setuju bila Kai Ching menjalani hubungan dengan Da Wei yang tak hanya mencintainya dengan tulus, namun juga kaya, tampan dan berasal dari keluarga yang terhormat.

Namun Nenek Da Wei semakin membenci Kai Ching saat mengetahui bahwa kakak angkat Kai Ching adalah anak haram dari putranya, anak haram yang telah membuat aib keluarga. Apalagi sejak awal Nenek Da Wei mengetahui bahwa Kai Ching telah menolak Da Wei demi sang anak haram.

Akhirnya demi kebaikan semua orang, setelah Yi Hang dan Xin Di menikah, mereka berdua memutuskan untuk kembali ke Amerika.


Setelah Yi Hang pergi, Kai Ching pun menyadari jika Da Wei adalah satu-satunya orang yang selama ini selalu peduli padanya. Dia pun berusaha mendekatkan dirinya dengan Nenek Da Wei. Kai Ching ingin memulai hidup baru dengan pria yang mencintainya dengan tulus, bukan dengan pria yang selalu menyakiti hatinya demi wanita lain.

Di akhir episode, Nenek Da Wei akhirnya mulai bisa menerima Kai Ching dengan segala keterbatasannya. Kai Ching tampak berbahagia dengan Da Wei. Lalu tak lama kemudian, Yi Hang dan istrinya kembali ke Taiwan untuk menemui adik-adiknya, Da Wei dan Kai Ching dan mereka berempat pun tampak menari-nari dengan gembira di halaman.

Tamat.

~~~~~~

Review:
1. Karakter dan Pemeran.
A. Gloria Yip (叶蕴仪) as Xu Kai Ching.
Sudah jelas aku adalah pendukung Kai Ching, ya! Bukan si nenek peyot, Tian Xin Di. Sejak awal cerita, Kai Ching-lah yang lebih dulu muncul dan drama ini pun sebenarnya lebih banyak menceritakan tentang Kai Ching dan kesulitan hidupnya sebagai gadis buta dan cintanya yang bertepuk sebelah tangan. Menurut formula drama Korea, karakter yang muncul lebih dulu di awal cerita dan diperkenalkan pertama kali kepada penonton, seharusnya adalah sang pemeran utama. Hanya drama ini aja yang aneh banget!


Yang pertama muncul dan diperkenalkan kepada penonton adalah karakter Xu Kai Ching, seharusnya dialah aktris utamanya, eh malah tiba-tiba jadi Tian Xin Di yang baru muncul di tengah jalan. Bukankah itu sangat tidak masuk akal? Drama ini benar-benar anomali karena tidak mengikuti formula drama pada umumnya.

Jadi itu sebabnya, walaupun pemeran utama wanitanya adalah Crystal Chang Yu Yan yang berperan sebagai Tian Xin Di, aku tidak peduli karena dia gak worthed buat dibahas. Bagiku, dalam hatiku, dia adalah karakter anomali yang muncul di tengah jalan lalu dipaksa menjadi tokoh utama wanita. Aneh dan gak masuk akal. Muncul di tengah jalan, tiba-tiba nyelonong manja jadi lakonnya >_<

Gloria Yip sangat pas memerankan tokoh si gadis buta, Xu Kai Ching. Selain sangat cantik dan imut, wajahnya pun melas dan sabar. Cocok memerankan seorang gadis yang terzolimi.

Walau ada beberapa penonton yang mungkin justru sebel sama Kai Ching karena mencoba memisahkan Yi Hang dan Xin Di, tapi penulis pribadi lebih berpihak pada Gloria Yip (Kai Ching) karena selain Kai Ching lebih cantik dan lebih muda dari Xin Di, tapi juga karena Yi Hang dan Kai Ching telah lebih dulu bertemu.

Mereka dibesarkan bersama sebagai kakak beradik sejak kecil, dan Yi Hang juga secara tidak langsung telah menyebabkan Kai Ching menjadi buta, karena kecelakaan itu tidak akan terjadi jika bukan karena ingin mengantar Yi Hang ke bandara.

Jadi sangat menyebalkan saat melihat Xin Di mendadak muncul di tengah jalan dan merebut perhatian Yi Hang dari “adiknya”. Wajar juga kalau si “adik” jadi marah karena merasa “kakaknya” telah dirampas oleh seseorang yang mendadak muncul di tengah jalan.

Kalau dalam sudut pandangku, Pelakornya justru Tian Xin Di. Dia kan gak buta, sehat walafiat, sudah dewasa, jadi kenapa dia tidak mau mencari pria lain saja? Kenapa harus merampas Yi Hang dari Kai Ching? Kenapa harus menghancurkan hubungan baik mereka dan memaksa Yi Hang memilih?


Tapi sudahlah, setiap penonton pasti memiliki sudut pandang masing-masing yang tak mungkin diubah, jadi kita saling menghormati pendapat masing-masing aja ^_^ Couple Da Wei dan Kai Ching juga cocok kok, sama-sama muda dan Da Wei juga tulus mencintai Kai Ching meskipun tahu bahwa gadis itu buta. Walaupun tetep sebel sama Tian Xin Di tapi yang penting Kai Ching juga mendapatkan kebahagiaan pada akhirnya. Kai Ching berhak bahagia!

Ini sesuai dengan pepatah, “Asal kau mau menoleh sedikit saja, kebahagiaan sebenarnya sudah ada di sampingmu sejak lama.” Da Wei selalu ada untuk Kai Ching, saat Kai Ching menangis untuk Yi Hang, Da Wei-lah yang selalu menghiburnya. Sayangnya, aktor utamanya gak bisa diganti hahaha ^_^

B. Lin Rui Yang (林瑞阳) as Ou Yi Hang
Ou Yi Hang adalah si anak haram yang gak tahu terima kasih! Udah bagus anak haram seperti dia, diadopsi dan diangkat anak oleh keluarga kaya, diperhatikan, disayang seperti anak sendiri, dan bahkan dicintai oleh sang "adik perempuan".


Yi Hang-lah yang menghancurkan seluruh keluarga Xu sejak awal. Jika bukan karena mengantar Yi Hang ke bandara, keluarga Xu tidak akan hancur berantakan seperti itu. Ibu Xu tidak akan meninggal dan kedua bersaudara Xu tidak akan kehilangan penglihatan mereka. Dan belum cukup dengan itu, dia pun malah menghancurkan hati sang "adik perempuan" dengan jatuh cinta pada seorang gadis asing yang muncul di tengah jalan, menyakitinya berkali-kali.

Jujur, baru kali ini aku gak suka dengan karakter utama dalam sebuah drama. Baik itu karakter utama pria ataupun wanita, bagiku keduanya sampah berhati kejam! Untunglah drama Taiwan setelah itu kembali waras dan mengikuti formula drama pada umumnya, hanya ini yang anomali.

Secara visual, aku juga gak suka! Wajahnya seburuk karakternya! Sebenarnya cocok juga sih sama si Xin Di. Cocok! Sama-sama NOT GOOD LOOKING! 

2. Alur Cerita.
Apa yang bisa kukatakan? Berantakan kalau kataku! Yang membuatku sedih justru karena karakternya Xu Kai Ching yang berkali-kali disakiti oleh Yi Hang dan kekasihnya. Bahkan lagunya Paramita Rusady pun seolah menggambarkan karakternya Kai Ching, kan?

"Lihat saja di mataku! Tiada dendam, tiada duka! Doaku semoga kau bahagia!"

Lihat? Bukankah pada akhirnya Xu Kai Ching melepaskan cintanya pada Yi Hang tanpa dendam dan mendoakan agar Yi Hang bahagia? Bahkan lagunya pun cocok untuk Kai Ching loh itu. Aneh, kan? Kai Ching bukan pemeran utama, tapi alur ceritanya dan bahkan soundtracknya seolah-olah menggambarkan dialah pemeran utama wanitanya.


Tak hanya karakter Xu Kai Ching yang seolah outshine si Tian Xin Di, namun karakter Meng Da Wei juga sama. Aku lebih suka karakter Meng Da Wei yang polos, baik hati dan setia. Tapi entah kenapa, drama Taiwan era jadul selalu kebanyakan berpihak pada anak haram yang lahir di luar nikah.

Gak cuma Yi Hang sih, karakter Ye Tian Bien (Angela Zhang) dalam "At The Dolphin Bay" juga adalah seorang anak haram yang lahir di luar nikah. Itu sebabnya dia gak diakui oleh keluarga Xu dan akhirnya terdampar di Panti Asuhan dan bertemu Xu Zhe Ya.

Why Oh Why? Kenapa harus menjadikan anak haram sebagai karakter utama? Apakah karena para penulis skenarionya adalah anak haram juga jadi mereka ingin mendukung sesama anak haram dan ingin menaikkan derajat anak haram melalui drama? Ingin menunjukkan betapa kasian dan menderitanya para anak haram tersebut hingga mereka pun pantas bahagia, begitukah? Bukankah ini sama saja dengan menormalisasi perselingkuhan dan kelahiran anak haram di luar nikah?

Waktu masih kecil gak tahu dan gak memperhatikan sih, sekarang setelah dewasa, barulah aku mengerti dan memahami, "Pantesan aja Ye Tian Bien dibuang! Pantesan Ye Tian Bien dibenci oleh Ibunya Xu San Ni. Istri sah mana yang bisa dengan lapang dada menerima anak hasil perselingkuhan suaminya? Uda gitu, endingnya si anak haram hidup dan bahagia pula, sedangkan anak istri sah malah meninggal karena kanker darah". Mendadak aku yang dulu suka "At The Dolphin Bay" jadi gak respek sama karakter Ye Tian Bien. Ya sama kayak karakter Yi Hang ini.

Yang pertama dan terutama, kenapa anak haram harus dijadikan karakter utama sih? Apa kalian pikir anak dari istri sah gak cukup menyedihkan sampai drama-drama Taiwan jaman dulu berpihak pada anak haram? Anak dari istri sah juga sangat menyedihkan loh saat mengetahui kalau ayahnya berselingkuh dari ibu kandungnya dan punya anak lain. Kenapa gak mengangkat kisah tentang anak dari istri sah yang ayahnya direbut pelakor dan anak haram aja sih? Lah ini malah dramanya mendukung si anak haram. Setelah dewasa baru paham kalau ada yang salah dengan drama ini.


Lalu drama ini pun tidak mengikuti formula drama pada umumya, yaitu yang muncul lebih dulu di awal cerita dan diperkenalkan lebih dulu kepada penonton adalah pemeran utamanya. Di drama ini, karakter Xu Kai Ching muncul lebih dulu, tapi ternyata pemeran utamanya malah seorang wanita yang baru muncul di tengah jalan, yaitu Tian Xin Di. Sangat tidak masuk akal bagiku.

Lalu formula "teman masa kecil" alias "Childhood Sweetheart" juga gak berlaku di sini. Drama pada umumnya pasti menceritakan tentang "Teman masa kecil" yang tumbuh bersama lalu berubah menjadi sepasang kekasih yang saling mencintai, seperti "Autumn In My Heart, Winter Sonata", dan "Spring Waltz" sebagai contohnya. Kalau menurut ketiga drama tersebut, ketemu duluan, muncul duluan, kenal duluan, pastilah pemeran utamanya, hanya di drama ini kedua hal tersebut tidak berlaku.

Gak papa juga sih, terserah penulis skenarionya aja. Hanya saja aku sebagai penonton, gak suka melihatnya. Aneh aja kalau yang tiba-tiba muncul di tengah jalan, justru endingnya menang dan mendapatkan hati aktor utamanya. Di mataku, Tian Xin Di justru malah terlihat seperti pelakornya. Pelakor kan muncul belakangan, hanya untuk merebut sang pemeran utama pria. Karakter Tian Xin Di seperti itu di mataku.

Tapi ini pendapatku loh. Karena yang namanya review sudah tentu reviewnya tergantung sudut pandang orang yang mengulasnya. Boleh setuju, boleh tidak! Bagi yang tidak setuju, yasudah, abaikan aja review dariku, gak ada yang maksa kalian untuk membaca.

Writen by : Liana Hwie.
Note : DILARANG MENG-COPY PASTE TANPA IJIN DARI PENULIS! REPOST WITH FULL CREDITS! SAYA MENCARI INFORMASI MENGENAI DRAMA INI SAMPAI PUSING 7 KELILING, TOLONG JANGAN DICOPAS SEENAK JIDAT, YA!


(Profil) Bao Chun Lai, Sang "Juara Tanpa Mahkota"

Siapa yang tidak mengenal Bao Chun Lai? Bagi mereka penggemar bulutangkis, apalagi yang mengikuti olahraga ini sejak tahun 2000-an awal, pasti mengenal betul nama Bao Chun Lai yang dijuluki media sebagai "Momok Taufik Hidayat" dan "Bayang-bayang Lin Dan".

Bao Chun Lai adalah pebulutangkis bertangan kidal, berwajah tampan, bertubuh tinggi semampai, kelahiran 1983 yang berasal negeri Tirai Bambu Tiongkok, dia merupakan rekan senegara Lin Dan dan muncul di era yang sama dengannya.



Jika bicara soal Bao Chun Lai, julukan "Sang Juara Tanpa Mahkota" sepertinya sangat cocok disematkan padanya. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, istilah "Juara Tanpa Mahkota" ini adalah ungkapan klasik yang menunjukkan bahwa kualitas diri seseorang sebenarnya setara dengan seorang juara, hanya saja keberuntungan atau situasi belum berpihak padanya.

Bukankah ini sangat cocok dengan rekam jejak prestasi Bao Chun Lai yang selalu "Tinggal Selangkah Lagi" dari podium juara, namun terhenti dengan menyesakkan karena keberuntungan tidak berpihak padanya hingga membuatnya harus menelan pil pahit dan berakhir menjadi "Sang Runner Up".

Jika diibaratkan sebuah drama, kisah hidup Bao Chun Lai yang selalu menjadi "Yang Kedua" ini sama seperti kisah hidup Shin Hye Sung dalam drama Korea "Dream High 2". Seorang gadis yang bermimpi menjadi seorang penyanyi namun tidak memiliki bakat untuk itu. Ada dialog yang diucapkan oleh Shin Hye Sung dalam "Dream High 2" yang sangat cocok dengan pengalaman dan kisah hidup Bao Chun Lai.


Saat itu, Shin Hye Sung dalam "Dream High 2" berkata:
“Aku ingin bertanya kepada semua orang.
Apakah mimpi itu hanya boleh dimiliki oleh mereka yang memiliki bakat?
Jika kau tidak memiliki bakat, apa kau tidak diijinkan untuk bermimpi?
Jika kau bermimpi, kau harus memejamkan matamu.
Jika matamu tertutup, bagaimana orang lain akan melihatmu itu tidaklah penting.
Hanya ketika kau menutup mata, itu adalah saat di mana kau benar-benar berhenti memikirkan apa yang orang lain pikirkan tentangmu.
Kau harus berhenti memikirkan apa tanggapan orang terhadap dirimu,
itulah di mana saatnya kita bisa menghadapi diri kita yang sebenarnya.
Setelah kau menutup mata,
maka katakan seperti ini ‘Aku tidak boleh menyerah terhadap mimpiku sendiri’.
Mengapa tidak?
Karena mimpi bukan hanya milik mereka yang memiliki bakat,
tapi mimpi itu dimiliki oleh semua orang yang ingin bermimpi.
Hanya menggunakan sebuah payung lusuh yang kecil, untuk melindungi diri dari angin dan hujan.
Kita harus memakai bakat kecil yang kita miliki, untuk meraih impian yang lebih besar.
Aku ingin mendedikasikan lagu ini kepada mereka yang terluka karena mimpi mereka.
Mereka yang dipaksa untuk menyerah terhadap impian mereka sendiri.
Untuk mereka yang selalu berada di urutan kedua.
Untuk mereka yang berada di kelas buangan.
Untuk mereka yang selalu merasa hidup di bawah mereka yang pertama."

Dialognya sama dengan kisah hidup Bao Chun Lai, kan?
"Untuk mereka yang selalu berada di urutan kedua! Untuk mereka yang selalu merasa hidup di bawah mereka yang pertama!"

Bahkan hingga saat dia pensiun, Bao Chun Lai hanya mampu meraih Peringkat 2 Dunia dan tak pernah mampu menjadi yang pertama.


Bao Chun Lai sama dengan Shin Hye Sung. Bedanya, Shin Hye Sung dalam drama memilih untuk melepas impiannya untuk menjadi seorang penyanyi dan akhirnya sukses beralih profesi menjadi komposer kelas dunia yang memang merupakan bakatnya. Sementara Bao Chun Lai, tidak peduli beralih profesi apa pun, keberuntungan sepertinya tidak pernah berpihak padanya.

Bahkan tersiar kabar di tahun 2025, Bao Chun Lai mengaku di status Weibo miliknya bahwa dia kini menjadi seorang tunarungu (tuli) karena kehilangan pendengarannya akibat sebuah penyakit. Bao Chun Lai yang sekarang mengandalkan membaca gerak bibir untuk berkomunikasi dengan orang lain, dikabarkan belum menikah dan belum memiliki pasangan hidup.


Profil:
Nama: Bao Chun Lai (鲍春来)
Tempat lahir: Changsa, Hunan, China
Tanggal lair: 17 February 1983.
Tinggi: 191 cm (6 ft 3 in)
Berat badan: 78 kg (170 lb; 12.3 st)
Negara: China
Pemain dengan tangan: Kiri (kidal)
Profesi: Tunggal Putra Bulutangkis China.
Ranking tertinggi: 2 (March 15, 2007)

Turnamen:
World Championships
2003 :  Birmingham - Medali Perunggu - Tunggal Putra.
2006 : Madrid - Medali Perak - Tunggal Putra.
2007 : Kuala Lumpur - Medali Perunggu - Tunggal Putra.
Asian Games
2002 : Busan - Medali Perunggu - Tim Putra.
2006 : Doha - Medali Emas - Tim Putra.
2010: Guangzhou - Medali Emas - Tim Putra.
Thomas Cup
2004 : Jakarta - Medali Emas - Tim Putra.
2006 : Tokyo - Medali Emas - Tim Putra.
2008 : Jakarta - Medali Emas - Tim Putra.
2010 : Kuala Lumpur - Medali Emas - Tim Putra.
Sudirman Cup
2003 : Eindhoven - Medali Perak - Tim Gabungan.
2005 : Beijing - Medali Emas - Tim Gabungan.
2007 : Glasgow - Medali Emas - Tim Gabungan.
2009 : Guangzhou - Medali Emas - Tim Gabungan.
2011 : Qingdao - Medali Emas - Tim Gabungan.
Asian Championships
2009 : Suwon, Korea Selatan - Medali Emas - Tunggal Putra.
2011 : Chengdu, China - Medali Perak - Tunggal Putra.
World Junior Championships
2000 : Guangzhou, China - Medali Emas - Tunggal Putra.
2000 : Guangzhou, China - Medali Emas - Tim Ganda Campuran.
Asian Junior Championships
2000 : Kyoto, Jepang - Medali Emas - Tim Putra.



BWF Superseries (3 titles, 5 runners-up)
Tunggal Putra:
2007 : Malaysia Open - Runner Up
2007 : Indonesia Open - Runner Up
2007 : Denmark Open - Runner Up
2007 : French Open - Runner Up
2007 : China Open - Winner
2009 : Singapore Open - Winner
2009 : Japan Open - Winner
2010 : China Open - Runner Up


BWF Grand Prix (5 titles, 10 runners-up)
Tunggal Putra:
2001 : Dutch Open - Runner Up
2001 : Denmark Open - Winner
2004 : Swiss Open - Runner Up
2004 : Japan Open - Runner Up
2004 : China Open - Runner Up
2005 : China Masters - Runner Up
2005 : Hong Kong Open - Runner Up
2005 : China Open - Runner Up
2006 : Indonesia Open - Runner Up
2006 : Korea Open - Winner
2006 : China Open - Runner Up
2009 : German Open - Winner
2010 : German Open - Winner
2010 : Korea Grand Prix - Winner
2011 : Malaysia Grand Prix Gold - Runner Up

Filmography:
2012 : Soul Transfer Station.
2015 : Full Strike.
2016 : The Match.
2019: Confidant.

Selain aktif berkecimpung di dunia hiburan, Bao Chun Lai juga aktif dalam kegiatan sosial, serta laga ekshibisi legenda bulu tangkis.


Aktivitas Terbaru Bao Chun Lai.
Karier Hiburan & Akting:
Baru-baru ini ia sempat tampil sebagai kameo atau pemeran pendukung dalam Bao Chunlai Baidu Wiki sebagai "Gold Medal Mentor" dalam sebuah micro-drama olahraga di Tiongkok.

Kegiatan Sosial:
Aktif dalam berbagai kampanye kesehatan dan amal, termasuk bekerja sama dengan rumah sakit besar di Tiongkok untuk program kesehatan anak.

Laga Ekshibisi Legenda:
Ia sempat reuni dan berpasangan dengan Lin Dan menghadapi pasangan Cai Yun/Fu Haifeng dalam ajang ekshibisi King Cup International Badminton Open.


Bao Chun Lai, pebulutangkis bertangan kidal itu merupakan salah satu tunggal putra andalan China yang pensiun pada tahun 2011. Sebagai salah satu tunggal putra andalan China, Bao Chun Lai pernah meraih sejumlah prestasi yang membanggakan yaitu Piala Sudirman (2005, 2007, 2009, 2011) dan Piala Thomas (2004, 2006, 2008, 2010) bersama tim bulu tangkis China.

Di level individu, Bao Chun Lai juga pernah menjadi juara di Kejuaraan Asia 2009, Kejuaraan Dunia Junior 2000, dan pernah memenangkan sejumlah gelar BWF Superseries serta Grand Prix. Prestasinya terhitung lumayan walaupun harus selalu berada di bawah bayang-bayang Lin Dan.


Bao Chun Lai dan Lin Dan

Sayangnya, Bao Chun Lai mengumumkan pensiun dini pada September 2011 karena cedera yang tak kunjung sembuh. Ketika itu, usianya baru menyentuh 28 tahun. Ia kemudian banting setir menjadi artis bermodal wajah tampan dan tubuhnya yang atletis.

Namun, di tahun 2025 tersiar kabar bahwa Bao Chun Lai mengaku telah kehilangan indera pendengarannya karena sebuah penyakit.

Lewat media sosial Weibo, Bao Chun Lai mengaku sudah menjadi seorang tunarungu selama 10 tahun. Semua berawal dari tinnitus, kondisi di mana telinga terus berdengung, yang dialami beberapa tahun sebelumnya.

Jika dihitung mundur, sepertinya saat dia beralih profesi menjadi seorang artis, dia sudah diam-diam menderita penurunan pendengaran namun Bao Chun Lai memilih untuk menyembunyikannya dan baru mengungkap fakta ini 10 tahun kemudian.


Sampai saat ini, Bao Chun Lai dikabarkan belum menikah. Meskipun dia dirumorkan pernah menjalin hubungan dengan seorang atlet renang China bernama Luo Xue Juan, namun kini sudah berakhir. Atlet renang tersebut kini sudah menikah dengan pria lain dan telah memiliki dua orang anak, sementara Bao Chun Lai dikabarkan masih betah sendiri. 

Bao Chun Lai, ada apa denganmu? Mengapa kesialan demi kesialan sepertinya terus menghantui hidupmu? Udah seumur hidup menjadi "Yang Kedua", pensiun beralih profesi pun tidak berjalan lancar, sekarang malah jadi tuli dan hidup tanpa pasangan. Harusnya kamu mandi kembang tujuh rupa untuk membuang sial!

Atau panggil Pendeta Taois, siapa tahu aja keberuntunganmu dicuri oleh seseorang, itu sebabnya kamu mengalami kesialan terus menerus hingga saat ini, ya seperti yang di drachin-drachin itu loh hehehe ^_^

Tapi seperti apa pun hidupmu saat ini, aku tetap salut dengan ketangguhan dan ketabahanmu dalam menjalani kerasnya hidup ini. Terima kasih karena tidak memilih mengakhiri hidupmu dan tetap kuat hingga detik ini. Terima kasih telah menemani masa-masa remajaku di layar kaca, walaupun sebagai penggemar, kadang aku merasakan kekecewaan ketika melihatmu gagal berdiri di puncak.


Jika aku sebagai penonton saja ikut merasa sedih dan kecewa, aku yakin kamu yang mengalaminya juga pasti merasakan kekecewaan berlipat ganda, jadi aku salut dengan semangatmu yang masih memilih berdiri tegak hingga sekarang. Tetap kuat, tetap hidup, tetap semangat walaupun harus selalu menjadi "Yang Kedua", walau harus menderita penyakit yang membuatmu kehilangan pendengaran, walau harus menghadapi kerasnya kehidupan sendirian.

Seperti kata Shin Hye Sung, "Untuk mereka yang selalu berada di urutan kedua. Untuk mereka yang selalu merasa hidup di bawah mereka yang pertama", tetaplah kuat seperti Bao Chun Lai karena aku yakin masih banyak orang di luar sana yang sangat menyayangi kalian.

Writen by: Liana Hwie.